76 Tahun Merdeka, Kewalahan Syukur Bisa Memeluk Agama Islam di Indonesia

Mengapa kita harus bersyukur? Tentu banyak alasannya. Agar tidak lupa terhadap nikmat, agar nikmat yang kita dapat bisa terus melekat, agar nikmat bertambah, dan agar kita terhindar dari kesusahan. Perasaan syukur yang kita tanamkan, akan disenangi Allah dan Ia berkenan memberikan rida sehingga kenikmatan berupa rasa aman dan nyaman dalam beribadah di Indonesia ini bisa terus kita rasakan hingga detik ini.

76 Tahun Merdeka, Kewalahan Syukur Bisa Memeluk Agama Islam di Indonesia
Dirgahayu Republik Indonesia. Sumber: Canva

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Itulah rangkaian kata yang menjadi penanda bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Setelah bertahun-tahun hidup dalam belenggu penjajah, bangsa Indonesia berhasil mencatat sejarah. Tentu semua itu tak terlepas dari pertolongan Allah dan jasa para pendiri bangsa. Mereka yang melakukan berbagai gelombang aksi, hingga akhirnya bisa mengumandangkan proklamasi.

Berkat itu pula bangsa Indonesia bisa bersatu meski terdiri dari berbagai agama, ras, dan suku. Keberagaman tersebut menjadi keelokan tersendiri dengan hadirnya Pancasila sebagai dasar negara. Imbasnya, masyarakat Indonesia bisa menjalankan hak asasi yang esensial yakni memeluk agama sesuai dengan keyakinannya.

Di Indonesia terdapat 6 (enam) agama yang telah diakui oleh pemerintah. Sebagaimana tertuang dalam Penjelasan Atas Penetapan Presiden No. 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama Pasal 1, bahwa ragam agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia adalah Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu (Konfusius). Meskipun Islam menjadi agama mayoritas, namun agama lain tetap dapat menjalankan praktik ibadah mereka dengan bebas.

Pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 ini, Allah telah memberikan anugerah kemerdekaan yang panjang umurnya. Sadar atau tidak, nikmat ini membawa dampak bahagia tiada tara bagi pemeluk agama. Khususnya kita umat Islam yang tinggal di Indonesia. Alangkah indahnya punya banyak saudara sesama Islam, yang lebih penting, kemerdekaan negara ini menjadi buntut merdekanya kita bisa menjalankan ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasul tanpa gangguan. Subhanallah…. Alhamdulillah….

Meski tak semua syariat Islam ditegakkan dalam hukum Indonesia semisal hukum ranjam, sebab mengacu pada peratuan undang-undang. Namun ketentraman ibadah ini patut disyukuri setiap harinya.

Mengapa kita harus bersyukur? Tentu banyak alasannya. Agar tidak lupa terhadap nikmat, agar nikmat yang kita dapat bisa terus melekat, agar nikmat bertambah, dan agar kita terhindar dari kesusahan. Perasaan syukur yang kita tanamkan, akan disenangi Allah dan Ia berkenan memberikan rida sehingga kenikmatan berupa rasa aman dan nyaman dalam beribadah di Indonesia ini bisa terus kita rasakan hingga detik ini.

Secara garis besar, praktik bersyukur ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu melalui ucapan dan perbuatan. Bagaimana penerapannya? Mari kita simak!

1. Bersyukur Melalui Ucapan

Secara lisan, tak ada ungkapan syukur yang lebih indah selain melafazkan kalimat hamdalah.

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah : 2, dengan menganggap bahwa lafaz basmalah adalah ayat pertama).

Tak heran jika lafaz hamdalah ini kerap menjadi kalimat yang diingatkan oleh para pengisi suatu acara baik formal maupun nonformal terutama yang mengandung unsur keislaman. Lafaz hamdalah ini juga menjadi kalimat yang tak pernah luput dari lisan ketika berdoa. Pasalnya Rasulullah SAW pun menyebutkan bahwa lafaz hamdalah ini merupakan bentuk doa yang paling utama. Dalam tafsir Ibnu Katsir, Jabir bin Abdullah telah menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Zikir yang paling utama adalah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’, dan doa yang paling utama adalah ‘Segala puji bagi Allah’.”

2. Bersyukur Melalui Perbuatan

Memaksimalkan setiap nikmat yang kita miliki untuk lebih giat dan bersemangat dalam beribadah merupakan hal yang tak bisa lepas sebagai bentuk syukur. Sebab tujuan utama kehadiran manusia di dunia ini tak lain hanya untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana  firman-Nya dalam surat Az-Zariyat.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56).

Seperti yang telah disebutkan, nikmat beribadah dengan aman dan nyaman jangan pernah kita sia-siakan. Kalau kita sedikit melirik pada saudara muslim di Jalur Gaza, Palestina, apa yang ada di benakmu? Negara Islam di dunia itu harus rela menjalankan ibadah yang tidak sama nikmatnya dengan kita. Nyatanya, banyak warga sipil di Gaza yang menjadi korban akibat perseteruan antara pasukan tentara Israel dengan demonstran Palestina.

Warga sipil di Gaza melaksanakan salat Idulfitri dengan latar belakang reruntuhan bangunan. Sumber: bbc.com

Sebagai contoh, mari kembali pada masa menjelang Idulfitri beberapa waktu lalu. Betapa sedihnya kita menyaksikan mereka yang ibadahnya diganggu. Lewat senjata dan tangan kasarnya Israel, tahan banting warga Palestina membela agama Islam sampai menangis dan berdarah. Hingga melaksanakan salat Idulfitri di tengah reruntuhan bangunan akibat serangan ganas. Membayangkannya saja sudah merasa perih. Bagaimana tidak? Menunaikan ibadah saja belum bisa merdeka. Seringkali mereka diselimuti rasa takut, sebab ancaman sewaktu-waktu datang tanpa pemberitahuan.

Lalu apa kabar kita yang masih diberi kesempatan untuk beribadah dengan mudah, namun justru masih sering lalai? Jangankan ancaman serangan yang berisi hujan tembakan, hujan berupa air saja terkadang sudah menjadi alasan untuk tidak menghadiri pengajian. Ndilalah-nya sekarang banyak pengajian yang diadakan secara online hingga kita bisa mengikutinya dari rumah. Masya Allah, betapa besar karunia Allah kepada umat Islam di Indonesia, semua telah Allah permudah agar kita bisa beribadah.

Soal menyoal perayaan kemerdekaan yang biasanya punya banyak lomba dan acara⎯walaupun diserang wabah penyakit, alhamdulillah kita masih dikaruniai rasa betah tanpa rasa sesal berada di tanah negeri ini. Sebab jika kita melihat kasus yang menimpa saudara kita di Afghanistan, rasa khawatir sedang membelenggu mereka sampai ketakutan dan tidak merasa betah. Betapa sedihnya melihat mereka berebut naik pesawat untuk meninggalkan negara sendiri. Astagfirullah aladzim....

Warga di Afghanistan mencoba kabur dari negaranya sendiri sebab ketakutan dengan pemberontakan Taliban yang menduduki ibu kota. Sumber: liputan6.com

Sebagai ganti perayaannya, kita masih bisa mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah. Atau membersihkan lingkungan dan menghiasnya dengan nuansa kemerdekaan jika memungkinkan. Bentuk cinta dan syukur lainnya, kita bisa mengikuti acara seremonial dari rumah lewat siaran televisi nasional atau berbagai platform. Sesederhana itulah yang bisa dilakukan seorang muslim yang memiliki jiwa nasionalisme dan rasa syukur yang tinggi. 

Kalau begitu, ternyata enak bukan tinggal di Indonesia? Meski tak seindah Mekah, namun tetap menjadi tempat yang ramah untuk beribadah. Meski rakyat dan wakilnya kurang akur, namun masih banyak alasan lain yang membuat kita kewalahan syukur.

Jadi, pol-polnya enggak nemu alasan bersyukur di jalan utama, toh masih banyak jalur alternatif yang bisa dicoba meski harus masuk gang-gang kecil di pemukiman warga. Intinya jangan pernah bosan untuk bersyukur dan selalu berusaha menemukan jalannya syukur.

Sebagai penutup, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjadikan Indonesia sebagai negeri yang aman dan nyaman untuk menunaikan kewajiban. Begitu pula umat muslim di negara mana pun yang berharap demikian.

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا

“Ya Tuhanku! Jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman.” Aamiiin.

 Akhir kata, Dirgahayu Indonesia!

Redaktur: Prita K. Pribadi