Berkaca pada Kisah Nabi Ibrahim, Membunuh Rasa Kepemilikan Manusia di Tengah Tragisnya Pandemi

Ibrahim tidak diperintahkan Allah untuk membunuh Ismail. Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail karena hakikatnya semua adalah milik Allah.

Berkaca pada Kisah Nabi Ibrahim, Membunuh Rasa Kepemilikan Manusia di Tengah Tragisnya Pandemi
Ilustrasi Kisah Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Sumber: thelightofWahyuJf/ Youtube.com

Di tengah pandemi seperti ini, sering kali kita mendengar berita duka. Kabar tersebut muncul dari sana-sini baik dari seorang yang asing mau pun kerabat sendiri. Lagi rebahan tiba-tiba dapat pengumuman dari toa masjid tentang tiadanya seseorang. Suami sehabis pulang dari kantor lalu kedapatan cerita mengenaskan, temannya tak terselamatkan karena Covid-19.

إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”. (Q.S. Al-Baqarah : 156).

Di balik itu semua, saya yakin ada orang yang sangat merasa kehilangan bahkan hingga putus asa. Namun, perasaan itu semua tidak baik jika harus berlarut-larut sampai lupa dengan kata ikhlas, rida, apalagi melupakan ibadah. Tahukah kamu? Pada suasana Iduladha yang diliputi oleh pandemi ini terdapat kisah yang memilukan yang tak pernah kamu bayangkan.

Ya, kita mungkin sudah tidak awam dengan kisah Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya sendiri, Nabi Ismail atas perintah Allah lewat mimpi. Tentu sudah tahu juga bukan apa yang dilakukan keduanya? Walaupun sangat sedih, keduanya mempunyai sikap sabar dan rida niat karena Allah untuk melakukan perintah-Nya.

Apa yang akan kamu lakukan jika harus menyembelih anak sendiri dengan kedua tanganmu? Sungguh ujian yang nyata beratnya.

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

“Sesungguhnya menyembelih anak, ini niscaya menjadi cobaan yang jelas (berat)” (Q.S. As-Shaaffaat : 106).

Beberapa hari ke belakang, aku menemukan sebuah kalimat tamparan sekaligus mengharukan seputar makna Iduladha. Didapat dari seorang kerabat kerja lewat status WhatApp-nya, begini bunyi kalimat yang dikutip oleh seorang penulis novel terkemuka, Ikka Natassa :

“Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya ‘Ismail’. Ismailmu mungkin hartamu. Ismailmu mungkin jabatanmu. Ismailmu mungkin gelarmu. Ismailmu mungkin egomu. Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini. Ibrahim tidak diperintahkan Allah untuk membunuh Ismail. Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail karena hakikatnya semua adalah milik Allah.” –Anonim.

Subhanallah……

Sama dengan masa berat pandemi ini, kiranya percaya dan ikhlas kepada Allah adalah jalan satu-satunya saat diterpa ujian berat. Terlebih kehilangan seseorang yang kita sayangi. Sebab sesungguhnya apa-apa yang ada di bumi ini hanya bentuk ujian. Siapa-siapa yang ada di bumi ini milik Allah semata. Jadi, apa yang kita harapkan dari dunia yang fana ini?

Mengapa kita berlarut-larut dalam menangis?

Mengapa kita berlomba-lomba akan hal duniawi?

Semuanya hanya satu. Akan kembali kepada Sang Maha Pemilik semesta dan langit.

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan.” (Q.S. Maryam : 40).

Pertanyaan lain dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail: tapi Allah kan mengganti Nabi Ismail dengan kambing saat detik-detik penyembelihan? Betul sekali! Kini kami balik pertanyaannya, apakah kamu masih ragu dengan kebesaran dan keajaiban Allah itu?

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia". (Q.S. Yasin : 82).

Perasaan percaya dan ikhlas yang tumbuh di hatimu itu, sudah pasti Allah memberi balasan atas ketaatan hamba-Nya. Orang yang sudah meninggalkan kita untuk selamanya tidak akan bisa kembali lagi seperti kisah Nabi Ismail. Tapi cobaan kehilangan yang sedang dialami saat ini pasti akan Allah ganti dengan pertolongan yang lebih baik. Sesederhana menjadi lebih dewasa, tegar dan mandiri saat ditinggal yang terkasih. Itu pun bentuk pribadi baik yang Allah karuniai kepada hamba-Nya. Meski orang yang meninggalkan sangat berperan penting dalam hidup, percayalah Allah tidak turut meninggalkan kita. Yakin bahwa Allah yang akan mencukupi semua kebutuhan, rezeki, bahkan masa depan kita. Modalnya? Cukup usaha, berdoa, dan beribadah. Sebab ini bumi-Nya Allah, ikutilah semua firman Allah agar selamat dan berkah. Perlu diingat kembali, bahwa Allah tidak sama sekali melarangmu untuk bersedih hati. Namun jika dilakukan berlebihan dan membuatmu tak bergairah hingga malas beribadah, tentu tidak boleh.

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ

“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah.” (Q.S. At-Taubah: 40).

Ayat-ayat Allah telah banyak menerangi hati dan pikiran yang sesat. Maka ke mana lagi kamu berlari jika selain kepada Al-Qur’an?

Kisah Nabi Ibrahim tersebut dapat menjadi pelajaran berharga serta nasihat bagi kita semua. Baik yang sedang, pernah, atau suatu saat di-qodar kehilangan seseorang yang amat dicintai dalam hidup. Keteladanan dalam kisah ini, Allah telah firmankan dalam Alquran;

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

“Dan  Kami Allah  meninggalkan ceritanya Nabi Ibrahim sebagai teladan bagi orang-orang yang akhir (generasi selanjutnya).” (Q.S. As-Shaaffaat: 108).

Di ujung tulisan ini, saya ingin berbagi dengan teman INJO.ID. Cobaan kehilangan yang saat ini sedang dirasakan di tengah pandemi memang sangat berat bahkan lukanya sulit dihempaskan. Namun hal ini tak jauh dari soal bentuk ujian keimanan, ketaatan dan kecintaan terhadap Allah. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim, dan pemaknaan seseorang tentang Iduladha di atas. Percaya pada Allah akan hikmah di baliknya. Ikhlas dengan apa yang sudah terjadi sebab kepemilikan Allah tak bisa dikontrol oleh tangan manusia sendiri. Sedih boleh, putus ibadah jangan! Tak ada hal lain selain Allah menguji manusia untuk mengetahui, apakah rasa cinta hamba-Nya terhadap makhluk lain mengalahkan rasa cinta kepada-Nya?

Teman INJO.ID juga bisa melirik kisah mbak Hanifah pada unggahan channel Youtube INJO ID dengan judul ‘Berdamai dengan Kehilangan. Banyak pelajaran yang bisa diambil, salah satunya: terkadang tidak saat itu juga kita bisa langsung menyadari dan mengambil hikmah di balik rencana Allah. Butuh waktu yang bukan berarti Allah tidak baik, hanya saja kita belum menyadari rencanya-Nya.

Yuk bersama belajar untuk husnudzon kepada Allah!

Sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Tidak ada sebuah qodar tanpa tujuan, kita hanya harus rida dan mencari jalannya syukur. Semoga nanti kita dapat berkumpul dengan orang-orang yang kita sayang di surga-Nya Allah, Aamiin.

Redaktur: Prita K. Pribadi