5 Tips Menghindari Rasa Insecure dan Overthinking Bermedia Sosial

Media sosial juga merupakan medium bebas, kita tak bisa sembarangan memarahi orang. Cara memfilternya begini saja, yang membuat unggahan tersebut menjadi positif atau negatif adalah hasil pikiran diri sendiri. Lalu rasa insecure dan overthinking ini datang karena apa?

5 Tips Menghindari Rasa Insecure dan Overthinking Bermedia Sosial
Ilustrasi media sosial. Sumber: freepik.com

Apa yang biasa kamu bagikan lewat media sosial?

Hmm.... pertanyaan yang begitu sederhana namun cukup bisa membuat introspeksi diri masing-masing nih! Tak usah jauh dari kata berguna bagi orang lain, cukup menggunakannya secara positif saja dulu. Mengingat arus informasi zaman kini yang tak mengenal batas, tampaknya kita harus bijak dalam menyikapi semua unggahan yang ada di medium ini. Selain tak bisa mengontrol siapa dan apa saja yang mereka unggah, kita selaku pengguna pun tak bisa menggeneralisasi antara dunia nyata dengan apa yang diunggah.

Betapa ragamnya unggahan yang terbentang di laman beranda. Ada yang "update kehidupan" tentang pencapaian pendidikan, mulai mendapat pekerjaan baru yang bagus, bisa ngopi di kedai yang estetik bersama teman, atau membagikan kehidupan yang begitu mewah. Bagaimana perasaanmu saat menemui bermacam unggahan tersebut? 

24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, waktu yang sangat intens bagi kita untuk membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain lewat dunia maya.

"Kok bisa orang lain beli gadget mahal?"

"Aku juga pengin ngopi di sana biar hits kayak orang-orang."

"Orang lain mudah banget mulai investasi, aku? Cari uang pun masih susah, gimana nabungnya?"

Atau, "anaknya Bu 'A' sudah punya mobil sendiri, anakku kapan bisa begini?"

Tidak mutlak seperti kalimat di atas, namun sebagian orang rasanya pernah melalui jenis perasaan tersebut. Bicara soal persepsi, sebetulnya hal itu bisa dilihat dari kacamata positif atau negatif. Positifnya, jika perasaan tersebut bisa membuatmu lebih semangat, bekerja keras, dan memberikan motivasi tentu sah-sah saja. Namun sebaliknya, jika hal tersebut malah bikin kamu jadi iri hati, insecure, dan overthinkingbagaimana jadinya?

Kategori sehat itu bisa dikatakan saat seseorang berpikir jernih, lalu akhirnya mencari jalan yang halal untuk mencapai keinginannya. Misalnya mencari pekerjaan atau belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan barang baru, modal investasi, beasiswa pendidikan, bahkan sekadar diskusi di luar bersama teman sepermainan. Maka selain mendapat manfaat dengan segala proses yang dilalui, bonusnya kita dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm : 39)

Berbeda jika tak bisa jernih menyikapi unggahan media sosial. Menjadikanmu meratapi nasib, tidak semangat menjalani hidup, atau mengurung diri tanpa usaha apa pun. Sehingga tak akan mengetahui lika-liku proses apalagi dapat bonusnya!

Ingatlah tak ada kata instan sama sekali! Nyatanya, sekalipun meminjam harta dalam mewujudkan keinginan sebagai pilihanmu, tetap saja ada perjuangan lain yang belum tuntas. Justru cara ini lebih menantang komitmen dan wajibnya berakad secara benar. Sebab segala urusan yang tak melibatkan Allah akan terasa hambar. Bisa jadi lelahmu tak menjadi ilmu, bisa jadi tak ada manfaat yang bisa diserap. Sebaliknya, ketenangan akan hadir jika segala sesuatu dikejar atas rida Allah.

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS At-Taubah : 72).

Begitulah besarnya pengaruh media sosial dapat mendistraksi pikiran dan perasaan seseorang, baik itu persepsi yang positif maupun negatif. Kehidupan sosial bisa menjadi sakit karena takut kalah, seolah media sosial standar kehidupannya. Dalam buku On Shortness of Life mengungkapkan, "manusia yang melewati batas akan terus-menerus dikejar kemiskinan, tak peduli seberapa kayanya dia." Lantas, jika hidup hanya untuk mengikuti opini orang lain, akankah kita merasa kaya?

Namun, hidup tak ada yang benar-benar sempurna. Mereka yang telah mengunggah tentang pekerjaan baru tidak akan memperlihatkan saat kena marah oleh atasan. Begitu pula dengan aspek kehidupan lainnya, tak akan ada yang senang jika kesedihan diketahui oleh banyak orang. Maka dari itu, jika media sosial terlihat sangat menggoda memperlihatkan kesempurnaan hidup seseorang, sangatlah wajar.

Kalau begitu, bagaimana cara menyikapi hingar-bingar dunia media sosial yang gemerlap agar terhindar dari rasa insecure dan overthinking?

Mari mengingat kembali! Kita tak bisa mengontrol apa yang orang lain unggah atau pamerkan. Maka seharusnya bukan menyalahkan orang lain saat diri ini merasa sesak karena insecure dan overthinking. Kuncinya hanya satu yang bisa kita kendalikan: pikiran atau persepsi diri sendiri. Rasul juga mengingatkan kita untuk senantiasa berdoa supaya dijauhkan dari segala perasaan buruk.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak pernah dikabulkan." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Media sosial juga merupakan medium bebas, kita tak bisa sembarangan memarahi orang. Cara memfilternya begini saja, yang membuat unggahan tersebut menjadi positif atau negatif adalah hasil pikiran diri sendiri. Lalu rasa insecure dan overthinking ini datang karena apa? Sebenarnya tidak perlu repot-repot belajar ilmu filsafat kaum Stoik untuk menurunkan emosi-emosi negatif dari dalam diri. Sebab Allah dan Rasul sebenarnya sudah menuntun hal itu dalam Al-Qur’an. Hayo dimaknai lagi toh kitabnya!

 وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ 

“.... tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Pertanyaan lain, mungkinkah diri ini kurang bersyukur? Saat orang lain mencapai sesuatu yang tinggi, namun kamu terlihat kecil. Jika dijadikan motivasi, itu tak apa. Kalau bikin insecure dan overthinking yang menggiring pada hal negatif, sadarkah bahwa diri telah memandang ragu qadar-nya Allah? Naudzubillahi min dzalik.

Sebab itu, saya senantiasa membagikan 5 tips positif agar tidak terjebak dalam ragam rasa negatif saat bermedia sosial spesial untuk teman INJO.ID nih!

1. Mengikuti Konten Positif dan Bermanfaat

Follow akun di media sosial yang punya nilai positif dan bermanfaat bagi kehidupanmu bisa jadi langkah awal menyelam di medium ini. Kalau kamu mempunyai kesulitan dalam mengontrol pikiran dan hati, konten positif ini senantiasa memberi vibes yang baik. Lebih bagus, jika akun tersebut bisa membuatmu lebih bersyukur akan nikmat Allah yang telah kamu miliki. Dalam berteman saja, islam menganjurkan kita untuk berteman dengan orang-orang baik dan saleh, apalagi media sosial yang sifatnya bebas ini. Kamu harus lebih pintar lagi dalam memfilternya ya!

2. Self Acceptance

Pada dasarnya Allah menciptakan manusia beragam karakter, suku bangsa, dan bahasa. Kekurangan dan kelebihan pun tak luput dari mereka. Namun, manusia adalah sebaik-baiknya makhluk sempurna. Maka berbahagialah kamu dan jangan beriri hati.

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin : 4).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Hujurat: 13).

Jika kamu sudah paham akan hal tersebut, self acceptance bisa kamu terapkan. Definisinya, hal itu merupakan sikap positif yang ditanamkan individu sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Hal ini juga sama dengan bersyukurnya kita terhadap Allah. Self acceptance ini harus disertai dengan kecerdasan emosi yang tinggi. Maka kita harus kenalan sama diri sendiri dulu nih! Sudah tahu belum apa hobi dan minatmu? Sudahkah memahami kelebihan dan kekuranganmu? Saat tahu jawabannya, kamu akan bisa lebih percaya diri!

3. Stop Membandingkan Diri

Menurut Paul Watzlawick dalam buku The Art of Not Making Yourself Miserable menyebutkan, bahwa membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan mengintip kehidupan orang lain adalah cara termudah untuk menyengsarakan diri sendiri. Sikap ini sangat melelahkan fisik dan mental, sebab adanya rasa tak nyaman dengan pencapaian orang lain. Huh!

Standar setiap orang tentu berbeda. Bukan berarti jika tidak mencapai standar itu, kita adalah manusia yang gagal. Namun harga diri manusia tak bisa dibandingkan dengan deretan angka rupiah di dalam rekening tabungan. Tidak juga ditentukan nilai IPK, TOEFL, jumlah kendaraan, atau harga gadget. Apalagi seberapa sering kamu hura-hura di luar sana, lalu dipamerkan di media sosial.

Kim Suhyun dalam bukunya Hidup Apa Adanya mengatakan bahwa IQ tidak bisa mengukur sifat bijak seseorang. Kuantitas teman yang dimiliki tidak menentukan seberapa gaul atau seberapa intim perasaan yang terhubung. Besaran luas rumah yang terbentang tak jadi ukuran kebahagiaan keluarga pemiliknya. Dalam islam, sikap hasad telah dilarang kecuali terhadap dua jenis orang di dunia ini, apa sajakah itu?

عَن ابنِ عُمَرَ رَضي اللٌهُ عَنهاَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهِ وَ سَلٌم لآحَسَدَ ألآ فيِ اثنَتَينِ رَجُلُ اتَاهُ اللٌهُ القُرانَ فَهُو يَقُومُ بِه انَأءَ اللًيلِ وَانَأءَ النَهَارِ وَرَجُلُ اعطَاهُ مَالآ فَهُوَ يُنفق مِنهُ انَأءَ الٌلَيِل وَانَأءَ النٌهَارِ.(رواه البخارى ومسلم والترمذى والنسائى وأبن ماجه).

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhu, berkata bahwa Rasulullah SAW Bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Alquran). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i).

4. Berlatih Mindfullness

Mindfullness (kesadaran penuh) adalah keadaan pikiran yang berfokus pada pengenalan tentang apa yang dirasakan saat ini tanpa melalui penilaian. Setelah menggiring perhatian pada kejadian sekarang, maka dilanjut mengenali segala pikiran, emosi, dan perasaan fisik untuk menerima. Dengan kata lain, focus in the present! Tidak didistraksi lagi rasa insecure dengan segala penyesalannya di masa lalu, dan tak ada overthinking yang khawatir pada ketidakpastian di masa depan. 

Sebenarnya banyak proses otak manusia yang tidak diperhatikan dan dipikirkan secara sadar. Maka mindfullness dapat membawa diri pada pengalaman indrawi, seperti mendengarkan suara-suara atau mengatur pernapasan. Ingat! Ketenangan dibutuhkan bagi tubuh, sementara manusia yang menciptakannya.

5. Menjadi Sederhana dan Bijak

"Semakin tinggi ilmu, maka semakin sederhana gaya hidupnya", itulah tweet menyentuh versiku yang aku temukan beberapa bulan lalu.

Ada pun ‘Ali bin Tsâbit rahimahullah berkata:

اْلعَقْــــــلُ آفَـتُهُ الْإِعْجَابُ وَالْغَضَــبُ وَالْمَالُ آفَـتُهُ التَّــبْذِيْرُ وَالنَّــهْبُ

250/ 7 التمهيد لابن عبد البر

"Kelemahan akal itu bangga diri dan emosi,

Dan penyakit harta itu pemborosan dan perampokan."

Berdasarkan sabda di atas, dalam islam telah ditekankan bahwa berbangga diri dan emosi bukanlah sesuatu yang baik. Seseorang sering keliru dengan pemahamannya sendiri, bahwa kelebihan yang ia miliki adalah sesuatu yang pantas dipamerkan dan membuktikan bahwa dirinya layak melakukan apa pun yang ia mau. Padahal sikap itu hanya ada bagi orang yang lemah dan tak berilmu. Juga, seseorang yang menghamburkan harta selain ber-infaq, adalah serugi-ruginya manusia. Mengetahui ini, tak ada lagi alasan untuk menyombongkan diri bukan?

Tak lupa juga bersikap bijak! Yakni memilih untuk memiliki persepsi positif, baik menyikapi unggahan orang lain maupun menggunakan akun sendiri. Berteman dan berbagi sewajarnya saja. Tak perlu mempertontonkan segala aktivitas seolah media sosial adalah panggungnya. Tak usah juga berkomentar secara berlebihan pada unggahan orang lain ya!

Kelima poin ini bisa dijadikan alternatif untuk menciptakan pikiran dan perasaan yang sehat. Keluar dari lingkaran insecure dan overthinking adalah bentuk rasa sayang terhadap diri sendiri. Sekaligus lebih mudah bersyukur dan ber-husnudzon kepada Allah. Mulailah mengurangi respon terhadap apa pun yang berada di luar ranah kendali. Sebab konsep bahagia berada di dalam persepsi sendiri, bukan digantungkan pada sesuatu di luar diri.

Jadi, sudah siap membangun pribadi yang positif dan menjadi sederhana?

Redaktur: Prita K. Pribadi