Bentuk Cinta Orang Tua yang Dapat Menumbuhkan Keinginan Anak untuk Birrul-Walidain

Tidak jarang orang tua ingin membuat anaknya patuh, namun dengan cara yang kurang tepat seperti memukul atau memarahinya terlebih dahulu agar membuatnya demikian. Imbasnya, tidak sedikit pula anak yang berbohong semata-mata hanya karena tidak ingin dimarahi orang tuanya.

Bentuk Cinta Orang Tua yang Dapat Menumbuhkan Keinginan Anak untuk Birrul-Walidain
Ilustrasi seorang anak yang sedang makan sendiri. Sumber: Canva.

Berapa banyak di antara kita mendambakan anak yang selalu berbakti kepada orang tua setiap waktu tanpa adanya paksaan dari pihak manapun? Terlepas dari kewajiban yang Allah berikan kepada anak-anak, orang tua pastinya ingin agar buah hatinya bisa tumbuh menjadi anak yang sholih dan sholihah.

Meskipun demikian, praktik mewujudkannya tidaklah mudah. Proses panjang perlu ditempuh anak itu, baik secara fisik maupun mental. Tidak jarang orang tua ingin membuat anaknya patuh, namun dengan cara yang kurang tepat seperti memukul atau memarahinya terlebih dahulu agar membuatnya demikian. Imbasnya, tidak sedikit pula anak yang berbohong semata-mata hanya karena tidak ingin dimarahi orang tuanya.

Saya tidak menyalahkan bila ada orang tua yang seperti itu. Namun yang perlu diingat adalah memukul anak hanya bila ia tidak mau salat. Seperti sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, "Suruhlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka (karena meninggalkan salat) dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara laki-laki dan perempuan).” (HR. Ibnu Majah).

Yang membuat miris adalah, anak-anak sering dipukul karena nakal, merusak sesuatu, mengganggu, atau yang lainnya. Pukul dulu, minta maaf belakangan. Bila seperti itu, jangan heran bila anak patuh, namun bukan karena Allah, melainkan karena takut. Padahal, jika dihubungkan dengan alasan melakukan sesuatu, setiap amalan itu tergantung niat dari dalam hati.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." (HR. Bukhari)

Belum lagi, banyak orang tua yang mencintai anak-anaknya dengan cara yang keliru. Seperti terlalu memanjakan anak-anak, dan memberikan segala keinginannya. Untuk bisa menjadikan anak menjadi pribadi yang baik, sebagai orang tua perlu memberikan cinta dan kasih sayang dengan bijaksana. Artinya, sedari dini anak-anak sudah harus diberikan kebutuhan dan keinginan dengan porsi yang pas.

Buku berjudul Maria Montessori Speaks to Parents  merupakan buku yang bisa menjadi pegangan awal untuk para orang tua, khususnya orang tua yang baru memiliki buah hati yang sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.

Di dalam buku tersebut, telah diuraikan beberapa hal dasar yang perlu dilakukan orang tua sebagai bentuk cinta yang bijaksana. Beberapa hal itu antara lain:

1. Berikan lingkungan yang mendukung

Montessori mengatakan, "Lingkungan ideal untuk anak harus berisi perabot seukuran tangan anak dan alat-alat lainnya yang bisa ia kendalikan sendiri."

Pada masa pandemi seperti sekarang, mungkin sebagian besar anak menghabiskan waktu di rumah. Para orang tua bisa menyiapkan lingkungan tersebut dengan cara memberinya alat yang sekiranya bisa ia genggam dan gunakan dengan baik. Tentunya ia tidak boleh dekat dengan barang-barang yang bisa melukai seseorang. Misalnya ketika makan, anak harus diberi wadah dan alat makan yang bisa ia ganggam sendiri tanpa bantuan dari orang tua. Beri ia kesempatan makan tanpa perlu disuapi oleh orang tua.

2. Jangan ganggu aku, Ayah, Ibu!

Ada saatnya orang tua tidak memiliki kesempatan atau waktu untuk menyiapkan perabot atau alat-alat untuk anak. Bila demikian, setidaknya berilah anak lingkungan spiritual yang baik. Apapun yang dilakukan anak, misalnya bermain-main dengan beras, membuka-buka buku, atau apapun, selama hal itu tidak membahayakan orang lain dan dirinya, orang tua tidak boleh mengganggu atau mengajak bicara.

Perlakukan anak dengan penuh kerendahhatian, kesabaran dan kesederhanaan. Dari sini, kita juga bisa mengasah kedisplinan anak terhadap benda yang ia pegang sendiri. Di dalam metode Montessori, anak adalah guru bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak perlu diberi tahu cara agar bisa disiplin. Mereka akan mendisiplikan dirinya sendiri. Tentunya dengan kita beri mereka kepercayaan, kesempatan, dan terutama, cinta yang bijaksana.

3. Tumpah? Berantakan? Gapapa.

Anak adalah makhluk baru di dunia ini. Setiap gerakannya adalah murni gerakan yang sama sekali belum terlatih. Sebagai contoh, anak makan sepiring kecil nasi goreng dengan menggunakan sendok yang juga kecil. Gerakannya murni meniru orang tuanya, namun karena kurangnya koordinasi saraf dan otot yang belum terlatih, maka tidak heran bila anak sering menumpahkan makanannya sebelum makanan itu masuk ke dalam mulutnya.

Montessori mengatakan, "Anak itu perlu edukasi lembut agar bisa bergerak dengan lebih baik." Orang tua adalah pengamat dan penolong pertama yang diperlukan anak. Berilah contoh dan bimbinglah agar gerakan anak bisa lebih baik. Kebiasaan makan berantakan dan menumpahkan air akan hilang seiring berjalannya waktu. Lagi-lagi, orang tua harus belajar memaklumi dan memiliki kesabaran yang lebih.

4. Selamat tinggal, Rewards and Punishments

Dengan dibiarkannya anak melakukan sesuatu, ternyata itu berdampak pada segala sesuatu yang lain. Konsentrasi, simpati, empati, rasa senang, dan ketekunan mulai terbentuk dengan baik. Montessori mengatakan bahwa tidak ada penghargaan dan hukuman dalam metode pengajarannya. Penghargaan terbaik adalah selesainya pekerjaan anak itu dengan penuh konsentrasi dan tanpa diganggu. Kepatuhan pada segala sesuatunya pun juga ikut terbentuk, karena anak-anak pasti menginginkan segala sesuatu dikerjakan dan dilakukan dengan baik dan  benar. Anak akan senang ketika pekerjaannya selesai, dan akan membagikan kesenangannya itu untuk menolong yang lain.

5. Bahasa baik, karakter baik

Salah satu pendidikan utama bagi anak adalah pendidikan karakter. Semua orang tua pastinya ingin anaknya memiliki karakter yang baik. Mulailah dari bagaimana cara bertutur kata. Sebagai orang dewasa yang telah hidup lebih lama di dunia, kita sudah sering melihat contoh dan merasa miris ketika seorang anak berbicara dengan ketus dan keras kepada orang tuanya. Hal itu seharusnya tidak dilakukan oleh seorang anak yang memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua.

Orang dewasa bisa memberi contoh, misalnya, "Nak, boleh minta tolong ke warung beli garam?" atau, "Nak, boleh minta tolong rapikan buku yang berantakan itu?" Pastikan juga kita mengatur tinggi tubuh kita hingga sejajar dengan anak agar ia merasa dihargai. Anak itu adalah peniru ulung. Apapun yang dilihatnya, siapapun yang melakukannya, kelak ia juga akan ikut menirukannya.

Maria Montessori mengatakan bahwa orang tua tidak bisa secara langsung memberi pertumbuhan dan karakter yang baik. Tetapi, orang tua bisa memberinya kebutuhan fisik dan mental, dan keduanya harus seimbang. Seperti orang dewasa, anak juga perlu dihormati dan dicintai. Mungkin sesekali boleh memberi anak koreksi ketika melakukan pekerjaannya. Namun, bila terlalu banyak koreksi, perkembangan anak yang tadinya berada di jalur alami,  energi perkembangan itu akan menyerang balik kepada anak itu. Akibatnya, anak akan menjadi malas, cemas, nakal, takut, dan karakteristik lain yang pastinya tidak diinginkan orang tua.

Masih banyak lagi cara yang bisa orang tua lakukan agar anak menjadi pribadi yang memiliki akhlaqul-karimah. Mengapa orang tua perlu mengajarkan anak agar berakhlak baik? Karena Allah telah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun: 14)

Setiap orang tua pastinya tidak akan menginginkan bila anaknya menjadi cobaan atau bahkan fitnah baginya. Orang tua pun tidak ingin anak menjadi satu-satunya alasan ia tidak bisa masuk ke dalam surga.

Untuk itu, orang tua perlu mendidik anaknya dengan cinta yang bijaksana. Cinta adalah sebuah nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yang mana nikmat itu perlu dibagikan kepada manusia lain. Cinta bisa diberikan dengan baik bila orang tua selalu bersedia menjadikan diri mereka sebagai tempat anak untuk pulang. Tempat di mana anak menyampaikan segala kesenangan, cerita, dan juga keluh kesah. Orang tua harus bisa menjadi penyampai dan pendengar yang baik untuk anak agar cinta mereka bisa menyentuh dan menyelimuti hati anak.

Ketika anak sudah menjadikan orang tuanya sebagai tempat pulang, ia akan selalu memiliki pemikiran bahwa orang tuanya merupakan prioritas baginya. Secara tidak langsung, hal inilah yang akan mengarahkannya untuk senantiasa birrul-walidain. Sebagai orang tua, tentunya Anda tidak ingin bila anak Anda mendapatkan tempat pulang yang lain kan? Misalnya, ehm, pacar? Na'udzubillahi mindzalik.
Semoga bermanfaat.

Redaktur: Ubaid Nasrullah