Ardayu, Wujud Nyata Kerja Cerdas ala Abisha dan Ditta

Ingatlah, tak usah khawatir dengan rezekimu! Saat seseorang bekerja dengan sungguh dan hanya memohon kepada Allah, yakin hasilnya tak akan berkhianat apalagi tertukar rezekinya. Siap untuk keluar dari zona nyaman? Kalau kata Bang Radit, gak harus bekerja keras yang penting bekerja cerdas!

Ardayu, Wujud Nyata Kerja Cerdas ala Abisha dan Ditta
Keluarga kecil Abisha (sebelah kanan) dan Ditta (sebelah kiri), kedua ibu yang sukses menjalani bisnis online bernama Ardayu. Sumber: Dokumen pribadi Abisha dan Ditta.

“Gig Economy adalah pola kerja baru dimana orang gak perlu ngantor tapi cukup menukar keahlian mereka dengan uang. Ada yang jadi ilustrator freelance, kliennya dari luar negeri. Ada yang jadi konsultan, modal Zoom Meeting seharian. Ada yang jadi makelar, tinggal hubungin pembeli dan penjual. Ada yang jadi YouTuber. Ada juga yang trading saham. Teknologi membuat semua itu terjadi. Bekerjalah dengan cerdas sampai tetanggamu mengira kamu melihara babi ngepet.”─Raditya Dika.

Menanggapi unggahan dari YouTuber sekaligus komika ini memang asik untuk dijadikan motivasi dan edukasi. Memanfaatkan hype-nya si babi ngepet, menjadikan sisi komedi yang kental tapi pesan yang disampaikannya juga tak kalah dapat. Hari gini masih percaya hal mistis itu gak zaman guys! Kemunculan babi ngepet yang katanya jadi sumber penghasilan seorang warga, eh ujung-unjungnya diklaim salah besar atau hoax setelah diinvestigasi oleh polisi! Gak usah deh sempat-sempatnya percaya “begituan”, yang ada dituntut bekerja cerdas menjadi kunci untuk bertahan hidup dan bersaing dalam inovasi. Lebih bermanfaat dibanding percaya sama hal yang gak ada faedahnya! Selain itu, sikap syirik ini punya ganjaran yang tak kalah mengerikan seperti firman Allah:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖوَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Naudzubillahi min dzalik.....

Senada dengan Abisha, warga LDII Tangerang Timur sekaligus seorang pebisinis online yang anti dengan kepercayaan mistis warga di sana“Baca berita tentang babi ngepet ini, saya jadi ingat terus kata Bapak, ‘hidup itu harus terus mengikuti perkembangan zaman, termasuk teknologi’. Dan berkali-kali juga aku selalu setuju sama kata-kata Bapakku itu mbak, ngerasain sendiri...” katanya sangat percaya diri sebab pengalaman kerja keras atas bisnisnya, diwawancarai tim injo.id via telepon, Jum’at (30/04).

Yap! Balik lagi pada istilah Gig Economy. Tak jarang teknologi membuat semua orang yang berdiam di rumah saja mendapat banyak uang. Segala aktivitas hanya mengandalkan internet dan memanfaatkan platform yang begitu ragamnya, teramat memudahkan setiap orang. Tinggal kreatifnya saja dan paling penting: mau atau gak-nya!

Nah sudah terbukti kan, kunci menjadi sukses itu gak bisa instan guys! Harus pakai kerja cerdas layaknya friendship goals, Abisha dan Ditta yang sesama warga LDII. Mempunyai tujuan awal yang sama yakni; demi keluarga kecil mereka agar bisa hidup nyaman, keduanya bekerja sama membangun sebuah bisnis online sedari nol di bidang fashion muslim wanita bernama Ardayu. Dimulai dari tahun 2017, mereka hanya mengeluarkan uang 250 ribu rupiah lalu disulap menjadi tiga buah baju hasil rancangan sendiri. “Kalo mbak Ditta memang jurusan Design (kuliahnya, ─red), kalau aku enggak. Tapi dari awal aku suka jualan-jualan online. Ya sudah akhirnya kita kerja sama,” cerita Abisha.

Manisnya, nama Ardayu ini diambil dari gabungan nama mereka dikombinasikan lagi dengan nama gabungan suami serta anak-anak mereka. Bisa ya dibikin singkat jadi Ardayu dan bermakna banget! Mereka berharap dari nama ini, usaha yang dijalani bisa barokah. “Semoga menjadi bisnis keluarga yang semakin berkembang nantinya,” jelasnya.

Abisha, wanita kelahiran 1990 yang dilatarbelakangi sarjana Farmasi tak menyurutkan keinginannya untuk menjadi ibu rumah tangga yang produktif. “Aku sebenarnya lulusan S1 Farmasi, banyak yang nanya kenapa gak sekolah lagi jadi Apoteker. Ya kalau saya sih  mau buktiin saja kalau saya tuh bisa lebih berkembang di hal yang memang dicita-citakan dari dulu. Alhamdulillah,” terangnya.

Rasa optimis dan kesungguhan dari keduanya, membuat Ardayu yang tadinya hanya menciptakan tiga buah baju menjadi berkembang seiring berjalannya waktu. Kini Ardayu mampu memproduksi puluhan hingga ratusan koleksi baju ditambah sudah memiliki beberapa karyawan khusus. Kunci sukses produknya ada pada kualitas. “Kriteria itu dijadikan nomor satu, karena kepuasan pelanggan menjadi hal utama dalam prioritas,” ungkap Abisha. Alhasil, Ardayu bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. 

Tumpukan pesanan produk Ardayu yang siap dikirim ke pembeli. Sumber: Dokumen pribadi Abisha.

Selain penekanan mutu, tips jitu dari kedua pebisnis wanita ini adalah konsisten. Apa pun pekerjaan yang dilakoni, konsisten harus ditanamkan. “Gimana caranya untuk ngembangin di satu hal itu. Jangan karena ada masalah sedikit terus langsung nyerah gitu saja walaupun harus berdarah-darah dulu," kata Abisha mengingat pengalaman membesarkan nama Ardayu.

Bicara suka duka, kesuksesan Ardayu tak luput dibalut kisah pahit. Banyak ragam pertanyaan dari lingkungan sekitar, belum lagi cobaan yang diterpa membuat Ardayu semakin kuat. Ada kalanya Ardayu kena tipu dari bahan yang dibeli. Bahan produk yang didapat cukup tipis dan rapuh hingga mengalami kerugian jutaan rupiah. “Gak bagus untuk baju, mana sudah terlanjur jadi (selesai produksi, ─red) bajunya. Akhirnya gak jadi kami jual, daripada nanti mengurangi kualitas produksinya,” tambah Ditta bercerita pada jaringan yang sama.

Selain itu, dampak pandemi yang menerpa sejak 2020 juga menjadi tantangan bagi mereka. Dinilai tak akan ada banyak acara di luar sana, bisnis fashion turut berdampak. Ardayu sempat mengalami jatuh bangun hingga mengalami kerugian dan mengharuskan melakukan pengurangan karyawan. Menangani pemerosotan ini, teman sejoli ini mencoba tetap bertahan hingga akhirnya keluarlah ide busana yang tetap kece walaupun di rumah. “Kalau untuk awal pandemi kan belum ada yang kondangan atau kegiatan di luar, kita menyiasatinya dengan cara membuat baju-baju yang homey dress, karena kan lebih banyak aktivitas yang harus dilakukan di rumah saja,” kata Ditta selaku perancang busana Ardayu.

Salah satu model pakaian berkonsep homey dress ala Ardayu. Sumber: instagram.com/ardayu.id 

Ya, cobaan demi cobaan mereka lalui demi membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin ketika seseorang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Terbukti saat pandemi jadi hambatan, namun mereka masih besyukur dengan rezeki yang datang walaupun jumlah keuntungannya tak setinggi saat keadaan normal. "Tak lebih dari 10 juta rupiah tiap bulannya," terang Abisha. Hal itu tentu saja tidak menjadikan semangatnya berkurang, apalagi sekarang sudah memasuki musim lebaran. Menjelang hari raya ini, permintaan produksi meningkat pesat sehingga karyawan menjadi membalik arah pada Ardayu. “Semoga Ardayu bisa lebih berkembang lagi biar bisa menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak lagi, karena kalo berhasil bukan cuma kita yang senang ya. Orang lain biar bisa merasakan dampaknya juga, jadi kita ikutan senang," jelas keduanya.

Subhanallah....

Salah satu model pakaian menjelang Hari Raya Idul Fitri ala Ardayu. Sumber: instagram.com/ardayu.id 

Dari kisah kedua ibu hebat ini, tak mudah menjalankan dua peran sekaligus bukan? Apalagi bisnisnya yang semakin sukses mengaharuskan mereka menjalani waktu agar bermanfaat seoptimal mungkin. Kesuksesan yang mereka terima pun tak membuat cepat puas, selalu berusaha untuk lebih baik bagi semua orang menjadi ‘PR’ setiap harinya.

Banyak yang bisa dipelajari dari keduanya. Mencintai keluarga, optimis akan hal yang didambakan, konsisten berkarya, dan niat bekerja sungguh-sungguh untuk lebih baik demi lingkungan sekitar. Abisha dan Ditta turut berpesan, jangan pernah percaya akan sesuatu yang tak pasti layaknya hal mistis. Bekerja adalah cara mengejar rezeki yang nyata, malahan sudah disuguhkan pendukung secanggih teknologi. “Cuma dengan jari yang bergoyang saja bisa menghasilkan uang yang bisa dibilang gak cuma sedikit, bahkan... karena dari teknologi yang kecil itu kita bisa mencakup dunia yang luas ini.”

Kiranya apa lagi yang bisa kita lakukan selain bekerja cerdas dan berdo'a? Kami yang hanya penghuni bumi ini harus selalu percaya pada satu-satunya Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berjanji sesuai firman-Nya:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud 11: Ayat 6)

Ingatlah, tak usah khawatir dengan rezekimu! Saat seseorang bekerja dengan sungguh dan hanya memohon kepada Allah, yakin hasilnya tak akan berkhianat apalagi tertukar rezekinya. Siap untuk keluar dari zona nyaman? Kalau kata Bang Radit, gak harus bekerja keras yang penting bekerja cerdas!

Redaktur: Prita K. Pribadi