Dapat Beasiswa Kuliah di Taiwan, Balasan Sempurna Allah untuk Perjuangan Gadis Pemimpi

Siapa nih yang pernah insecure dengan biaya dan segala perjalanannya untuk berkuliah di luar negeri? Padahal Allah SWT pernah berfirman, saat manusia berusaha dengan sungguh-sungguh maka akan dipermudahkan jalannya. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (An-Najm 39-41)

Dapat Beasiswa Kuliah di Taiwan, Balasan Sempurna Allah untuk Perjuangan Gadis Pemimpi
Rosvirgo Intan berfoto di depan asrama kampusnya. Ia sebagai mahasiswa asal Indonesia yang berhasil mengejar mimpinya hingga berkuliah di Tungfang Design University, Taiwan. Sumber: Dokumen pribadi Rosvirgo Intan.

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap  muslim.” Begitulah pepatah yang sudah tidak asing kita dengar. Setelah mendengar pepatah terkenal ini, apa yang terlintas di benakmu tentang cara menggapai mimpi?

Nah kali ini, kami ingin berbagi cerita tentang seorang gadis bernama Rosvirgo Intan yang berjuang meraih impiannya, sampai benar-benar menginjakan kaki di tanah Republik Cina atau Tiongkok tersebut.

Ya, pemilik nama unik yang akrab dipanggil Intan ini berhasil meraih impiannya untuk menempuh pendidikan S1 di sebuah negeri Naga Kecil Asia, Taiwan. Namun, siapa sangka kalau pencapaiannya justru banyak melalui ragam rintangan? Mulai dari keadaan materi hingga ilmu bahasa yang belum mumpuni. Berbeda dari orang kebanyakan, walaupun ia sadar berangkat dari keluarga menengah, semangatnya tak ikut surut untuk meraih mimpinya itu. So, siapa nih yang pernah insecure dengan biaya dan segala perjalanannya untuk berkuliah di luar negeri? Padahal Allah SWT pernah berfirman, saat manusia berusaha dengan sungguh-sungguh maka akan dipermudahkan jalannya.

وَاَ نْ لَّيْسَ لِلْاِ نْسَا نِ اِلَّا مَا سَعٰى ۙ وَاَ نَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰى ۖ  ثُمَّ يُجْزٰٮهُ الْجَزَآءَ الْاَ وْفٰى

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (An-Najm 39-41)

Berawal dari seorang teman, Intan mendapatkan informasi beasiswa untuk jenjang S1 di Taiwan. Jarak yang jauh, biaya terlampau tinggi, dan kendala bahasa, awalnya sempat membuat sulung dari tiga bersaudara ini ragu. Terlebih sadar dengan posisinya sebagai anak tertua, ia berpikir bahwa keluarga akan sering membutuhkannya. "Lagian kalau ke Taiwan, nanti siapa yang bantuin ibu menuhin kebutuhan sehari-hari?" katanya sambil mengenang saat diwawancarai via WhatsApp, pada Kamis (01/04).

Setelah melalui fase dilema, ia pun menyadari hal lain bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali. Melihat peluang beasiswa itu, justru bisa membantu keluarga dengan nilai yang lebih tinggi. Tak sekadar materi, namun berkat ilmu di sana akan lebih bermanfaat sebagaimana ilmu selalu melekat dan dibawa sepanjang hayat. Sifat semangatnya ini, akhirnya berhasil mendapatkan restu keluarga terutama dari sang Ibu dan Ayah. Mereka teramat supportive saat Intan memutuskan bersaing dengan ribuan orang pendaftar.

Membayangkan proses seleksi yang panjang itu, tak membuat nyali gadis manis asal Bojong Gede ini ciut. Apa pun dilakukannya, termasuk menjual motor hasil kerja kerasnya berjualan online. Semua itu direlakan demi memenuhi segala persyaratan beasiswa tersebut. Mulai dari modal membuat dokumen keberangkatan, mengikuti les bahasa Mandarin, hingga biaya awal untuk numpang hidup di negeri orang. 

Nah karena prosesnya lumayan panjang, biaya yang harus aku keluarin juga banyak. Apalagi aku juga harus bikin paspor, visa, sampai menyiapkan uang pegangan untuk tinggal di sana. Karena orang tua gak punya biaya sebanyak itu, aku mutusin buat jual motor,” kata Intan.

Setelah mengalami banyak pengorbanan, tiba saatnya pengumuman hasil seleksi beasiswa tersebut. Percaya dengan pepatah “usaha tak akan menghianati hasil”, Intan membuktikan dapat mengalahkan ribuan orang hingga berhasil mendapatkan beasiswa dari Tungfang Design University. Masya Allah!

Resmi dinyatakan sebagai mahasiswa jurusan Food & Beverege di Tungfang Design University, pada November 2017 menjadi pembuka hidup barunya di sana walaupun dengan bahasa Mandarin pas-pasan hasil les beberapa bulan. Tentu saja hal itu akan menjadi kisah perjuangan barunya. Bayangkan saja, kemampuan bahasa Mandarin yang jauh dari fasih mengharuskan Intan berusaha mengerti apa yang dosen jelaskan. Sebab nyatanya, keberadaan warga lokal gak selalu membantu. Masalahnya, kebanyakan dari mereka gak bisa bahasa Inggris. Lebih parahnya lagi banyak juga yang malas menanggapi pendatang yang belum fasih berkomunikasi dalam bahasa setempat. Bahkan bukan sekali dua kali Intan mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari warga lokal di sana.

“Aku sempat pas di kelas itu dibedain anak Indonesia sama anak Taiwan dipisah lah. Jadi anak Taiwan sama Taiwan, anak Indonesia sama Indonesia. Begitulah hidup di negara orang memang harus strong ya,” jelas Intan.

Namun kabar baik datang dari kampus. Pihaknya menyediakan fasilitas penerjemah agar mahasiswa asing tidak kebingungan saat mendengar petuah dari dosen. Selain itu, kampusnya ini berbaik hati menyediakan kelas bahasa yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa.

“Di sana ada beberapa mahasiswa Indonesia juga yang udah lama tinggal di Taiwan. Otomatis, bahasa Mandarin-nya udah bagus banget. Jadi pas di kelas, setelah dosen nerangin, mereka bakalan nerjemahin apa yang dosen omongin. Dan ini berlaku selama satu semester,”

Masalah satu selesai, maka datang masalah lainnya. Mendarat dengan bekal uang pas-pasan, Intan terkendala dengan biaya kebutuhan pribadi. Walaupun sebagai penerima beasiswa berhak mendapatkan pendidikan gratis dan uang bantuan untuk sehari-hari, namun uang tersebut tak lebih cukup untuk menutupi biaya lainnya. Seolah memutar otaknya dan selalu gak kehabisan akal, akhirnya Intan memutuskan untuk membuka jasa katering bersama teman sekelas. Lucunya, ide ini muncul dari teman-temannya yang seringkali mengeluh betapa sulit menemukan makanan halal di negeri ini. 

“Aku buka katering sama tiga teman sekelasku. Kebetulan mereka ini asalnya dari daerah yang berbeda-beda. Ada yang dari Bogor, Solo, sama Semarang. Nah karena asalnya beda-beda, kita jadi bisa masak makanan dari berbagai daerah,”

Alhasil peluang ini dimanfaatkan oleh Intan dan kawan-kawan dengan membuka jasa katering khusus masakan halal khas menu Nusantara. Tak disangka, usaha ini disambut antusias terutama dari mahasiswa sesama pendatang Indonesia. Katanya, mereka kangen berat sama masakan lokal asal daerahnya! Membentangkan sayapnya lebih lebar, yang awalnya makanan ini hanya mendapatkan pesanan dari teman sekalas, malah jadi serbuan mahasiswa Indonesia lain dari berbagai jurusan di kampusnya. Membuktikan pula bahwa usaha yang dikembangkan tidak main-main dengan cita rasa yang lezat, porsi kenyang, dan harga merakyat! 

“Menunya sendiri macam-macam'; mulai dari nasi bakar cumi, ayam penyet sambal matah, sambal goreng udang sampai pempek juga ada,” cerita Intan saat membahas bisnis yang dijalaninya.

Alhamdulillah meski lelah, usaha katering ini mendatangkan banyak berkah. Bukan sekadar mengasah skill memasak atau bisa mencicipi makanan Indonesia kapan saja, melainkan pundi-pundi uang yang masuk membuat Intan mampu bertahan di perantauan. Hebatnya lagi, semua itu dilalui tanpa sepeser pun kiriman dari orang tua. Kebalikannya, Intan justru rajin mengirimkan uang untuk keluarganya di Indonesia.

Kini, hampir empat tahun Intan berada di Taiwan. Nyatanya, tinggal di negeri orang tidak selalu menderita seperti yang dia bayangkan. Tentu saja semua butuh perjuangan, tapi selama ada keinginan keras, masalah sesulit apa pun pasti bisa teratasi dengan berusaha. Perjalanan Intan juga mengingatkan kita pada firman Allah SWT di bawah ini.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

Yap! Berangkat dalam keadaan pas-pasan, Intan mengubah kesulitan menjadi keberhasilan. Baik bagi diri mau pun keluarganya, sebagaimana yang sempat ia khawatirkan akan masalah kebutuhan sehari-hari di rumah asal. Ia mampu memenuhi segala aspek kehidupannya itu. Pantang menyerah dan tak henti berdoa, rupanya menjadi hikmah berupa kesuksesan yang baru tak disangka-sangka, tentunya bermanfaat pula bagi orang di sekitar Intan.

Lalu bagaimana dengan kamu? Sudah sejauh mana perjuanganmu dalam menggapai mimpi?

Redaktur: Prita K. Pribadi