Antara Budaya dan Aturan, Dilema Penggunaan Toa di Masjid Jadi Perdebatan

Lebih dari itu, sebenarnya larangan bising berlebihan di masjid bisa menjadi suatu kehormatan sendiri bagi kaum islam. Tertib dan teratur juga akan mengagungkan tempat ibadah itu sendiri. Budaya membangunkan sahur ramai-ramai ada baiknya disepakati oleh warga setempat secara menyeluruh agar tak terjadi lagi ketidaknyamanan apalagi berdebat tentang agama.

Antara Budaya dan Aturan, Dilema Penggunaan Toa di Masjid Jadi Perdebatan
Toa di masjid menjadi perdebatan dalam penggunaan membangunkan sahur setelah muncul unggahan viral dari aktris, Zaskia Adya Mecca lewat akun Instagram pribadinya. Sumber: tirto.id

Belakangan ini masyarakat Indonesia diramaikan dengan unggahan di Instagram dari aktris terkenal, Zaskia Adya Mecca. Berupa video, terdengar suara lelaki yang menyerukan sahur dengan nada panjang dan terdengar berteriak untuk membangunkan masyarakat setempat.

"Bapak-bapak, ibu-ibu, adek-adek, dan warga sekitar..... yang menjalankan ibadah puasa, waktunya sahurrrrryah! Sahurrr sahurrr sahuurrrrrr!! Yang belum masak, silakan masak. Yang malas masak, bungkus aja. Sahurrrr, sahurrrr, sahuurrrr, lontong sayurr," begitulah kurang lebih seru lelaki itu.

Pada keterangan videonya, Zaskia mempertanyakan tidakkah membangunkan sahur dengan metode yang katanya lagi hits ini teramat mengganggu warga sekitar? Terlebih masyarakatnya pun punya agama yang berbeda-beda. Ia juga merasa asing dengan seruan tersebut, tidak etis pula dinilai olehnya. Akhir kalimat, secara terang-terangan Zaskia mengajak warganet berdiskusi, “Buat kamu gimana? Apa aku yang telalu serius?,” kata aktris yang akrab dipanggil Bia.

Hal ini langsung memancing pro-kontra warganet, ada yang menanggapi suara itu tidak sopan, ada pula yang menanggapinya dikaitkan dengan budaya setempat karena setiap daerah punya ciri khas masing-masing dalam membangunkan sahur.

“Sama sih Bia, aku juga rindu ‘kesopanan’ yang aku berharapnya terus ada di karakter Indonesia,” kata akun bernama suc*****as.

“Lebay ah.. Seru yang ada, toh cuma ramadhan aja, gak tiap hari dalam setahun,” tambah shanyar*****dy

Hmmm, sejatinya kita sebagai warga negara haruslah punya budi luhur. Menaati aturan beragama dan bernegara bisa menjadi patokan dalam keseharian. Kasus tersebut sebenarnya terbilang sederhana. Maksudnya, hal itu lebih menyadarkanku tentang pentingnya etika dari segi kehidupan sekecil apa pun. Maka dari itu budi luhur dinilai punya peran penting pada implementasi bermasyarakat dan aktivitas sehari-hari.

Sama halnya penggunaan pengeras suara ini. Namanya saja sudah jelas banget loh “pengeras suara”. Tanpa teriak pun, mic sudah punya fungsi yang teramat canggih. Ditambah membaca ringkasan aturan pemerintah melalui kompas.com, ada hal yang aku tekankan: “Pengeras suara hendaknya digunakan oleh orang (muadzin, pembaca Qur’an, imam salat, dan lain-lain) yang mempunyai suara fasih, merdu, enak, tidak cemplang, sumbang atau terlalu kecil.” “Ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh dari pada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.”

Aku menanggapi bahwa akar dan awal protesnya Zaskia ini, adalah tentang penyampaian lelaki itu. Tapi masalahnya malah merembet pada penggunaan toa di masjid. Jadi, apakah membangunkan sahur dengan cara “menghibur” menggunakan toa masjid adalah hal yang tepat? Mari kita berbalik melirik sejarah dan kisah negara di dunia tentang penggunaan toa.

Pada zaman nabi, suara azan adalah satu-satunya lantunan yang nadanya boleh ditinggikan agar bisa menjadi pengingat warga untuk menjalankan salat. Malahan, zaman dulu kan gak ada tuh yang namanya mikrofon dan toa. Gak ada kewajiban lain selain azan untuk menyerukan sesuatu dengan lantang. Sedangkan di negara lain seperti Arab Saudi, Mesir, dan Malaysia telah melarang sebagian aktivitas penggunaan pengeras suara ini. Di Arab Saudi, melarang pengunaan mikrofon dan toa di masjid kecuali azan, salat Jum’at, salat Idul Fitri dan Idul Adha, serta salat minta hujan. Mesir, telah melarang tarawih dan ceramah untuk dikeraskan suaranya ke luar masjid. Di Penang, Perlis, dan Selangor sebagai negara bagian Malaysia, pengeras suara boleh digunakan saat azan dan membaca ayat Al-Qur’an saja. Kesimpulan dari semua negara itu bertujuan sama; yakni agar tidak mengganggu ibadah karena pengeras suara yang saling tumpang tindih. Mereka menilai larangan ini sudah sangat sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Tentu pada zaman nabi tak ada juga yang namanya membangunkan sahur pakai drum dan alat semacamnya. Hanya azan yang menjadi andalan termasuk membangunkan sahur, terdiri dari: azan awal (sebelum terbit fajar shodiq oleh Bilal bin Rabah), dan azan subuh (setelah terbit fajar oleh sahabat Abdullah bin Ummi Maktum).

إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ لِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ وَيُرْجِعَ قَائِمَكُمْ

“Sesungguhnya Bilal melakukan azan di malam hari (sebelum subuh), untuk membangunkan orang yang tidur diantara kalian dan orang yang tahajud bisa kembali istirahat (untuk persiapan subuh).” (HR. Nasai, 2170)

 “إن بلالا يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم”

“Sesungguhnya Bilal melakukan azan di malam hari (sebelum subuh). Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum azan.” (HR. Muslim 1092).

Dari hadis di atas, jelas bahwa azan jadi peran utama. Tanpa alat musik atau pemanfaatan barang bekas, apalagi teriak sebagai penyeru sahur.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara yang punya banyak suku ini menimbulkan perbedaan budaya di setiap sudut tempat. Apalagi jika kita temui perkampungan yang masih terbatas aktivitasnya, sehingga suara ramai pun bisa menjadi hiburan dan merangsang semangat. Perkembangan zaman dan budaya ini tak bisa dihindari sehingga diterima oleh manusia yang dinamis ini. Kasus Zaskia, bisa jadi faktor lingkungan perkotaanlah yang menyebabkan kedambaan situasi sunyi sebab waktu mereka telah disita oleh lelahnya bekerja. Sehingga muncullah penilaian aneh dan tidak sopan saat mendengar suara bising dari tempat sesuci masjid. Kalau budaya bisa diwajarkan, kenapa protesnya Zaskia tidak?

Lebih dari itu, sebenarnya larangan bising berlebihan di masjid bisa menjadi suatu kehormatan sendiri bagi kaum islam. Tertib dan teratur juga akan mengagungkan tempat ibadah itu sendiri. Budaya membangunkan sahur ramai-ramai ada baiknya disepakati oleh warga setempat secara menyeluruh agar tak terjadi lagi ketidaknyamanan apalagi berdebat tentang agama. Untung yang protes pun artis terkenal. Gimana kalau orang biasa sepertiku ini protes di media sosial? Mungkin sudah dihujat habis-habisan atau malah dipenjara karena penistaan agama? Hmmm, hehe. Lewat kasus ini, lebih jauh lagi mengingatkan kita semua bahwa jangan mudah mengatasnamakan agama sebagai landasan kegiatan yang bahkan bukan merupakan sunah Rasul. Mengingatkan kebaikan ayo saja, tapi tetap mengindahkan kenyamanan bersama sebagai masyarakat yang beradab.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah