Comeback dari ‘Overthinking’ yang Enggak Penting

Kita semua sepakat bahwa memikirkan dunia, memikirkan masa depan, memikirkan sesuatu yang belum terjadi, itu memang manusiawi. Kita juga sepakat bahwa overthinking adalah hal lumrah sebagai manusia. Namun, overthinking adalah salah satu ujian bagi orang iman. Lalu, bagaimana menghadapi situasi tersebut?

Comeback dari ‘Overthinking’ yang Enggak Penting
Ilustrasi overthinking. Sumber: tipspengembangandiri.com

Overthinking bukan istilah baru di zaman sekarang. Istilah ini sudah sangat akrab dengan kita. Tidak bisa dipungkiri, semua orang pernah mengalami fenomena ini. Bahkan sahabat Nabi Muhammad saw pun mengalaminya. Dalam Sunan Ibnu Majah 4239 disebutkan,

عَنْ حَنْظَلَةَ الْكَاتِبِ التَّمِيْمِى الأُسَيِّدِيِّ قَالَ كُنَّ عِنْدَ رَسُوْلِ اللَّه صلّ الله عليه وسلّم فَذَكَرْنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَحَتَّى كَاَنَّا رَأْيَ الْعَيْنِ فَقُمْتُ اِلَى اَهْلِى ووَلَدِى فَضَحِكْتُ وَلَبِعْتُ. قَالَ فَذَكَرْتُ اَلَّذِى كُنَّا فِيْهِ فَخَرَجْتُ فَلَقِيْتُ ابَابَكْرٍ فَقُلْتُ نَافَقْتُ فَقَالَ ابُوبَكْرٍ اِنَّا لَنَفْعَلُهُ فَذَهَبَ حَنْظَلَةُ فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِ صلّ الله عليه وسلم فَقَالَ يَاحَنْظَلَةُ! لَوْ كُنْتُمْ كَمَا تَكُونُونَ عِنْدِى لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلٰىِٔكَةُ عَلَى فُرُشِكُم (اَو عَلَى طُرُوقِكُم) يَاحَنْظَلَةُ! سَاعَةٌ وَسَاعَةٌ

“Handzolah At-Tamimi Al-Usaiyidi, seorang juru tulis, berkata kami bersama Rosul SAW dan kami berbicara tentang surga dan neraka seolah-olah ada di depan mata. Lalu aku beranjak pada keluarga dan anakku dan aku tertawa dan bermain (bersama mereka). Lalu aku ingat tentang (keadaan) saat bersama nabi, maka aku keluar dan bertemu Abu Bakar. Aku berkata: Aku munafik! Abu Bakar berkata: kita semua melakukannya. Lalu Handzolah pergi dan lapor pada nabi. Nabi bersabda: wahai Handzolah! Seandainya kamu selalu (berlaku) seperti saat bersamaku, maka para malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu (atau lafaznya di jalan-jalanmu) wahai Handzolah! Sesaat begini, sesaat begitu.”

Dari hadis ini kita bisa melihat keresahan Handzolah yang merasa dirinya munafik karena memikirkan akhirat hanya saat bersama Nabi. Padahal menurut Nabi, itu adalah hal lumrah sebagai manusia. Beliau overthinking dalam urusan akhirat. Berbeda dengan kita yang sering kali overthinking karena urusan keduniaan. Kadang kita terlalu memikirkan penilaian orang lain, memikirkan masa depan, memikirkan hal-hal yang belum terjadi, membandingkan kehidupan kita dengan hidup lain di media sosial, dan sebagainya.

Kita bisa menangis tersedu-sedu sebelum tidur, meresahkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Tapi kita lupa bahwa penilaian manusia yang pandangan dan pendengarannya terbatas itu tidak lebih penting dari penilaian Allah. Kita sering merasa susah dan insecure melihat instastory orang lain yang terlihat begitu bahagia dengan barang-barang mewah dan teman-teman yang mengelilinginya. Padahal apa yang diperlihatkan pada kita di media sosial adalah hal-hal indah di luar dirinya. Dalamnya bisa saja nelangsa. Kita pernah berjam-jam memikirkan masa depan. Apa kita bisa mewujudkan harapan orang tua? Apa kita bisa ‘jadi orang'? Sudah usia nikah, tapi kok jodoh tak kunjung datang? Padahal di antara angan panjang yang kita pikirkan berjam-jam itu ada ajal yang kapan saja bisa datang menjemput. Bisa jadi, ajal yang datang lebih dulu daripada jodoh. Sering kali, yang membuat kita overthinking adalah masalah dunia yang nilainya kecil bagi Allah. Nabi bersabda,

مَا پَيْنِ وَبَيْنَ الدُّنْيَا شَيْىٌٔ

“Tidak ada (hubungan apa pun) antara aku (nabi) dan dunia.” (HR : At-Tirmidzi)

Kita semua sepakat bahwa memikirkan dunia, memikirkan masa depan, memikirkan sesuatu yang belum terjadi, itu memang manusiawi. Kita sepakat bahwa overthinking adalah hal lumrah sebagai manusia. Tapi, sebagai manusia juga, kita harus sepakat juga bahwa hidup di dunia ini tujuannya tidak lain adalah untuk beribadah pada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Kami (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (pada Allah)”

Maka di saat kita sibuk dengan overthinking kita, ingatlah bahwa tugas kita yang sebenarnya adalah beribadah pada Allah. Bahwa ada yang lebih penting daripada memikirkan hal-hal duniawi, yaitu beribadah. Hidup kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Hidup orang yang kita khawatirkan penilaiannya, yang kita bandingkan di media sosial juga akan mereka pertanggungjawabkan. Tidak perlu segitunya sampai berjam-jam meratapi dunia. Memikirkan dunia cukup untuk mengambil hikmahnya, jangan hanyut dalam pengandaian dan penyesalan.

Overthinking adalah salah satu ujian bagi orang iman, dan Allah sedang menunggu comeback kita dari perasaan yang berlarut-larut itu. Nabi saw bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan kesalahannya.” (HR. Bukhari)

Ingatlah bahwa kita adalah orang iman. Yang rasa insecure-nya, overthinking-nya jadi pelebur dosa. Overthinking itu manusiawi dan hampir pasti kita alami. Maka, daripada overthinking urusan dunia yang nilainya kecil, mari mengganti overthinking kita dengan sesuatu yang nilainya lebih besar, yaitu memikirkan surga. Mulailah memilah prioritas apa yang perlu kita pikirkan dalam-dalam. Apakah overthinking memikirkan penilaian orang lain itu worth it? Kalau perlu, hapus saja media yang membuat kita overthinking dan meratapi kemalangan diri. Lebih baik kita overthinking memikirkan antara umur sudah berapa, amalan sudah berapa. Ilmu sudah berapa, yang diamalkan sudah berapa.

Redaktur: Ubaid Nasrullah