Consummate Love: Merajut Cinta Sempurna Setiap Hari

Semakin keras manusia ingin selalu dicintai, maka ia akan mengalami kekecewaan dan penderitaan bertubi-tubi. Kebanyakan orang selalu ingin dicintai, padahal berharap pada manusia terdapat resiko yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan mencintai.

Consummate Love: Merajut Cinta Sempurna Setiap Hari
Potret pasangan suami istri, M. Hery Purnomo Asean dan Nurul Maisaroh yang tampak harmonis hingga masa tuanya. Sumber: Dokumen pribadi M. Hery Purnomo Asean

Dunia cinta memang selalu menarik untuk dibahas, dimana kita akan menemukan bermacam kisah seperti peristiwa  yang membuat Qabil dan Habil berseteru hebat. Sudah sewajarnya setiap orang akan merasakan cinta, tapi tentu terdapat ragam warna yang berbeda dari setiap cerita cinta. Tak menutup kemungkinan, hal-hal yang tak menyenangkan hadir dalam teritorial cinta, sebab ketidakmampuan memahami manusianya itu sendiri.

Kerap kali ada anggapan, hubungan yang kian menahun akan turut melunturkan suasana romantis. Alasannya beragam−mulai dari fisik yang menua, raga yang melemah, dikejutkan dengan kepribadian pasangan yang berbeda dari sebelumnya, hingga pertikaian yang mengaitkan penuntutan hak. Bahkan tak sedikit juga masalah dapur rumah tangga menjadi alasan untuk tak lagi bersama. Beberapa pemicu kegagalan hubungan itu, membuat sebagian anak muda menunda pernikahan bahkan tak memprioritaskannya karena digentayangi bayang-bayang buruk tersebut. Namun, tahukah kamu? Kesempurnaan memang tidak ada yang utuh. Maka kesempurnaan itu akan lebih baik jika kita sendiri yang membuatnya. Terkadang, kita menjadi lupa, masih ada perasaan syukur yang harus selalu ditanamkan.

Sempurnanya cinta tersebut tercermin dari rajutan 15 tahun kisah pasangan M. Hery Purnomo Asean dan Nurul Maisaroh. Bukan cinta yang lama kelamaan meluntur, melainkan semakin menguat. Saat diwawancara di kediamannya pada Selasa (02/03), dengan senyum malu-malu Bu Nurul menuturkan, “Bapak itu kalau manggil saya ya sayang aja, suka malu kadang, didepan anak atau didepan yang lain tetapi manggil 'yang'. Tapi kata Bapak ngapain malu? Orang manggil sayang ke istri sendiri, bukan ke istri orang lain."

Kisah keluarga sederhana yang datang dari Kabupaten Sumedang ini tak luput dari terjangan masalah layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Namun dengan perasaan mau mengakui kesalahan dan tak mengedepankan ego, menjadi tameng untuk menjaga keharmonisan mereka. Seringkali kata maaf tak malu dilayangkan oleh mereka. “Selama ini hanya empat kali mengalami permasalahan internal dengan suami. Itu pun langsung dibicarakan baik-baik, sehingga tidak pernah menjadikan masalah yang berlarut-larut,” cerita Bu Nurul kepada tim injo.id.

Secara psikologi dalam Triangular Theory of Love yang dikembangkan oleh Robert Jeffrey Stenberg, terdapat tiga komponen agar dapat mencapai kesempurnaan cinta ala Pak Hery dan Bu Nurul diantaranya; intimacy (keintiman) yang melibatkan perasaan kedekatan, keterhubungan, dan ikatan. Passion (gairah), melibatkan perasaan dan keinginan yang mengarah pada ketertarikan fisik, romansa, dan pemuasan seksual. Commitment (komitmen), perasaan yang membuat seseorang tetap bersama dengan seseorang dan bergerak menuju tujuan bersama. Keseimbangan dari ketiga komponen ini disebut Consummate Love atau cinta yang sempurna.

Adapun kutipan favorit yang selalu aku ingat dari Erich Fromm tentang cinta-mencinta, bahwa semakin keras manusia ingin selalu dicintai, maka ia akan mengalami kekecewaan dan penderitaan bertubi-tubi. Kebanyakan orang selalu ingin dicintai, padahal berharap pada manusia terdapat resiko yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan mencintai. Dengan mencintai saja, akan menimbulkan timbal balik yang rasanya lebih dahsyat. Seperti perasaan Pak Hery pada sang istri yang begitu romantis. “Kalau ada perempuan yang mau sayang sama saya, menerima keluarga saya apa adanya, saya akan lebih, lebih dari itu sayangnya.”

Bu Nurul turut menambahkan, “Tiap hari Bapak itu bilang I love you, dari awal nikah sampai sekarang. Kadang saya suka malu sendiri, Bapak itu suka ngelihatin, kayak muka-muka yang suka sama perempuan geuningan, kayak muka-muka cinta gitu, saya jadi suka malu sendiri.”

Ibu dari dua anak ini juga berpesan, bahwa jangan memberikan cinta 100% sebelum menikah. Sebaliknya, setelah menikah cinta bisa diberikan sepenuhnya. Kuncinya ada pada komunikasi. Setiap masalah dibicarakan, saling berbagi, dan memberi semangat. Kebanyakan masalah datang justru tekanan dari luar rumah tangga, tapi dengan sikap keterbukaan setiap permasalahan terselesaikan.

“Bahkan masalah uang mbak, kita gak ada uang istri ya uang istri, uang suami ya uang istri. Semua ya bareng-bareng, sejak awal nikah udah kayak gitu. Yang penting saling percaya dan terbuka aja,” lanjut ceritanya.

Positive vibes yang dibangun oleh keduanya, ternyata berpengaruh terhadap mendidik anak. Dipenuhi rasa cinta seperti itu, membuat anak tumbuh kembang dengan mempunyai perasaan yang lembut. “Anak-anak udah ngerti kalau ayahnya memang seperti itu, sering ngomong cinta, sayang ke ibunya. Anak gak pernah lihat orang tuanya berantem.”

Keluarga sederhana dari M. Hery Purnomo Asean bersama istri dan anak-anaknya dikediamannya, Kabupaten Sumedang. Seumber: Dokumen Pribadi M. Hery Purnomo Asean

Keharmonisan mereka pun disaksikan oleh Bu Widi, teman sejawat Bu Nurul di pengajian masjid. “Iya Pak Hery itu memang biasanya manggil istrinya dengan ‘yang’ gitu, padahal lagi rame,” katanya saat ditemui tim injo.id pada Selasa (09/03).

Setelah menyimak kisah romantis mereka, sudahkah kamu dan pasangan mencapai tahap cinta sempurna? Meski kelihatan mudah−komukasi yang baik, rasa saling percaya, dan tidak malu mengakui kesalahan menjadi tips berharga. Dengan begitu, kamu akan selalu merasa lebih bersyukur. Nah, bagi kamu yang belum memiliki pasangan, kisah ini bisa banget disimpan dan dipelajari sebagai bekal nanti. So, ini kisah mereka, bagaimana kisah romantismu?

Redaktur: Prita K. Pribadi