Berhenti Menormalisasi Kebiasaan Buruk Bagian 1: Gibah

Mulut bisa menjadi sebab paling banyak manusia masuk ke dalam neraka. Sedangkan sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah takwa pada Allah dan baiknya budi pekerti. Bagaimana seseorang bisa dikatakan takwa pada Allah jika menormalisasi gibah yang menjadi larangan Allah?

Berhenti Menormalisasi Kebiasaan Buruk Bagian 1: Gibah
Ilustrasi penggambaran kebiasaan buruk gibah. Sumber: ibadah.co.id

Kata gibah tampak tidak awam lagi di telinga masyarakat kita. Namun, apa sih arti gibah sesungguhnya? Apa perbedaannya dengan fitnah?

Menurut KBBI, gibah adalah membicarakan keburukan (keaiban) orang lain. Sedangkan fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Bahkan terdapat keterangan di dalam kamus tersebut soal kedua kata ini: -- dilarang dalam agama Islam, dan -- adalah perbuatan yang tidak terpuji. Sama halnya dengan sebuah hadis, aktivitas gibah telah diriwayatkan sejak lama.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

“Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim).

Sampai sini, sudah tahu maknanya kan? Gibah, sebuah aktivitas yang buruk dan tidak disenangi jika didengar. Sedangkan perbedaan antara gibah dan fitnah; jika yang dibicarakan sesuai kebenarannya berarti gibah. Sebaliknya, jika yang dibicarakan tidak sesuai berarti fitnah.

Ditambah era teknologi kini yang semakin canggih, aktivitas gibah sangat bisa dilakukan di mana saja sebab kemudahan dalam berinteraksi dan mengakses informasi apapun. Bahkan enggak jarang, orang-orang menggunakan kata gibah untuk jadi caption “estetik” di unggahan media sosial mereka.

“Teman gibahku,” caption sebuah foto berisi dua orang yang sedang duduk di meja kafe. “Gibah-gibah santuy,” tulis seseorang di Instagram Story.

Seolah gibah adalah aktivitas normal yang tidak punya konsekuensi. Padahal gibah adalah salah satu perbuatan terlarang yang disebutkan dalam Al-Quran. Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَلَا يَغْتَبْ بَعْضَكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ اَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ....

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah memperbanyak prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan kalian jangan menceritakan kejelekan (gibah) sebagian kalian. Apakah salah satu kalian senang memakan (bangkai) saudara kalian yang mati sedangkan kalian membencinya....” (QS. Al-Hujurat : 12).

Dalam ayat di atas, gibah setara dengan memakan bangkai saudara sendiri. Artinya kedudukan dosa gibah bukan lagi bisa dianggap dosa ringan. Seandainya dosa gibah ditampakkan di dunia, maka secara visual di balik caption yang katanya “estetik” itu, ada seonggok bangkai di tengah-tengah yang dengan lahap disantap, bibir-bibir yang selalu dipoles dengan lipstik sedang berlumuran darah saudara sendiri. Di sela-sela gigi yang rutin dibersihkan, terselip daging sisa tubuh yang saat ini sudah tidak berbentuk. Dan setan yang ikut dalam perkumpulan itu terbahak-bahak menyaksikannya. Itulah alasan ketika gibah rasanya sedap. Hingga tanpa sadar, sering kali gibah dibumbui juga dengan fitnah-fitnah agar semakin lezat. Naudzubillahi min dzalik.  

Oleh sebab itu, mari tidak lagi menormalisasi kebiasaan buruk ini. Salah satu cara yang sangat bisa dilakukan agar terjauh dari circle semacam ini adalah memilih teman yang tak suka bergosip. Sama halnya memilih pasangan, selektif memilih teman juga sah-sah saja jika niatnya bergaul dengan orang saleh. Sebab lingkungan yang sering kita temui, pelan-pelan bisa mempengaruhi kita baik secara sadar atau tidak sadar. Namun bagi kamu yang saat berkumpul dengan banyak orang lalu telah tercium aroma aktivitas gibah , teman INJO bisa menerapkan beberapa cara berikut.

1. Introspeksi Diri

Semua orang bisa mengklaim dirinya baik. Ketika kita melihat orang lain bersalah, dan menemukan aib dalam diri orang lain, bukan berarti kita lebih baik. Kita juga punya banyak salah dan aib, hanya saja Allah masih menutupi aib kita.

2. Mengingat Sisi Kebaikan Orang yang Dibicarakan

Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Seburuk-buruknya lalat, Allah jadikan dia sebagai gambaran dalam ayatnya. Seenak-enaknya ikan, pasti ada tulangnya. Begitu juga manusia. Seburuk-buruknya orang yang kita bicarakan, pasti punya sisi baik. Jangan hanya berfokus pada kejelekannya saja.

3. Mengalihkan Pembicaraan atau Tinggalkan

Jika mulai tercium akan hal-hal yang mengarah pada “ngomongin orang”, coba alihkan hal itu dengan sedikit-sedikit mengubah topik pembicaraan dengan halus atau lelucon. Bisa juga diselingi pengingat atau nasihat dari kamu. Jika tak mempan, maka jauhilah perkumpulan tersebut dengan cara yang baik. Misalnya berkata ingin ke toilet.

4. Mengingat Dosa Gibah

Dari potongan salah satu hadis yang diriwayatkan At-Thabrani, menyebutkan ".... pelaku gibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang digibahnya." Kebayang kan, bahaya gibah ternyata seserius itu loh! Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan pernah membuka aib orang lain. Bahkan terkadang aktivitas ini tak jarang tanpa disadari oleh kita sendiri. Banyak-banyaklah istighfar, dan inilah alasan mengapa kita harus selektif memilih teman dalam satu lingkungan. Salah satunya teman yang tak suka bergosip.

Ya, salah satu hal yang harus diwaspadai saat bergaul adalah bagian mulut kita. Ingatlah, apa pun yang dilakukan manusia lain sama sekali tidak membahayakan kita, kecuali jika Allah menghendakinya jadi berbahaya. Dan mulut yang tak terjaga adalah kebahayaan. Sebab kebanyakan penyebab seseorang masuk neraka adalah mulut.

Dari Abi Hurairah RA berkata,

عَنْ ابِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْه قَالَ : سُىِٔلَ رَسُولَ اللّٰه صلَّى الله عليه وسلم عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّسَ الْجَنَّةَ؟ تَقْوَى الله وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَسُىِٕلَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النّارَ؟ قَالَ الْفَامُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah SAW ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, nabi menjawab : Takwa pada Allah dan baiknya budi pekerti, dan nabi ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, nabi menjawab : mulut dan kemaluan.” (HR. Sunan At-Tirmidzi).

Mulut bisa menjadi sebab paling banyak manusia masuk ke dalam neraka. Sedangkan sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah takwa pada Allah dan baiknya budi pekerti. Bagaimana seseorang bisa dikatakan takwa pada Allah jika menormalisasi gibah yang menjadi larangan Allah? Bagaimana juga seseorang dianggap baik budi pekertinya jika terbiasa membuka aib-aib dan kejelekan saudaranya?

Terkadang memang sulit sebagai makhluk sosial untuk tidak saling berkumpul dan membicarakan sesamanya. Tapi bukan berarti hal ini benar dan wajar dilakukan.

 Mari muhasabah diri, agar kita bisa jadi orang Islam sejati yang didefinisikan nabi.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Islam (sejati) adalah orang yang orang-orang Islam (lain) selamat dari lisan dan tangannya” (HR. At-Tirmidzi).

Jangan sampai kita terlalu fokus pada kesalahan orang lain hingga lupa bahwa dia bisa kapan saja begitu mulia dengan taubatnya, sedangkan kita masih begini saja yang hanya fokus dengan aib orang lain.

Redaktur: Prita K. Pribadi