Adab Minta Maaf yang Tergerus oleh Kata 'Baper'

Kita semua sadar bahwa yang namanya perasaan tersinggung itu tidak bisa dipukul rata. Setiap orang punya titik ketersinggungan yang berbeda–beda dan kita tidak  pernah tahu secara jelas pastinya. Hal yang tidak menyinggung bagi kita, bisa jadi ternyata sangat menyinggung bagi orang lain.

Adab Minta Maaf yang Tergerus oleh Kata 'Baper'
Ilustrasi orang tersinggung. Sumber: pixabay.com

“Haalahh…baru gitu aja baper, padahal aku kan cuma bercanda.”

Pernahkah kalian melihat, mendengar, atau bahkan mengatakan kalimat di atas? Rasa-rasanya, kalimat tersebut cukup sering kita jumpai berseliweran di dunia nyata maupun dunia maya. Baper, yang pada awalnya diartikan sebagai keadaan seseorang yang galau atau bimbang karena perasaannya, kini telah beralih makna. 

Kalimat "jangan baper" biasanya digunakan sebagai tameng setelah mengucapkan ujaran yang bernada negatif. Menganggap lawan bicara tidak bisa diajak bercanda jika tersinggung dengan ucapan negatif itu, ngga asyik. Oleh karena itu banyak orang yang merasa tidak bersalah ketika menyampaikan hal negatif, malah kesalahan akan dilempar kepada subjek sasaran jika tidak bisa menerima.

ilustrasi penggunaan kata baper. Sumber: hipwee.com

ilustrasi penggunaan kata baper. Sumber: hipwee.com

Maka sungguh tak mengherankan bukan jika Indonesia ‘dinobatkan’ sebagai netizen paling tidak sopan di Asia Tenggara? Saat orang-orang menulis komentar atau berbicara seenak mereka, apakah mereka sempat berpikir bahwa komentar atau perkataan mereka itu berisiko menyinggung atau tidak?

Kemudian muncul juga adanya anggapan bahwa orang-orang baperan itu sangat sensitif, mudah tersinggung. Padahal, baper itu manusiawi bukan? Karena memang umumnya manusia diberkahi dengan perasaan yang memberi warna dalam hidupnya. 

Apakah orang yang baperan itu sama dengan orang yang mudah sensitif? Dalam dunia psikologi dikenal istilah Highly Sensitive Person (HSP). Setelah saya baca-baca dari satupersen.net mengenai HSP ini, saya menemukan kesimpulan “Bahwasanya baper dan sensitif itu adalah dua hal yang berbeda. Sensitif sendiri ialah bentuk respons seseorang terhadap stimulus tertentu, berupa sensasi yang berpengaruh terhadap panca indera, pengaruh eksternal dan emosional. Sementara, baper itu sendiri adalah sebuah asumsi terhadap orang orang yang reaktif secara emosional.”

Dari penjelasan di atas, saya menangkap bahwasanya kata baperan hanyalah sebuah bentuk judgement pada orang-orang yang tersinggung atas suatu perkataan. Juga untuk menyangkal kesalahan yang diperbuat. Seolah-olah kata ini digunakan karena enggan untuk meminta maaf. Alih-alih meminta maaf, mereka malah menyalahkan orang yang tersinggung dengan sebutan 'baperan', padahal perkataan itu memang meyinggung mereka.

Kita semua sadar bahwa yang namanya perasaan tersinggung itu tidak bisa dipukul rata. Setiap orang punya titik ketersinggungan yang berbeda–beda dan kita tidak  pernah tahu secara jelas pastinya. Hal yang tidak menyinggung bagi kita, bisa jadi ternyata sangat menyinggung bagi orang lain. Salah satu contohnya adalah saat kita sedang membahas dan bercanda tentang virus corona, mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan hal itu, mereka masih bisa berdamai dengan hal itu. Tapi ada juga sebagian orang yang belum bisa berdamai atau menerima candaan itu dengan alasan dia punya pengalaman buruk dengan virus corona dan berbagai alasan lainnya.

Hal yang saya garis bawahi dari permasalahan ini ialah orang makin jarang meminta maaf, mereka lebih sering menggunakan kata baper untuk menyangkal suatu kesalahan berbicara atau perbuatan. Minta maaf ini adalah perbuatan yang cukup sulit dilakukan oleh sebagian orang karena alasan gengsi. Padahal dengan meminta maaf banyak sekali manfaat yang didapat, seperti bisa menjaga hubungan silaturahim, membuat orang merasa nyaman, dan kita menjadi pribadi yang lebih baik karena bisa menyadari kesalahan kita.

Pentingnya meminta maaf, berikut ancamannya jika kita tidak melakukannya tertuang di hadis berikut,

مَن كَانَتْ له مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ مِن عِرْضِهِ أَوْ شيءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ منه اليَومَ، قَبْلَ أَنْ لا يَكونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كانَ له عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ منه بقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ، وإنْ لَمْ تَكُنْ له حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عليه

"Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan ataupun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari (kiamat) di mana tidak berguna lagi dinar dan dirham. Jika dia tidak melakukan, maka pada hari kiamat nanti bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil untuk diserahkan kepada orang yang pernah ia zalimi, sebanyak kezaliman yang ia lakukan. Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia zalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya." (H.R. Bukhari)

Jelas sekali dalam riwayat hadits itu meminta maaf yang begitu penting dilakukan. Jika tidak, memangnya kamu mau kalau perkara kamu di dunia diperkarakan di akhirat? Walaupun meminta maaf itu mungkin cukup berat, kita sebagai manusia yang beradab tetap harus melakukannya dalam kehidupan bersosialisasi. Jangan malah menepis atau tidak mengakui kesalahan kita, dengan entengnya melarang baper (tersinggung) kepada seseorang yang dituju.

Kesimpulannya adalah kita boleh saja menggunakan kata “baper” ini dalam konteks bercanda dan di waktu/tempat yang tepat. Jangan sampai ketika kita melakukan kesalahan yang serius dalam perkataan atau perbuatan, yang berdampak menyinggung perasaan seseorang kita malah memanfaatkan kata baper untuk 'melarang' tersinggung lawan bicara kita. 

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah