Apa Solusi Me Time Terbaik untuk Ibu?

Padatnya "jadwal" seorang ibu seringkali membuat mereka kesulitan menemukan waktu bernama me time. Hobinya yang lalu seperti membaca buku, menulis di blog, atau sekadar perawatan kecantikan ke salon. Apakah sah-sah saja jika mengharapkan waktu seperti itu? Berapa lama biasanya para ibu membutuhkan waktu me time-nya?

Apa Solusi Me Time Terbaik untuk Ibu?
Ilustrasi ibu dan anak. Sumber: kumparan.com

Rutinitas berumah tangga terutama ketika telah memiliki anak, memang tidaklah mudah. Utamanya bagi sang ibu yang tak hanya membereskan seluruh sudut rumah, melainkan merawat anggota keluarganya. Dari Ibnu Umar radiyallahu anhu, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

"Wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bagi anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka." (HR. Bukhari 2554 & Muslim 4828).

Dahulu kala, wanita yang menduduki masa kuliahnya itu disibukkan dengan tumpukan tugas, ekstrakurikuler, dan organisasi kampus. Namun, kesibukan antara keduanya tampak berbeda dan tak bisa dibandingkan. Baik sebagai ibu full time atau working mom, tetap saja peran ibu harus selalu sempurna terutama dalam masalah manajemen waktu. Mungkin perbedaan mencolok terdapat pada pikiran yang terbagi menjadi dua antara komitmen di luar rumah dengan tanggungjawab di dalam rumah. Namun sejatinya, dua jenis pilihan ibu itu sama saja. Rela bangun lebih pagi di antara anggota keluarga yang lain, membersihkan rumah dan meyiapkan segala kebutuhan lainnya. Para ibu punya kewajiban dan tanggungjawab yang sama, yakni mengurus sang anak dan suami.

Padatnya "jadwal" seorang ibu seringkali membuat mereka kesulitan menemukan waktu bernama me time. Hobinya yang lalu seperti membaca buku, menulis di blog, atau sekadar perawatan kecantikan ke salon. Apakah sah-sah saja jika mengharapkan waktu seperti itu? Berapa lama biasanya para ibu membutuhkan waktu me time-nya?

Berbagai pertanyaan tersebut, akan kami bahas melalui hasil survey yang diikuti oleh 22 orang baik dari kalangan ibu rumah tangga atau pun ibu pekerja. INJO.ID turut senang mendapatkan insight yang beragam dari para ibu hebat ini. Sudah penasaran? Yuk simak satu-satu ya!

Bagaimana makna me time menurut para ibu?

Menurut hasil survey, para ibu mendefinisikan me time sebagai waktu luang yang diambil untuk diri sendiri. Melakukan kegiatan yang disenangi adalah cara mereka untuk beristirahat secara fisik dan mental usai kelelahan sebab rutinitas sehari-hari. Hal yang mereka senangi pun amat beragam; mulai dari merawat diri sendiri luar dan dalam, makan dengan tenang, rebahan hingga tertidur, berolahraga,  baca buku, membuat kue atau snack, menulis di blog, atau kursus hal baru. Bahkan ada pula yang menyebutkan sekadar duduk saja sudah merupakan me time. Entah itu sambil main gadget, shopping online, hingga nonton drama korea favorit!

Kegiatan me time ini tampaknya memang diperlukan bagi setiap orang termasuk ibu. Ternyata anggapan melepas beban fisik dan mental sejenak diperlukan bagi mereka untuk punya waktu tanpa "gangguan" dari anak dan suami. Ya, tentu gangguan di sini bukan hal yang sifatnya negatif. Nyatanya, untuk melakukan aktivitas lain pun butuh waktu yang teramat luang agar bisa fokus mengerjakannya. Ditambah kegiatan me time ini juga punya nilai positif, yakni memberikan semangat baru bagi ibu untuk kembali berutinitas seperti biasa. Malah, para ibu hebat ini menambahkan aktivitas spiritual sebagai waktu rehatnya seperti murojaah hafalan. Maasyaa Allah!

Lalu, berapakah waktu yang diperlukan ibu untuk melakukan kegiatan me time?

Grafik kebutuhan waktu para ibu melakukan kegiatan me time menurut hasil survey kepada 22 responden. Sumber: Andisa Fadhilla/INJO.ID

Berdasarkan hasil survey, persentase terbesar yakni 45,5% menjawab waktu me time yang ideal bagi para ibu kurang lebih 1-3 jam. Sedangkan menurut Anastasia Satrio, seorang psikolog klinis dalam sebuah artikel wawancara, menjelaskan bahwa waktu 30 menit cukup untuk kegiatan me time dalam setiap harinya. Waktu yang dilakukan setiap hari itu, justru lebih baik daripada sistem "rapel" menjadi 1-3 jam setiap satu bulan sekali. 

Lebih lanjut, sebenarnya keinginan ibu amatlah sederhana dalam menggunakan me time-nya. Tak perlu biaya mahal untuk membuat sang ibu bahagia. Kebanyakan dari mereka memilih makan, minum, atau tidur dengan tenang saja sudah membuat mereka bahagia. Bahkan hanya melihat anak-anak tersenyum lepas atau bahagia dengan apa yang mereka lakukan sudah membuat hati amat sejuk. Hal ini dapat disimpulkan bahwa, konsep me time terbaik bagi para ibu yaitu: apa pun kegiatannya, tetap fokus pada hal-hal yang bisa membawa energi positif bagi sang ibu.

Ragam kegiatan dan waktu di atas tentu perlu mendapat support dari orang sekitarnya terutama suami. Hasil survey menunjukkan bahwa 50% merupakan angka persentase sang ibu memiliki suami yang mau membantu pekerjaan ibu di rumah. Ditambah, jumlah anak dalam keluarga pun turut mempengaruhi kepemilikan waktu me time. Perlu banget nih dicatat bagi para suami di luar sana untuk dengar curcol-nya ibu-ibu ini!

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa salam juga turut senang membantu sang istri dalam melakukan pekerjaan di rumah sebagaimana hadis berikut.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu salat maka beliau pun pergi salat.” (HR Bukhari).

Hadis lainnya, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha memperjelas bahwa Rasul sangatlah rendah hati dengan membantu istri mengerjakan hal-hal sederhana di rumah.

عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR Ibnu Hibban).

Tampaknya membantu sang istri di rumah telah menjadi sunah Rasul yang bisa dijadikan teladan bagi para suami. Namun, tetap diingat ya para istri! Jangan sampai menyuruh suami apalagi dengan nada tinggi, melainkan harus dengan tutur kata lembut, adab meminta tolong, dan tak lupa mengucap syukur.

Reminder: jangan sampai me time menjadi payung pelindung dan memperlihatkan keegoisan ibu.

Para ibu sepakat bahwa mendahulukan tugas dan kewajiban sebagai istri dan ibu adalah keharusan. Termasuk tidak merugikan suami dan anak-anaknya, terutama pada hal-hal yang membuat lupa atau terlena akan waktu rehat sehingga melalaikan kewajiban di rumah.

Misalnya hangout di luar rumah sendirian hingga larut malam tanpa membawa satu anak pun dan tidak melihat kondisi di rumah. Menurut Anstasia, psikolog dalam sesi wawancara yang sama menyarankan, "me time memang penting tapi tetap harus memperhatikan durasinya. Jika me time yang dilakukan terlalu lama seperti menonton tanaman terus hingga 5 jam tanpa melakukan kewajiban apa pun yang lainnya, ya tetap jadinya selfish, egois," ujarnya dalam acara "FIKA Bersama IKEA", Sabtu (26/9/2020). 

Jika memang akan melakukan kegiatan yang sifatnya harus di luar rumah, maka izin dan rida suami adalah hal paling penting bagi istri. Dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila wanita menjaga shalat 5 waktu, menjaga puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka dipersilahkan baginya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad 1683, Ibnu Hibban 4163).

Apa solusi me time terbaik para ibu?

Murojaah, dan bercengkerama dengan Al-Qur'an. Itulah jawaban takjub dari para ibu ini. Kadang, tanpa disadari bahwa aktivitas spiritual sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang mendapatkan kembali energi positifnya. 

Korelasi antara spiritualitas dan kesehatan mental pun telah membuktikan. Hasil penelitian Koenig, Al Zaben, & Khalifa, 2012 menunjukkan, spiritualitas  dan keyakinan agama memiliki  pengaruh bagi kesehatan mental  pada para penderita depresi, stress, dan mampu mengurangi dorongan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Begitu juga penelitian dari Mohr (2011), spiritualitas efektif untuk penyembuhan penderita schizophrenia yang merupakan salah satu gangguan kesehatan mental psikotik.

Dalam islam, salat dan Al-Qur’an, adalah dua hal yang membuat kita terkoneksi langsung dengan Allah. Tak hanya menjadi kewajiban, melainkan dapat menyalurkan kelelahan fisik dan mental setelah sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Me time terbaik, tanpa meninggalkan kewajiban mengurus anak-anak dan rumah tangga. Me time yang menjamin hati dapat terpenuhi kembali. Keduanya, tak hanya sebagai bentuk me time melainkan healing dari penatnya dunia. Merutinkan kegiatan tersebut juga dapat merealisasikan penerapan sabar dan syukur.

Bagaimana jika anak-anak selalu rewel dan tidak sempat membacanya selepas salat? Mari coba bangun lebih awal, ketika seisi rumah masih belum terbangun dari tidur. Memulai hari dengan Al-Qur’an akan membuat menjadi lebih rileks.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (5) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا (6) إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا (7) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا (8) رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا (9)

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan masyriq dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung." (QS. Al-Muzzammil : 1-9)

Tidak ada yang bisa melakukan tugas luar biasa itu selain "ibu" sendiri.

Tanggapan sang ibu dari survey yang dibuat tim INJO.ID. Sumber: Tangkapan layar dari Andisa Fadhilla/INJO.ID

Maasyaa Allah. Rupanya, menyelami hidup sebagai orang tua sebenarnya sudah menjadi kebahagiaan dunia. Melihat anak-anak seharusnya sudah membawa kembali energi positif untuk para ibu. Sebab sebagian besar yang telah menjadi ibu akan mudah bahagia terhadap hal-hal kecil seperti itu.

Jangan sampai punya anggapan bahwa kegiatan di luar rumah jauh lebih menyenangkan. Lalu kembali ke rumah dengan perasaan lelah dan selalu mengeluh, seolah kebahagiaan akan didapatkan bila ke luar rumah. Padahal yang menciptakan kebahagiaan adalah diri sendiri, dan mengerjakan sebuah kewajiban bernilai pahala. Lalu, mengapa tidak kita ciptakan saja kebahagiaan itu di dalam rumah? Menikmati kelelahan yang berbuah manis di dunia dan akhirat. Menjalani tugas dan kewajiban atas niat lillahi ta''ala. Sabar dan syukur sudah menjadi konsep penting agar bisa tetap bertahan menjalani rutinitas sehari-hari. 

Tanggapan sang ibu dari survey yang dibuat tim INJO.ID. Sumber: Tangkapan layar dari Andisa Fadhilla/INJO.ID

Menjadi ibu sekaligus istri memang berat. Sebab pahala dan surga memang tidak didapat dengan mudah. Apalagi berkeluarga termasuk mengasuh anak tidak selalui diwarnai tawa, hingga terkadang ibu lelah dan tidak bisa kembali menikmati waktu bagi dirinya sendiri. Banyak ibu rela berhenti bekerja atau meninggalkan studi dan karir. Tapi suatu saat, atas rida tersebut, Allah akan mengganti kepada sesuatu yang lebih berharga dan bahagia. Kita bisa menemukan itu sesederhana lewat seorang anak yang sehat dan menggemaskan di rumah. Alasan itulah yang menjadikan ibu memiliki energi tanpa batas.

Sebab ibu adalah… seorang ibu. Manusia luar biasa yang mampu melakukan segala hal, bahkan surga berada di telapak kakinya.

Redaktur: Prita K. Pribadi