Cari Ilmu Sebelum Aksi, Kunci Sukses Jalani Bisnis

Baik modal hidup di dunia mau pun utamanya di akhirat. Amalan memang menjadi perantara masuknya orang iman ke dalam surga. Namun, jika amalan tidak berlandaskan ilmu yang benar, maka dianggap batal dan tak bernilai. Bahkan sekali pun amalan tersebut sudah benar, tidak akan sah jikalau tak mengetahui ilmu dari amalan tesebut.

Cari Ilmu Sebelum Aksi, Kunci Sukses Jalani Bisnis
Sosok Difa Kamila yang memanfaatkan potensi Henna Art-nya menjadi pebisnis muda. Foto menunjukkan ia saat mengikuti kelas Henna Art. Sumber: instagram.com/z.camilaa

مَنْ اَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ . وَمَنْ اَرَادَالْااَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِلْعِلْمِ . وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Bagi siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan bagi siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya, maka wajib baginya memiliki ilmu.” (HR. Tirmidzi)

Tampak hadis di atas menunjukkan ilmu sebagai landasan berkehidupan. Baik modal hidup di dunia mau pun utamanya di akhirat. Amalan memang menjadi perantara masuknya orang iman ke dalam surga. Namun, jika amalan tidak berlandaskan ilmu yang benar, maka dianggap batal dan tak bernilai. Bahkan sekali pun amalan tersebut sudah benar, tidak akan sah jikalau tak mengetahui ilmu dari amalan tesebut. Ilmu bekal akhirat yang wajib kita cari tentu harus bersumber dari Qur’an dan Hadis. Tak hanya membahas akhirat, tuntunan bagi kita hidup di dunia fana ini sudah seharusnya ditolok ukur pada kedua sumber itu.

Maka, sudah jelas bahwa ilmu berperan penting bagi kehidupan akhirat dan dunia kan? Nah bicara soal duniawi demi mencari maisyah, dipastikan harus punya ilmu yang kuat lebih dulu. Apalagi mengasah kemampuan, menciptakan sesuatu, atau sekadar kepo tentang suatu hal, akarnya memerlukan ilmu juga. Jika tidak, dunia yang kita tempati sekarang tak akan mencapai titik serba modern ini bukan? Sadar tak sadar, kemajuan dunia yang semakin pesat ini disebabkan penghuninya itu sendiri yang semakin aktif dalam berinovasi. Apalagi di angkatan milenial ini yang manusianya semakin kritis dan cerdas. Tak memandang usia, banyak mereka yang bergerak didasari dari sesuatu yang mereka sukai. Tak peduli sedang berada di bangku sekolah atau bekerja di satu tempat, sebelum mereka menemukan kenyamanan dalam menyalurkan kesukaannya, maka mereka akan terus mencapai hal itu hingga terwujud. Lihat saja dewasa ini, content creator bertebaran dimana-mana mulai dengan pemanfaatan media sosial hits ternama seperti Tiktok, YouTube, atau Instagram. Medium tersebut membuktikan bahwa teknologi berperan sangat besar bagi kemaslahatan hidup manusia.

Salah satu warga LDII asal Malang ini termasuk yang memanfaatkan minat dan bakatnya ke sebuah medium hits itu. Difa Kamila, yang lahir tahun 2002 ini mempunyai hobi menggambar henna. Kesukaannya ini lambat laun menjadi sebuah karya yang semakin berkembang. Sejak mengenakan seragam putih biru, ia melatih kemampuan gambarnya yang didukung oleh sang ibu. Berawal dari melihat unggahan di Facebook, berhentilah mereka pada karya Henna Art yang membuat Ibu berkata, "daripada kamu corat-coret gak jelas, mending kamu belajar bikin kayak gini," sembari menunjuk ke layar gawainya saat itu.

Lampu hijau sang ibu ditanggapi cepat oleh Difa. Dulu, ia hanya menggunakan media kertas untuk berlatih merangkai ragam corak henna. Hingga memberanikan diri untuk menjatuhkan alat hennanya itu ke tangan sang Ibu. “Pokoknya, mama kanvas Henna pertamaku,” ucap Difa saat diwawancarai via WhatsApp, Kamis (08/04).

Tak hanya orang tuanya, teman dan sanak saudara pun jadi support system Difa. Perkembangan henna art bisa sampai pada titik penggunaan tarif pun dimulai dari salah satu anggota keluarga yang minta tangannya dilukiskan lalu dibayar seharga 10 ribu rupiah saja. “Awalnya iseng aja nawarin salah satu sepupuku. Eh, taunya banyak saudaraku yang minta dipakai-in henna juga.” Dirasa membuat Difa semakin semangat sebab karyanya dilirik, ia pun memperlajari kian banyak corak henna dengan mengambil referensi dari beberapa platform seperti Path, YouTube, dan Instagram.

Seiring berjalannya waktu memasuki sekolah putih abu, diakui Difa sebagai waktu paling berkesan untuk melebarkan sayap hobinya ini. Beberapa teman dekatnya saat itu seringkali dijadikan kanvas latihan Difa. Sesederhana memamerkan hasil karya Difa dari satu teman ke teman lain, eksislah karya Difa ini sampai satu sekolah. Tak ada satu pun guru yang bekomentar negatif, justru mendapat request dari salah satu gurunya untuk acara pernikahan. Hal ini menjadi faktor dukungan dan semakin menggugah Difa untuk melanjutkan hobinya lebih serius. Walau begitu, kala itu Difa juga tak menyangka akan diberi imbalan sebesar 250 ribu oleh sang guru. "Karena aku juga kan masih belajar, jadi masih belum bagus-bagus amat dalam Henna Art ini," katanya saat mengenang masa itu.

Difa Kamila sedang melukiskan Henna ke tangan guru sekolahnya. Sumber: Dokumen pribadi Difa Kamila

Selepas dari bangku SMA, Difa lebih menekuni ilmu henna ini di tengah tugas-tugas kuliah yang melanda. Beberapa kali ia mengikuti kelas khusus henna dan mencoba ikut lomba walau hasilnya belum bisa memuaskan. Namun, melalui perjalanan ini ia memberanikan diri untuk memasang harga pada karyanya. Terdiri dari Henna Simple seharga 30 s.d. 60 ribu rupiah, Henna Wedding dengan segala macam corak dan tingkat kesulitannya yang semakin tinggi dipatok seharga 200 s.d. 300 ribu rupiah. Usahanya ini ia manfaatkan lewat akun Instagram bernama @camilahenna.

Hasil Henna simple dan Henna wedding yang Difa kerjakan. Sumber: Dokumen pribadi Difa Kamila

Namun, pandemi saat ini menjadi cobaan bagi bisnis Difa. Tak pantang henti berinovasi, ia membuat ide baru dalam bisnis henna art-nya. Berawal dari pemikiran bahwa resepsi pernikahan akan tiada sementara, sehingga jasanya ini tak begitu diperlukan. Modal coba-coba, Difa mendapat ide baru untuk menjual Henna Phone Case lewat sistem pre-order. Harga pertama yang ia keluarkan dibandrol 35 ribu per phone case. Lagi-lagi tak menyangka, buah karyanya ini dilirik oleh banyak mata dibuktikan dengan sold out-nya Henna Phone Case dalam hitungan satu sampai dua minggu. Ide yang dikiranya hanya coba-coba ini malah mendatangkan rezeki yang terbilang besar untuk dijadikan pendapatan di usia muda Difa dalam bidang henna art. “Bisa dari ratusan ribu sampai jutaan dalam sekali pre-order,” katanya mengaku.

 Pesanan Henna Phone Case Difa. Sumber: Dokumen pribadi Difa Kamila 

Kisah perjalanan yang Difa jalani ini tentu tak jauh dari rasa kepengin tahu dan merasa perlu terus belajar. Maka dari itu, bekal ilmu tak bisa dilewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dewasa ini pun, ilmu tak sekadar didapat dari buku pelajaran saja. Media sosial dengan teknologi canggihnya sesederhana penggunaan hashtag, bisa diakses dengan mudah kapan saja dan di mana saja. Difa berpesan kepada teman-teman Injo.id yang masih takut dan ragu untuk mulai menyalurkan passion. “Pokoknya mulai saja dulu, banyak platform yang bisa jadi referensi belajar untuk kita memulai. Jadi gak usah takut gagal. Karena gagal juga termasuk proses pembelajaran.”

Nah, dengar sendiri kan apa tips kesuksesan pebisnis muda ini? Jadi, tak usah merasa ragu apalagi malu menganggap bakatmu hanya serpihan remeh saja. Yuk asah dengan memanfaatkan teknologi canggih masa kini! Tak usah buru-buru dengan materinya, lewat medium itu kamu bisa cari tahu ilmunya tanpa mengeluarkan ongkos yang banyak.

Kisah Difa juga mengingatkan kita bahwa Allah akan selalu memberikanmu kejutan-kejutan manis yang tak disangka nilainya saat kamu mencari ilmu yang benar. Selaras dengan firman-Nya:

یَرۡفَعِ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ ۙ وَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ

“Niscaya Allah akan mengangkat atau meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti tentang apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah ayat 11).

Redaktur: Prita K. Pribadi