Cara Mengelola Finansial Generasi Sandwich

Salah satu faktor utama munculnya generasi sandwich adalah ketidaksiapan orang tua secara finansial. Sehingga anak yang sudah bekerja atau yang dianggap mandiri secara finansial harus ikut menanggung kebutuhan-kebutuhan orang tua atau saudaranya, bahkan setelah dia menikah. Lalu apa saja langkah yang bisa dilakukan 'si sandwich' untuk mengelola finansialnya?

Cara Mengelola Finansial Generasi Sandwich
Ilustrasi generasi sandwich. Sumber foto : Kaskus.

Adakah di antara kalian ada yang menjadi generasi sandwich? Atau jangan-jangan malah belum tahu apa itu generasi sandwich?

Generasi sandwich adalah kelompok orang yang menjadi tulang punggung bagi tiga generasi sekaligus. Mereka harus menanggung kebutuhan dirinya sendiri, keluarga inti (anak dan istri), dan kebutuhan orang tuanya. Bahkan ada beberapa yang harus menanggung kebutuhan saudara dan keponakan-keponakannya.

Salah satu faktor utama munculnya generasi sandwich adalah ketidaksiapan orang tua secara finansial. Sehingga anak yang sudah bekerja atau yang dianggap mandiri secara finansial harus ikut menanggung kebutuhan-kebutuhan orang tua atau saudaranya, bahkan setelah dia menikah.

Jika kamu termasuk generasi sandwich, berikut ini beberapa cara untuk mengelola finansial yang bisa kamu lakukan. Check it out!

1. Dahulukan Pengeluaran Utama

Dahulukan kebutuhan pokok seperti belanja bulanan, bahan makanan, biaya listrik dan air, dan kebutuhan sekolah anak dengan menerapkan prinsip wise spender.  Wise spender yaitu mencatat terlebih dahulu apa saja yang harus dibeli agar tidak ‘bocor alus’ karena membeli sesuatu yang tidak penting.

Untuk menekan biaya pengeluaran, kamu bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan memanfaatkan diskon atau cashback. Namun jangan sampai kebablasan, alih-alih menghemat biaya, berlebihan dalam memanfaatkan diskon atau cashback justru akan membuat pengeluaranmu semakin membludak. Kamu juga bisa memilih tempat belanja yang dekat dari rumah untuk menghemat biaya transportasi.

Selain itu, kamu mesti memasukkan sedekah dan infak ke dalam daftar kebutuhan pokokmu. Karena kalau tidak didahulukan terkadang tanpa sadar uang sudah habis, tapi belum sempat infak. Hal ini tentu kurang tepat.

Setelah kebutuhan pokokmu dan keluarga inti terpenuhi, baru memberi jatah untuk kebutuhan orang tua atau orang lain yang kamu tanggung finansialnya. Jika pengeluaranmu sedang banyak, misalnya harus membayar uang masuk sekolah anak, kamu perlu memberi tahu orang tuamu bahwa jumlah transferanmu mungkin akan berkurang.

2. Komunikasikan Batasan Pertanggungan

Mengkomunikasikan kondisi finansial sangat penting. Karena jika tidak, kamu akan kesulitan memikirkan keuanganmu dan orang-orang yang kamu tanggung, sementara pihak lain tidak tahu batas dari kemampuanmu.

Kamu perlu membuat batasan pertanggungan. Contoh, jika kamu sudah membayarkan biaya pendidikan adikmu, kamu tidak perlu membiayai biaya tersiernya seperti uang jajan atau belanja barang yang bukan kebutuhan pokok.

Kalau kamu punya saudara lain yang bisa diajak berbagi tugas menanggung biaya hidup orang tua, kamu bisa mengomunikasikannya bersama mereka agar bisa saling berbagi tugas sesuai kemampuan finansial masing-masing.

3. Siapkan Dana Darurat

Kamu perlu menyiapkan dana darurat kalau-kalau sewaktu-waktu butuh. Sebab sakit, kecelakaan, dan biaya mendadak lain bisa mengguncang kondisi keuangan. Memang tidak ada orang yang berharap mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan semacam itu, namun setiap manusia pasti akan diberi cobaan oleh Allah. Nah, tugasmu adalah mempersiapkan dan darurat untuk menanggulangi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kapanpun.

Perihal kesehatan, sebenarnya kamu bisa menanggulangi risikonya dengan asuransi jiwa atau asuransi kesehatan. Tetapi asuransi jiwa dan kesehatan rentan dengan riba, maka kamu perlu menyiapkan dana darurat yang sifatnya lebih aman daripada asuransi. Contoh dana darurat yang bisa kamu siapkan seperti membeli logam mulia atau emas. Selain bisa disimpan sebagai tabungan, emas juga mudah dijual ketika kamu butuh biaya cepat. Kelebihan lain dari logam mulia yaitu bisa menjadi aset lindung nilai terhadap inflasi.

Langkah lain yang bisa kamu lakukan untuk menyiapkan dana darurat adalah dengan memulai investasi. Tetapi kamu harus berhati-hati dalam memilih investasi. Saat ini, investasi hadir dalam berbagai jenis pilihan seperti investasi saham, reksadana, dan valuta asing. Jangan sampai terpancing dengan investasi-investasi yang haram hukumnya seperti investasi yang berbasis bunga dan spekulasi yang berkedok investasi. Contohnya investasi trading uang kripto. Sedangkan investasi yang diperbolehkan adalah investasi dengan sistem bagi hasil.

Dengan pengelolaan keuangan yang baik, berkomunikasi, dan terbuka dengan anggota keluarga yang lain, beban generasi sandwich menjadi tidak terlalu berat. Tidak sedikit orang yang kewalahan saat di-qodar oleh Allah menjadi generasi sandwich karena tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Maka sebagai pemuda Indonesia yang melek finansial, kita perlu mencari cara untuk mengamankan finansial kita. Sebab mengelola keuangan dengan baik dan tidak menghamburkan uang juga merupakan perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

“Dan berikanlah haknya kerabat dekat, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Dan jangan mubazir (menghambur-hamburkan uang) dengan sungguh mubazir.” (QS. Al-Isra’: 26).

Redaktur: Ubaid Nasrullah