4 Tips Dasar Manajemen Keuangan Bagi Para Pemuda

Bertebarannya akun-akun financial planner membukakan mata kita, bahwa perkara keuangan tak hanya soal pemasukan, tetapi juga pola pengaturannya. Apakah sudah terkelola dengan baik? Bagaimana menyesuaikannya dengan pengeluaran yang begitu menghimpit? Yuk mulai belajar melek keuangan.

4 Tips Dasar Manajemen Keuangan Bagi Para Pemuda
Ilustrasi mengatur keuangan. Sumber: Canva

Rasa-rasanya financial literacy semakin banyak digaungkan di masyarakat. Entah karena pandemi yang menunjukkan pentingnya pengelolaan keuangan atau awareness untuk stabilitas keuangan sudah mulai tumbuh, khususnya di kalangan muda. Hal ini menarik penasaran banyak orang, gimana sih caranya mengelola keuangan?

Sebagai orang yang juga sedang menghadapi fase Quarter Life Crisis, aku bisa mengerti bahwa banyak dari kita yang sedang di fase ini mengalami kebingungan dan ketakutan akan masa depan. Termasuk ketakutan soal kemampuan di bidang finansial. Karena itulah pengaturan keuangan harus jadi salah satu kemampuan yang kamu pelajari.

Saat ini banyak sekali akun financial planner bertebaran di media sosial yang menyarankan besaran persentase ini dan itu sebagai acuan kita dalam pengelolaan keuangan. Meskipun hal ini baik dan bisa ditiru, tapi masih ada beberapa kesulitan untuk penerapannya karena besaran pendapatan setiap orang berbeda, pun dengan pengeluarannya. Sebagai contoh, kamu yang bekerja dengan gaji yang cukup besar dan lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup tentu akan dengan mudah mengikuti arahan yang ada, apalagi jika tidak memiliki tanggungan seperti biaya untuk menanggung hidup orang tua, membiayai pendidikan adik, atau biaya lainnya yang menyangkut orang lain.

Ada juga yang pendapatannya hanya cukup untuk hidup sendiri dari hari kehari. Menyisihkan uang mungkin masih bisa dilakukan, namun tidak tentu jumlahnya. Jangankan menabung untuk tujuan tertentu, tak jarang penyisihan tersebut utamanya masih ditujukan untuk pengumpulan dana darurat. Mereka yang berada di fase ini setiap bulan hanya kebingungan ke mana perginya gaji yang selama ini didapatkan?

Di sisi lain, ada banyak dari kita yang menjadi sandwich generation. Generasi yang berjuang untuk menghidupi diri sendiri, keluarga inti, dan juga menanggung hidup orang tua. Terhimpit antara kepentingan banyak orang dan terjebak. Boro-boro memikirkan untuk mengatur keuangan, mencukupi kebutuhan hari per hari saja rasanya sulit.

Lalu, apakah tetap ada jalan untuk mengatur keuangan? Bisa kok! Yuk simak tips di bawah ini!

1. Mencatat Pendapatan dan Pengeluaran

Manajemen keuangan bisa dimulai dari hal paling sederhana yaitu mencatat. Iya, mencatat. Terkesan simple namun cukup membosankan sehingga tidak banyak orang sanggup untuk melakukannya secara konsisten. Padahal dengan mencatat keuangan, ada banyak sekali manfaat yang bisa kita lakukan seperti mengetahui sumber pendapatan, mengetahui kemana saja keluarnya uang selama ini, aspek apa saja yang mengambil porsi lebih banyak, hingga penentuan ke arah mana sisa uang selama ini akan diarahkan.

2. Membuat Anggaran Keuangan

Setelah kita berhasil pada proses mencatat, kita bisa menganalisis dan membuat anggaran keuangan kita. Dalam menerapkan anggaran, setiap orang memiliki porsi yang berbeda-beda. Mengkotak-kotakan dalam anggaran persentase rasanya belum tentu cocok untuk setiap orang. Oleh sebab itu, penting untuk mencatat dan mengklasifikasi pengeluaran, mengeliminasi dan meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu, dan kemudian menetapkan tujuan keuangan. Hal ini sebenarnya mudah asal kita bersedia untuk konsisten melakukan pencatatan dan terbit dalam penerapan anggaran yang telah dibuat.

3. Pasang Mindset Menabung Itu Mudah

Melalui anggaran yang telah kita buat sebelumnya, kita akan mampu untuk belajar sedikit demi sedikit menabung. Usahakan untuk menabung di awal bulan, atau diawal ketika mendapatkan penghasilan. Karena jika menabung menunggu sisa dari pengeluaran, maka akan sulit mengontrol keuangan kita dan mencapai tujuan keuangan.

Apakah kamu masih memiliki anggapan bahwa menabung itu itu sulit? Hal ini biasanya terjadi karena kurangnya kebiasaan untuk menabung sedari dini. Semakin diperparah sampai usia dewasa terutama apabila kita tidak memiliki tujuan yang jelas terkait arah keuangan kita. Jika kita tidak ingin hidup dalam kekhawatiran soal kekurangan dana di masa depan, sudah selayaknya kita mulai memikirkan pengelolaan keuangan sedari dini, sedari sekarang.

Perilaku menabung juga bisa diterapkan apabila kita mau untuk hidup lebih hemat dan menghilangkan sifat boros dan rakus. Berikutnya, hidup hemat akan lebih membawa kita pada tujuan keuangan yang lebih baik di masa mendatang. Seperti Sabda Rasulullah dalam sebuah hadist:

الْمُزْهِدُ الْمُجْهِدُ أَفْلَحَ قَدْ

“Sungguh beruntung orang yang tirakat (hidup hemat) dan mempersungguh (bekerja giat)” (HR. Ahmad)

4. Tetapkan Tujuan Keuangan

Menabung tanpa reward yang jelas kadang membuat kita malas dan justru menghabiskan tabungan untuk hal yang tidak berguna. Tabungan yang tadinya bertujuan untuk menyelamatkan di masa-masa darurat terkadang justru habis untuk hal-hal yang remeh dan konsumtif. Misalnya liburan berlebihan dengan alasan self reward, membeli barang-barang yang mahal dengan tanpa kegunaan yang jelas, hingga hal-hal konsumtif lainnya. Jika sudah begini, kebiasaan menabung perlahan akan mulai luntur dan kabur dengan sifat konsumtif yang berlebihan.

Maka penting bagi kita yang sudah memiliki tabungan untuk menetapkan tujuan keuangan. Paling mendasar adalah dana darurat, berikutnya bisa berupa anggaran hari tua, persiapan ibadah haji, membangun rumah, atau tujuan investasi lainnya. Tentu untuk mencapai level ini tidaklah mudah, namun masih mungkin kok untuk bisa dicapai. Intinya, konsisten atau istiqamah.

Soal pilihan investasi yang sebaiknya dilakukan, kamu bisa sedikit menambah pengetahuan dari rubrik ekonomi syariah INJO.ID. Eits, tapi ada level investasi yang jauh lebih penting daripada sekadar investasi keuangan, yaitu investasi leher keatas seperti membangun skill, memperkaya pengetahuan, dan hal positif lainnya yang bisa meningkatkan nilai jual dan kompetensi diri.

Juga yang paling penting dilakukan, yaitu investasi akhirat. Memperbanyak amal, menabung sebanyak mungkin di jalan Allah, Bersedekah, beramal sebanyak dan sesering mungkin di masa muda. Sebab Allah berfirman dalam Al-Baqarah:261

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”.

Terakhir, hal yang paling membekas dalam ingatanku ketika membahas perkara rejeki adalah mensyukuri sebanyak atau sesedikit apapun rejeki yang kita peroleh. Sebab Allah berfirman dalam Al-Quran:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S Ibrahim;7)

Dengan rasa syukur, hati kita akan selalu merasa cukup. Dengan rasa cukup lah kita sanggup menjalani hari lebih baik. Juga menghilangkan kekhawatiran yang biasanya menyerang pikiran kita. Apapun usaha yang kita lakukan, selalu libatkan Dia dalam setiap langkah kita. Semoga Allah melancarkan rejeki kita dan memenuhi semua kebutuhan kita. Aaamiiin.

Redaktur : Dyah Ayu N. Aisyiah