Bagaimana Cara Ikhlas Menghadapi Segala Ekspektasi dan Cobaan?

Keinginan atau harapan akan sesuatu maupun seseorang sudah menjadi sifat yang tak bisa dihindari manusia. Bahkan tak jarang diri sendiri mengekspektasikan pada hal tersebut. Terlalu percaya dan berharap. Lalu menjatuhkan ekspektasi pada hal yang sudah kita sukai, cintai, dan sayangi. Kalau kehilangan semua itu, tak jarang pula akan menimbulkan kekecewaan bahkan kemarahan. Dari semua itu, hanya menyisakan satu pertanyaan sederhana tapi perlu juang yang tak main-main. Yaitu: Bagaimana kamu mengatur rasa ikhlasmu?

Bagaimana Cara Ikhlas Menghadapi Segala Ekspektasi dan Cobaan?
Seorang muslim yang mencoba menanamkan sikap ikhlas. Sumber: hmetro.com.my

Keinginan atau harapan akan sesuatu maupun seseorang sudah menjadi sifat yang tak bisa dihindari manusia. Bahkan tak jarang diri sendiri mengekspektasikan pada hal tersebut. Terlalu percaya dan berharap. Lalu menjatuhkan ekspektasi pada hal yang sudah kita sukai, cintai, dan sayangi. Kalau kehilangan semua itu, tak jarang pula akan menimbulkan kekecewaan bahkan kemarahan. Tak usah jauh-jauh, kalau kita kehilangan barang favorit nih, pernah enggak sampai bete bahkan pengin nangis saking kesalnya? Atau soal lawan jenis yang dikagumi, yang ternyata bertepuk sebelah tangan atau dikecewakan, bagaimana kamu menghadapi rasa sakitmu? Lebih dalam lagi, kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat disayangi, pernahkah kamu sedih hingga tak bisa menahan emosimu, lalu meratapi betapa menyesal dan bersalahnya dirimu?

So, dari hal di atas, hanya menyisakan satu pertanyaan sederhana tapi perlu juang yang tak main-main. Yaitu: Bagaimana kamu mengatur rasa ikhlasmu?

Coba perhatikan QS. Al-Ikhlas ayat 1 – 4 berikut.

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَد○ ٱللَّهُ ٱلصَّمَد○ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد○ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ○

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas : 1-4).

Dalam surat Al-Ikhlas, menegaskan tentang Keesaan Allah dan menolak segala bentuk penyekutuan terhadap-Nya. Kata ikhlas dalam KBBI diartikan sebagai hati yang bersih (kejujuran); tulus hati (ketulusan hati) dan kerelaan. Ikhlas bukanlah sebuah ucapan, tapi bentuk ketulusan hati seseorang untuk menjadi diri yang lebih baik dengan memurnikan niat.

Perhatikan kembali saksama surat Al-Ikhlas di atas, apakah ada satu pun kata “ikhlas” di dalamnya?

Begitulah makna ikhlas, maksudnya perasaan ikhlas tidak harus berwujud dan terucap. Ikhlas perlu diniatkan dalam hati dan dilakukan sebagai perubahan menuju kebaikan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ikhlas harus dilakukan dalam semua aspek kehidupan. Tak hanya terhadap seseorang yang disayangi saja, melainkan saat mengalami berbagai musibah seperti bencana alam, cobaan, dan ujian yang menyebabkan kehilangan beberapa aspek (bisa pekerjaan, barang, rumah, harta dan lain sebagainya).

Kali ini saya mencoba mengobrol dengan seseorang yang telah mengalami pedihnya kehilangan orang terdekat di dalam keluarganya. Hal ini sangat relate dengan kita semua sebagaimana kodrat manusia yang hanya hidup sementara. Ia adalah Fila, seseorang yang saya kenal, mengobrol via WhasApp, kemarin, Kamis (7/10).

“Saat ada orang yang dapat cobaan, banyak yang bilang ya ikhlas yaa.... ikhlas’, sedangkan orang itu belum tentu ngerti gimana arti ikhlas sebenarnya.”

“Menurut aku, ikhlas di sini itu bukan cuma menerima dengan lapang dada tapi juga menyukai qodar itu karena Allah perencana yang baik, pasti ada sesuatu dibaliknya. Tapi bukan berarti kita merasa senang dengan keadaan itu,” terangnya.

Fila juga mengakui, ia masih berada dalam proses menuju ikhlas karena Allah. Terkadang ada waktu di mana ia masih perlu untuk mengingatkan diri sendiri. Tak menutup kemungkinan pula membutuhkan waktu yang sangat lama untuk ikhlas secara utuh. “Butuh waktu lama, mungkin bertahun-tahun,” kata Fila mengingat seorang adik yang lebih dulu meninggalkannya.

Namun, ia tak merasa harus menyerah dengan perasaan naik-turunnya itu. Ia punya cara sendiri, yang mana hal ini bisa banget loh dijadikan salah satu cara ampuh soal memelihara sekaligus meningkatkan iman dan ikhlas. “Saat imanku lagi turun, aku sering ngobrol sama orang lain, curhat, sharing atau minta mereka nasihatin aku.”

“Nasihat itu kan ‘barang’ hilangnya orang iman ya, jadi aku berusaha untuk cari itu dan jadi salah satu cara aku connect sama Allah. Lewat perantara ilham mereka, di situlah ada nasihat dari Allah yang disampaikan khusus buatku,” lanjutnya.

Dari pengalaman Fila, saya belajar bahwa menerima sesuatu terkadang tak bisa langsung “wushh” selesai. Melainkan berproses namun tetap berjuang ke arah lebih baik. Sebab Allah memberi cobaan tak serta-merta sebuah ujian. Keadaan seperti itulah yang menuntut seseorang bisa belajar, mengambil ragam hikmah, bagaimana bersikap dewasa, sampai akhirnya bisa mencapai titik ikhlas sesungguhnya dan merasakan hati yang tentram. Selain itu, ada banyak faktor yang memengaruhi keadaan, baik itu eksternal maupun internal. Di sini kamu enggak harus berjuang sendirian, kadang kamu juga butuh orang lain sebagai pengingat dan perantara nasihat. Mungkin sulit menjalani hari tanpa seseorang atau sesuatu yang membahagiakan. Namun begitulah seni ikhlas, perlu juang panjang karena ganjarannya pun surga Allah, tak main-main nikmatnya!

Nah, satu lagi yang enggak kalah penting! Tahukah kamu sikap ikhlas itu punya manfaatnya?

Ikhlas dalam segi kesehatan, dari seorang praktisi sekaligus pengajar penyembuhan holistik, Reza Gunawan. Menurutnya, rasa ikhlas secara sederhana diartikan dengan perasaan berserah diri kepada Tuhan. Ikhlas adalah bagian dari konsep sehat secara holistik yakni keselaran dan keseimbangan antara tiga unsur yaitu tubuh, pikiran, dan jiwa.

"Kalau badan kita sudah muncul keluhan seperti sakit-sakit, itu berarti timbunan dalam pikiran dan jiwa sudah terlalu banyak. Dengan hati yang ikhlas, gelombang dan detak jantung menjadi lebih selaras atau harmonis,” papar Reza di sela-sela kampanye ‘Mizone Jadi 100% Kamu’ di Jakarta, Selasa (25/6/2008) dilansir dari kompas.com.

“Jantung itu pemimpinnya tubuh karena, dengan jantung yang selaras maka otak berfungsi maksimal. Kalau jantung atau perasaan kita korslet, otak tidak akan bisa berfungnsi maksimal. Jadi dengan ikhlas, jelas akan membuat tubuh menjadi lebih sehat," lanjutnya.

Sampai sini, pengalaman Fila dan Reza seorang praktisi kesehatan setidaknya membuka mata kita soal makna ikhlas. Agar lebih jelas lagi, simak juga yuk beberapa tips membangun rasa ikhlas! Insyaallah bisa memberi manfaat kepada teman INJO. Aamiin.

1. Memurnikan dan Memantapkan Niat

Segala sesuatu yang kita jalani pasti diperlukan sebuah niat yang murni semata-mata karena Allah Swt, bukan karena manusia sebab ingin dipuji atau hadiah. Dengan niat yang sungguh-sungguh agar sesuatu yang dilakukan dapat berjalan baik sesuai apa yang diharapkan. Niat yang bersih dan keyakinan yang kuat pada diri sendiri menunjukkan bahwa kita mampu untuk melakukannya. Sebagaimana yang dijelaskan pada penggalan ayat berikut.

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ○

“Katakanlah Muhammad, “Tuhanku telah memerintah dengan keadilan. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) disisi setiap masjid (shalat) dan sembahlah Dia dengan memurnikan pada-Nya dengan agama (niat mukhlis karena Allah). Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.” (QS. Al-A’raf  : 29).

2. Mendekatkan Diri Pada Allah Swt

Selain perasaan niat, kita juga harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt. Menjalankan perintah-Nya sesuai tuntunan dalam Al-Qur’an dan Hadist. Mendirikan salat, puasa dan menunaikan zakat. Menjauhi larangan-Nya, seperti berbuat hal yang menjurus pada dosa besar atau dosa kecil dan bunuh diri. Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَلَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah (Muhammad): ”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (QS. Al An‘am : 162–163).

3. Berpikir Positif dan Mengatur Mindset

Perilaku seseorang mencerminkan pikirannya, terkadang sebuah prasangka atau pikiran yang tidak baik akan mudah terpancing emosi. Sehingga terpengaruh hal-hal buruk bahkan cenderung untuk bertindak negatif. Hal ini tentu tidak ada manfaatnya atau sia-sia. Dari pada seperti itu, lebih baik memilih jalan kebaikan sebagai solusinya dan mengatur mindset atau pola pikir agar tetap tenang. Semua itu dilakukan untuk merelaksasi pikiran agar tidak mudah stres. Cobalah untuk merenung, tindakan apa yang benar dan salah untuk dilakukan, dan jauhi prasangka buruk. Maka dari itu, langkah ini sangat penting dalam menumbuhkan sikap ikhlas. Husnudzan kepada Allah! Melalui perasaan tersebut, dampaknya akan mudah saat menerima saran dan kritik membangun dari seseorang yang menasihati kita. Lalu pikiran akan lebih positif dan terbuka.

4. Bergaul dengan Orang-orang yang Baik

Memilih lingkungan pergaulan dan orang-orang baik bukan berarti membeda-bedakan seseorang, tapi kita memang memerlukannya karena akan berpengaruh pada kehidupan kita ke depannya. Dukungan dan pengaruh baik mereka menjadikan kita untuk tetap belajar dalam hal kebaikan. Kalaupun ada teman atau seseorang disekitar kita yang tidak baik, kita harus tetap pada jalan kebaikan dan menjaga diri agar tidak terpengaruh.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

5. Belajar dari Kejadian Sebelumnya

Berbagai cobaan, ujian dan musibah akan menimpa manusia selama masih hidup. Mungkin awalnya sangat sulit menahan rasa sakit di hati. Tapi tahukah bahwa hikmah selalu ada dan bisa dipetik dari segala kejadian? Sebab segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah, dan sebagai muslim haruslah percaya hal-hal yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Buat apa menyelam dan terjebak pada pemikiran yang sama terus menerus? Lebih baik belajar dan terbuka untuk ikhlas. Ingatlah, selama kita berusaha lebih baik maka Allah akan membantu. Dalam hidup ini tak mungkin masalah terus yang datang, pasti akan hilang perlahan dan diganti dengan hal yang indah. Tanpa cobaan, tak akan hikmah. Tak ada hikmah, maka tak pernah belajar.

Yap! Memang, manusia hanyalah manusia. Tak bisa menyangkal rasa sedih, terpuruk, atau kesal. Namun ketahuilah bahwa ikhlas adalah inti dari sebuah kehidupan. Di dalamnya terdapat rasa syukur, sabar, dan tawakal. Ya, hanya ikhlas. Sebab Allah yang Maha Tahu Segalanya, sebagai manusia cukup berdoa dan berusaha keras. Layaknya pepatah “tak ada proses yang mengkhianati hasil” atau “semua akan indah pada waktunya”. Namun, jangan jadikan kata takdir jadi jurus andalan menanti waktu dan tak melakukan apa-apa ya! Apalagi kalau berdukamu itu menjadi malas beribadah kepada Allah. Big no! Maka dari itu, agar tidak terjebak dalam ekspektasi dan obsesi atas keinginan dan kecintaanmu⎯saat berdoa jangan lupa meminta keridaan Allah dalam mengharapkan sesuatu. Sehingga saat dikabulkan atau tidaknya permintaan akan lebih ikhlas, karena kita sudah paham bahwa rida Allah adalah sebaik-baiknya restu.

Redaktur: Prita K. Pribadi