Cintai Diri, Satu Persen Tiap Hari

Mencintai diri sendiri bisa dengan melakukan tips menambah hal baik 1% saja setiap hari. Definisi 1% disini bukan berarti makna yang sesungguhnya secara matematis, namun angka kecil pada suatu kebaikan meskipun hanya sedikit di tiap harinya.

Cintai Diri, Satu Persen Tiap Hari
Cintai Diri, Satu Persen Tiap Hari. Sumber: student.binus.ac.id

Berbicara tentang cinta rasanya akan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, satu kata penuh makna ini mampu membuat banyak orang memperoleh kebahagian. Pun atas nama cinta pula banyak manusia merasakan luka yang mendalam. Maka agar tak salah melampiaskan cinta, ada satu hal yang perlu dipahami yaitu cinta adalah karunia-Nya. Allah-lah yang menanamkan pada hati manusia sebagai bentuk cinta dari-Nya. Bahkan lebih dari itu, Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayang sebagai tanda orang beriman. Seperti yang tertuang dalam salah satu ayat di Surat Maryam.

وُدًّا الرَّحْمٰنُ لَهُمُ سَيَجْعَلُ الصّٰلِحٰتِ وَعَمِلُوا اٰمَنُوْا الَّذِيْنَ اِنَّ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (QS. Maryam : 96).

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa rasa kasih sayang termasuk cinta adalah pemberian dari Allah. Maka mustahil Sang Pencipta memberikan sesuatu yang buruk untuk hamba-Nya. Tidak mungkin pula Allah memberikan rasa cinta namun justru membuat seorang hamba bertambah dosa. Oleh karena itu jika ada rasa yang membuat manusia justru menjauh dari-Nya, melakukan perbuatan-perbuatan yang Allah tidak suka, maka pasti itu bukan cinta. Sebaliknya, cinta seharusnya mampu dijadikan “alat” untuk mendapat kebahagiaan kelak di surga.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar dapat mewujudkan hal tersebut?

Dimulai dengan hal terdekat, yaitu mencintai diri sendiri. Hal ini tak hanya sekedar memberi yang terbaik dalam urusan dunia, namun juga dalam perkara akhirat. Tak hanya sekadar memberikan makanan atau pakaian yang terbaik bagi diri sendiri, namun juga melakukan ibadah yang terbaik yang kita mampu. Seperti dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali mengatakan bahwa “menyayangi diri sendiri itu sama dengan menyelamatkan dirinya dari azab Allah lewat menjauhi dosa, taubat, melakukan amal saleh dan ikhlas sebelum menyelamatkan orang lain.

Sebenarnya sebagai seorang muslim, mencintai diri sendiri dapat dikatakan sebagai kewajiban. Bagaimana tidak? Allah telah memberikan “fasilitas” berupa akal, hati, jiwa, dan raga secara sempurna dan gratis. Maka bersyukur dan menjaga dari kemaksiatan adalah salah bentuk mencintai diri sendiri. Contoh mencintai diri sendiri ketika kondisi pandemi adalah dengan selalu menggunakan masker ketika keluar rumah. Tak hanya sebatas itu, bagi seorang wanita muslimah seharusnya juga akan menutup aurat secara sempurna, dan itu adalah bentuk mencintai diri yang sesungguhnya. Ia berusaha melindungi dirinya tak hanya dari virus corona namun juga dari dosa dan siksa api neraka.

Tak hanya itu, mencintai diri sendiri bisa dengan melakukan tips menambah hal baik 1% saja setiap hari. Definisi 1% disini bukan berarti makna yang sesungguhnya secara matematis, namun angka kecil pada suatu kebaikan meskipun hanya sedikit di tiap harinya. Misalnya, kemarin kita bangun jam 4 pagi, maka hari ini kita berusaha bangun jam 4 kurang 1 menit. Perubahan ini mungkin tidak terasa begitu hebat, bahkan mungkin seperti tidak ada bedanya. Namun jika perubahan kecil ini kita lakukan secara terus menerus dan konsisten, maka di hari ke-30 kita dapat bangun pada jam 03:30. Tiga puluh menit yang di awal digunakan untuk tidur, maka kini dapat digunakan untuk tahajud. Atau misalnya kemarin kita menghafal 1 ayat dalam Al-Qur’an, hari ini kita menambah 1 ayat hafalan baru. Maka ddalam sebulan kita dapat menghafal 30 ayat. Bayangkan jika kita mampu melakukannya secara konsisten selama bertahun-tahun.

Nah perubahan baik semacam ini adalah salah satu bentuk mencintai diri yang seseungguhnya, karena memanfaatkan apa yang telah Allah berikan sebagai ibadah. Maka tak perlu sibuk memikirkan, “hari ini aku jalan kemana ya?”, namun sibuklah untuk mengenali potensi diri, pandai melihat kira-kira kebaikan apa yang dapat dilakukan. Tak perlu muluk-muluk, cukup dimulai dari 1 % setiap harinya. Sebagaimana di dalam hadis disebutkan bahwa Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Redaktur: Prita K. Pribadi