Lebih Baik Sedih tapi Diri Terjaga, Daripada Bahagia di Hubungan Penuh Dosa

Mengikuti seluruh nafsu juga gak jadi jaminan dia bakal terus sama kamu loh! Apalagi nikahin dan gak ninggalin kamu. Justru, kemungkinan pergi menjauh akan lebih besar. Sebab akan ada waktu seseorang menyadari perjalanan hidupnya, termasuk kisah cinta. Merasa hubungan yang sedang dijalani sudah jauh dari ridho-Nya.

Lebih Baik Sedih tapi Diri Terjaga, Daripada Bahagia di Hubungan Penuh Dosa
Ilustrasi seseorang yang menyesali perbuatannya. Sumber : Canva

Pergeseran tradisi hubungan lawan jenis saat ini sudah sangat gila-gilaan. Dulu, untuk jalan berdua saja malu rasanya. Khawatir ketahuan dan menjadi gunjingan orang-orang terdekat. Sistem ‘ngapel’ pun dulu hanya sebatas datang ke rumah, ngobrol di depan teras dan ditunggui orang tua. Namun dewasa ini? Jangankan jalan berdua, boncengan, semobil berdua, bahkan sekamar berdua pun bukan lagi menjadi hal yang tabu.

Aku teringat pada buku non fiksi yang pernah aku baca, katanya─caramu mencintai sesuatu atau seseorang mencerminkan tingkat kedewasaan dan kualitas hidupmu. Jika kamu hanya menganut cinta yang erotis dan romantis, tingkat kedewasan dianggap masih rendah. Berbeda bila kamu telah mencapai jenis cinta religius, dimana artinya (menurut penulisnya) “Dibutuhkan juang yang panjang dalam proses ‘kemenjadian’ manusia.” Maksudnya, melakukan segala sesuatu selalu atas dasar kehendak Allah. Maka cintailah Allah segenap hati, maka kamu tak akan tersesat pada urusan cinta yang fana ini.

Sama halnya kisah cinta religius tadi, jika kamu punya prinsip agama pun tak perlu sama sekali dirobohkan hanya karena sayang dan cinta. Mengikuti seluruh nafsu juga gak jadi jaminan dia bakal terus sama kamu loh! Apalagi nikahin dan gak ninggalin kamu. Justru, kemungkinan pergi menjauh akan lebih besar. Sebab akan ada waktu seseorang menyadari perjalanan hidupnya, termasuk kisah cinta. Merasa hubungan yang sedang dijalani sudah jauh dari ridho-Nya.

Selalu ada hati yang berat ketika melepaskan atau kehilangan orang yang disayang. Apalagi jika sudah melihat banyak poin dalam dirinya yang berpotensi menimbulkan penyesalan atau kesedihan. Seperti, “padahal dia ganteng/ cantik”, “dia tuh pinter”, atau bagaimana dengan alasan “dia sudah mapan, punya rumah, kerjaan oke”. Hmmm terdengar seperti dimanipulasi lewat rasa tidak puasnya, hehe.

Namun, ingatlah! Menghargai prinsipmu adalah penyesalan dan kesedihan sesaat yang akan kamu syukuri suatu hari nanti wahai kawan! Ketika kamu berhasil melewati masa-masa sulit itu, kamu akhirnya bertemu dengan seseorang yang mencintaimu utuh. Tanpa harus merobohkan prinsip-prinsipmu, maka akan sangat mudah hatimu bersyukur. "Alhamdulillah ya Allah, masih bisa nahan nafsu", "alhamdulillah masih bisa menjaga apa yang seharusnya dijaga".

Sebab Allah memerintahkan Nabi-Nya dan juga orang-orang beriman untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. “Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya, mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang sebaliknya, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Ma’arij [70] : 29-31).

Ketahuilah, nafsu yang dituruti tanpa ikatan pernikahan itu iming-iming dan jebakan setan. Senyaman apapun kamu menjalankan kesalahan itu, kamu yang paham ilmu agama dan ganjarannya akan sampai pada titik, "wah.. ini sih sudah gak benar".  Mencapai perasaan seperti itu, gak sedikit orang yang akhirnya saling melepaskan dengan alasan klasik, "aku takut ini gak barokah". Kalo sudah begini siapa yang sedih? Ya dua-duanya.

Menyesal jadi ujung kisah cinta yang tidak melibatkan Allah. Pihak keduanya, bisa jadi menganggap selama ini telah "memperalat" seseorang, dan merobohkan prinsip-prinsip hidup dan agama hanya untuk kesenangan sesaat.

Tak apa jika kamu bersedih sebentar. Itulah cara Allah menunjukkan begitu sayangnya Ia padamu. Menjauhkan dari golongan orang-orang tercela dan tidak bisa menjaga farjinya. Rasa syukur senantiasa kamu ucapkan, bukan lagi terus menerus memelihara penyesalan dan menyalahkan Allah dengan butir-butir pertanyaan terkait nasib perpisahanmu.

Pada akhir tulisan ini, aku pengin sedikit memberi quote penutup: Tidak ada cinta yang benar ditempuh dengan cara yang salah! Kamu hanya perlu bersyukur dijauhkan dengannya yang tidak menghargai prinsipmu. Sebab, kehilangannya kamu masih bisa cari yang lain, namun kehilangan Allah, kamu bisa apa?

Redaktur: Prita K. Pribadi