Apa Makna Cantik Menurutmu?

Setiap aspek kecantikan terus saja diperdebatkan. Bahkan perkara rambut lurus atau keriting pun kerap dipermasalahkan. Ah, semuanya terasa tak ada yang paripurna betulan. Menunjukkan bahwa definisi cantik sebenarnya masih perlu dipertanyakan. Apakah benar kecantikan hanya bisa didefinisikan sebagai kata benda saja? Tak bisakah kecantikan diperluas menjadi kata kerja?

Apa Makna Cantik Menurutmu?
Ilustrasi Perempuan yang sedang berdoa. Sumber: pinterest

“Wah sekarang kamu makin langsing, bakal cepet nih dapat jodohnya”

“Muka kamu jerawatan gitu, gak pernah dibersihin ya?”

“Lagi pandemi harus sering berjemur, tapi jangan sampai item ya nanti jelek.”

Kalimat-kalimat itu acap kali terlontar tanpa nada namun rasa sakitnya menusuk hingga ke dada. Menyedihkannya, bahkan tak jarang ucapan ini tersuarakan dari sesama wanita. Versi kalimatnya bisa berbeda tergantung subjeknya. Hal ini terjadi karena masyarakat terus saja menyeruak mencari cela untuk mengarahkan pada definisi kecantikan yang sejatinya tidak pernah ada kata sempurnanya. Jika kita bicara kecantikan sebagai kata benda, aset bawaan lahir ini tentunya berbeda dengan manusia satu dan lainnya.

Penerimaan dari masyarakat menjadi pertaruhan. Lalu merawat diri seolah-olah menjadi bahan utama pembicaraan. Apakah salah jika memang ingin merawat diri yang hakikatnya adalah titipan? Tentu bukan sebuah larangan. Hanya saja, jangan sampai merawat diri dijadikan payung perlindungan. Lalu merendahkan wanita lain yang berbeda hormon dan gen turunan.

Akibatnya, perlombaan kecantikan pun sudah biasa menjadi tontonan. Entah melalui jalan ber-make up ataupun sekedar polosan. Perempuan yang berdandan akan dianggap menutupi dirinya dengan topeng dan dianggap memalsukan kecantikan. Namun, yang suka tampilan sederhana pun akan dinilai bermuka pucat dan dianggap tidak peduli penampilan.

Berikutnya perkara diet dan olahraga pun masih menjadi bahan olok-olokan. Perempuan yang menjaga pola makan dari makanan yang tidak sehat tak jarang dianggap tidak bisa menikmati hidup dan menyiksa diri. Namun jika pada akhirnya badan mereka melebar, komentar tuntutan untuk diet dan olahraga akan membanjiri. Menjadi kurus pun bukan jawaban, nyatanya si kurus tetap merasa minder karena sering dianggap tak pernah makan.

Setiap aspek kecantikan terus saja diperdebatkan. Bentuk muka yang tak simetris, tinggi badan yang tak ideal, jari yang pendek dan tak lentik, kaki yang gempal dan tak jenjang, kulit gelap, bahkan perkara rambut lurus atau keriting pun kerap dipermasalahkan. Ah, semuanya terasa tak ada yang paripurna betulan. Menunjukkan bahwa definisi cantik sebenarnya masih perlu dipertanyakan. Apakah benar kecantikan hanya bisa didefinisikan sebagai kata benda saja? Tak bisakah kecantikan diperluas menjadi kata kerja?

Kalimat dari Najwa Shihab berikut menggetarkan hati saya,

“Seseorang menjadi cantik karena tindakannya, karena perbuatannya, karena aktivitasnya. Barang siapa yang sanggup berbuat baik kepada sesama, sanggup menggerakkan sekitar untuk melakukan hal-hal bajik. Bisa memperlihatkan kerja-kerja konkrit yang mengubah dan menggubah, itulah secantik-cantiknya perempuan.” 

Mba Nana, panggilan akrabnya, yang terkenal dengan kutipan-kutipan indahnya itu, membuat saya teringat bahwa sebenarnya Rasulullah SAW sudah pernah menyabdakan serupa hal yang ia sampaikan.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Jika kita sepakat untuk menerapkan ini bersama-sama, mungkin nantinya yang akan kita lihat adalah wanita-wanita yang berlomba-lomba untuk menaikkan nilai dirinya berdasarkan kontribusi yang sudah dia berikan kepada sesama. Insecure akan muncul ketika merasa tak mampu membagikan kebermanfaatan, bukan perkara fisik hasil pemberian Tuhan. Sudah banyak contoh-contoh wanita terdahulu yang bisa kita simak bersama rekam jejaknya dalam Al quran dan Al hadis.

Sudah pernah mendengar mengenai hadis tentang empat wanita yang dijamin surganya oleh Rasulullah? Keempat wanita itu adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW, dan Asiyah istri Firaun. Apakah mereka terkenal karena kecantikan paras mereka saja? Tentu tidak.

1. Khadijah istri pertama Rasulullah

Ia adalah istri yang setia menemani perjuangan awal kenabian. Ia pun tak ragu untuk mencurahkan seluruh harta dan tenaganya untuk menegakkan agama Allah. Selain itu, Khadijah adalah perempuan cerdas dan mandiri, ia mampu mengelola perdagangannya dengan baik.

2. Maryam ibunda Nabi Isa a.s.

Ia terkenal karena ketaatan dan kesabarannya ketika mengandung tanpa sosok suami. Setelah kelahiran Nabi Isa pun, Maryam tidak pergi begitu saja, ia mendidik Nabi Isa dengan sangat baik. Mengajarkan kebaikan dan mengajak selalu berdakwah di jalan Allah.

3. Fatimah Az Zahra binti Rasulullah

Ia adalah putri yang taat pada orang tuanya. Bisa menjaga kemuliaan dirinya sebagai wanita dan bisa menjaga cintanya hanya untuk suaminya seorang. Bahkan cerita cintanya sering diimpi-impikan umat muslim lain karena keromantisannya.

4. Asiyah istri Firaun

Ia terkenal akan keteguhannya dalam menetapi agama Allah. Padahal suaminya sendiri, Firaun, sudah menyiksanya dan mengancam akan membunuh jika ia enggan menyembah Firaun.

Luar biasa sekali.

Kita pun bisa mencari contoh wanita-wanita di Indonesia yang kuat akan nilai positif yang ia tebarkan. Siapa yang tak kenal R.A. Kartini? Turut berperan juga yaitu Cut Nyak Dien, Ibu Susi Pudjiastuti, Najwa Shihab, Oki Setiana Dewi, Zaskia Adya Mecca, Dian Pelangi, juga Dewi Sandra. Bahkan yang saya sebutkan ini hanyalah segelintir sosok yang namanya sedang naik daun. Saya yakin sebetulnya banyak wanita inspiratif yang tak terdeteksi media.

Menyaksikan contoh-contoh di atas, sudah tergerakkah hatimu untuk ambil peran dalam kebermanfaatan bagi sesama? Belum terlambat kok untuk terus memperbaiki diri. Satu pesan saya, surga dan niat lurus karena Allah harus menjadi tujuan utama, sehingga mati dalam keadaan husnul khotimah insyaallah akan terasa lebih mudah. Jangan sampai malah mati dalam keaadan glowing dijadikan cita-cita. 

Saya tutup pembahasan kali ini dengan lanjutan kutipan dari Najwa Shihab, “Cantik itu berani punya ambisi, tapi juga kemurahan hati dan empati. Sebab perempuan memang bukan pemandangan. Dan kecantikan bukan untuk diperlombakan.

Jadi, apa makna cantik menurutmu?

Masih kah perkara fisik yang menjadi sorotan utama? 

Redaktur : Niko Aditya R.