Dari Ibu Untuk Ibu, Barokah Kesuksesan Pebisnis Muda

Tahun 2017, menjadi momen yang menyakitkan sekaligus penuh hikmah bagi Savira Arvianti Putri. Ia dan keluarga harus menerima kenyataan bahwa sang Ibu terjangkit kanker, mengharuskannya untuk kemo terapi secara rutin. Sadar akan posisinya sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia  bertekad mencari peruntungan di bidang lain untuk membantu keluarga sederhananya itu.

Dari Ibu Untuk Ibu, Barokah Kesuksesan Pebisnis Muda
Savira Arvianti Putri, seorang pebisnis muda dimana ia terinspirasi dari ibunya yang sedang sakit. Sumber: instagram.com

Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang jalan. Begitu pepatah mengatakan. Tahun 2017, menjadi momen yang menyakitkan sekaligus penuh hikmah bagi Savira Arvianti Putri. Ia dan keluarga harus menerima kenyataan bahwa sang Ibu terjangkit kanker, mengharuskannya untuk kemo terapi secara rutin. Sadar akan posisinya sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia  bertekad mencari peruntungan di bidang lain untuk membantu keluarga sederhananya itu.

Keyakinan selalu Savira tanamkan dalam menjalankan tekadnya. Tahap demi tahap ia jalani dengan perawalan menjadi reseller di toko pakaian, ia memanfaatkan media sosial Instagram untuk berjualan. Menjalani satu tahun sebagai reseller pakaian wanita dan telah memiliki pasar, ternyata membuat Savira tertantang untuk membuat produk sendiri. Terlebih ia memang menyukai bidang fashion, semakin mantaplah ia dengan keyakinan ini sekali lagi.

Memulai bisnis ini punya hikmah tersendiri bagi Savira. Ternyata ketulusannya membantu orang tua dengan perjuangan yang telah ia kerahkan sepenuhnya tak ada yang percuma. Malah membuat ia semakin mencintai keluarganya terutama sang ibu. Terbukti dengan bisnis yang berumur panjang, tak disangka hanya merogoh kocek 120 ribu rupiah saat membangun bisnisnya, ia bisa melahirkan produk bernama tars.id menjadi sebesar sekarang.

Laman Instagram produk tars.id yang telah dikenal orang banyak. Sumber: instagram.com

Kurang lebih hampir tiga tahun, ia sudah menjalani bisnis ini dengan segala suka dan duka. Ia mampu mengeluarkan ratusan pakaian setiap bulannya, dengan meraih omset 50 hingga 60 juta rupiah. Jangan kaget ya, angka sebanyak itu ia dapatkan selama masa-masa sulit, yakni pada keadaan pandemi Covid-19 loh! Wow, kebayang gak sih, omset sebelum pandemi berapa? Menggiurkan banget pasti!

Banyak mimpi yang selalu ia dambakan. Memulai bisnis ini sungguh melampaui ekspektasi Savira hingga menjadi berkembang. “Sebetulnya aku bukan orang yang punya goal terlalu jauh. Aku orangnya realistis banget. Jadi aku anti banget mimpi yang susah digapai. Jadi aku lebih ke mimpi-mimpi yang jangka pendek aja gitu,” kata Savira mengaku saat diwawancarai via WhatsApp, pada Kamis (01/04).

Walaupun begitu, Savira bersyukur dengan apa yang ia tekuni hingga saat ini. Mengingat tak ada satu pun anggota keluarganya yang dilatarbelakangi pebisnis, membuat ia bangga dan selalu belajar melalui tars.id. “Buat orang yang baru mulai usaha, ya udah mulai aja karena kita gak pernah tahu gimana kalau gak dimulai,” katanya sembari memberi pesan bagi para pemuda yang berniat memulai bisnis. “Buang mind set kalau bisnis itu perlu bakat, karena sebetulnya gak perlu bakat, let it flow, dijalanin aja.”

Tak melulu soal keuntungan pribadi, menciptakan tars.id adalah upaya membahagiakan keluarga. Ia berharap, nantinya bisnis ini dapat bertahan lama dan bisa mempekerjakan banyak penjahit agar dapat menjadi sumber penghasilan yang menetap untuk keluarga. “Harapan aku kedepannya semoga tars.id bisa lebih maju lagi, lebih untung lagi. Bukan semata-mata buat untung ke aku, tapi aku pengin banget ngasih kebahagiaan ke orang-orang sekitar aku.”

Sadar dengan perkembangan dunia bisnis yang persaingannya semakin hari terasa lebih ketat, mendorong Savira untuk bekerja lebih keras dan selalu membuat inovasi agar pelanggan tidak beralih. Tentu hal itu tidak mudah, berlaku bagi Savira apalagi pada usianya yang masih muda.

Ia mengungkapkan pernah punya pengalaman pahit dengan kerugian yang jumlahnya terbilang besar. Namun mengingat sang Ibu, terbangun kembali motivasinya untuk pantang menyerah. “Aku pernah juga ditipu sampai puluhan juta sama supplier bahan aku,” terang Savira.

Tak hanya itu, kadang orang-orang sekitarnya menganggap remeh pekerjaan ini sebab Savira yang seringkali berada di rumah. Padahal mereka tak tahu bagaimana ia mengalami gejolaknya naik turun bisnis yang mengharuskannya tahan banting, sehingga mampu menerjang apa-apa kendala yang datang. "Ada juga sih perjuangannya kayak mental juga," ungkapnya. "Aku jualan itu kan lagi kerja ya, maksudnya gak cuma rebahan doang..... karena mereka gak tahu gimana perjuangan aku, gimana aku udah dapetin selama ini," "Jadi aku tuh senang sendiri, sedih sendiri," cerita Savira.

Pasang surut yang ia temui di tengah jalan itu membuatnya harus belajar mengatur emosi. Perjuangan yang cukup memakan banyak waktu dan tenaga ini tak mau ia buang sia-sia begitu saja dengan mengeluh. “Gimana caranya aku bangkit dengan gak sedih-sedihan, karena mamah aku tuh penyakitnya yang butuh orang disekitarnya, support dan penuh kebahagiaan.”

Dari ibu, untuk ibu. Begitulah bisnisnya dibuat dan bentuk kecintaannya pada ibu. Itu juga salah satu alasan Savira selalu bertahan dan bekerja keras. Berbisnis menjadi bentuk usahanya agar terus berkarya dan menjalani kehidupan seperti biasa tanpa banyak merenungkan kemalangan nasib sang ibu.

Terlebih punya bisnis sendiri ternyata tak membuat ia jauh dengan keluarga. Justru sebaliknya sebab ia punya banyak waktu di rumah, selagi karyawan mengoperasikan bisnisnya. Ditambah lebih dekat dengan Allah juga membuat ia kepengin berdiam di rumah saja. Menjadi ibu rumah tangga dan menciptakan pekerjaan saja yang bisa dipantau tak jauh dari rumah. Itu yang menjadi cita-citanya sejauh ini.

Dialah Savira, sosok perempuan dengan jiwa semangat yang luar biasa menunjukan bahwa generasi muda tidak boleh mudah berputus asa. Keterbatasan dan kondisi terpuruk tak membuat ia jatuh ke lubang yang lebih dalam. Tak merenung di tempat yang gelap, ia bangkit melewati apapun rintangan di tengah jalan untuk menemukan cahaya. Yakin bahwa harapan itu selalu dan masih ada.

Lalu, bagaimana caramu untuk bangkit setelah jatuh bertubi-tubi?

Redaktur: Prita K. Pribadi