Dear Hati, Merdekalah Tanpa Perlu Pengakuan Orang Lain

Siapa yang setuju kalau hidup adalah pembelajaran? Seperti istilah yang sering kita dengar, yang kurang lebih bunyinya: pengalaman adalah guru terbaik. Melihat dari kalimat itu, saya pribadi berpikir bahwa berani mencoba adalah salah satu cara untuk belajar hingga mendapatkan pengalaman, pembelajaran, mengenal, dan lain sebagainya yang sifatnya mengembangkan karakter dan potensi diri. Hingga akhirnya, hal positif itu membangun kualitas diri yang semakin baik.

Dear Hati, Merdekalah Tanpa Perlu Pengakuan Orang Lain
Gaya berpakaian syar'i ala artis manis Alyssa Soebandono. Sumber: gitacinta.com

Kalau suatu negara perlu pengakuan untuk disebut merdeka, maka hatimu tidak memerlukan itu. Tak usah punya wilayah di hati orang lain agar disebut merdeka. Kalau dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti merdeka adalah bebas, maka saya sarankan untuk kita semua bebas melakukan apa saja selagi itu baik tanpa perlu pengakuan orang lain ditambah segala keresahan karena memikirkan pendapat orang lain.

Bercerita sedikit dari kisah teman saya yang diajak untuk ikut mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dekat kampus saya. Ia pernah mengungkapkan, bahwa ia merasa malu untuk menyelami profesi tersebut. Sebab tugas dan tanggung jawabnya yang tak hanya melibatkan penyampaian ilmu, melainkan PR sebagai teladan. Ada juga perasaan takut akan diejek oleh teman lain sebab kurangnya pengalaman. Rasa tak pantas timbul dalam benaknya saat itu, walaupun saya sendiri menyadari bahwa ia bisa melakukannya.

Cerita lain yang barangkali masih digandrungi oleh sebagian pemudi. Hidup di zaman modern yang serba up to date termasuk masalah fashion. Betapa banyaknya gaya berpakaian dan berhijab di sudut jagat raya dan maya. Mulai dari baju panjang dan pendek, sampai jilbab yang juga naik atau turun menutup aurat. Apakah betul kalau berpakaian yang “gombrang” itu tanda ketinggalan zaman dan keibu-ibuan?

Dari dua cerita di atas, apa saja hikmah dan perspektifmu?

Pertama, dibahas dari sisi overthinking yang seakan telah menjadi kebiasaan orang-orang zaman now hehe. Memang yang namanya overthinking ini amat menyiksa rasanya. Hingga membuat tak percaya diri, diam di tempat bahkan mundur langkah. Bahayanya, bisa membiasakan sikap suudzon kepada orang lain. Padahal, siapa yang tahu kalau pengalaman baru dan keberanian bisa benar-benar mengubah hidup kita lebih baik? Misalnya jika mengubah sikap di atas ke hal yang positif, mungkin saya pribadi akan berpikir “Siapa tahu lewat pengalaman baru ini, saya bisa mencari ilmu lebih lagi hingga akhirnya saya belajar agama dengan benar, lalu mengamalkannya. Betapa banyak lahan pahala yang saya dapat selain membuat kulitas hidupku lebih baik”.

Namun, soal mengambil keputusan apalagi untuk hal yang menjadi kepentingan bersama memang layak dipertimbangkan. Dalam Islam, memperkenalkan juga yang namanya penyerahan diri mulai dari musyawarah sampai istikhara. Maka, sebenarnya tak akan ada lagi istilah overthinking di dalam diri. Walaupun tentu amat wajar memiliki perasaan seperti itu, tapi ingat bahwa berpikir boleh saja, sekadar untuk mempertimbangkan beberapa kemungkinan kerugian yang akan ditimbulkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Tapi sekali lagi, jangan sampai berlebihan dan menanamkan sikap suudzon kepada orang lain apalagi Allah.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain." (QS. Al-Hujurat : 12).

Kedua, dari sisi belajar sepanjang hidup. Siapa yang setuju kalau hidup adalah pembelajaran? Seperti istilah yang sering kita dengar, yang kurang lebih bunyinya: pengalaman adalah guru terbaik. Melihat dari kalimat itu, saya pribadi berpikir bahwa berani mencoba adalah salah satu cara untuk belajar hingga mendapatkan pengalaman, pembelajaran, mengenal, dan lain sebagainya yang sifatnya mengembangkan karakter dan potensi diri. Hingga akhirnya, hal positif itu membangun kualitas diri yang semakin baik. Yap! Hal itu termasuk cara berpakaian yang syar’i. Sejatinya pakaian tertutup ini bukan sekadar menutup melainkan sebuah kewajiban yang didasarkan oleh perintah Allah. Yang mana, perintah dan larangan dari Allah Yang Maha Tahu menyimpan banyak keuntungan dan manfaat bagi makhluk bumi.

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf : 26).

Ya! Perempuan adalah perhiasan, maka aurat perempuan sudah seharusnya tak diperlihatkan kepada banyak orang. Kalau sudah begini, yakin masih tergoda dengan hingar binger style yang terbuka mengikuti viralnya sekarang?

وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31).

Untuk kamu yang masih dan sedang belajar mengenai apapun yang nilainya positif, semangat berjuang dan istiqomah ya! Diingat lagi agar mencapai hal tersebut dilakukan atas rida Allah agar selamat dan berkah.

Jadi, kamu tak perlu lagi mengkhawatirkan pikiran orang lain. Fokus saja pada tujuan dan tetap di jalan Allah. Sebab mereka tak akan tahu perjuangan setiap orang yang sudah berusaha bangkit. Kalau terjatuh hanya dengan kalimat yang tak berdasar, tak usah juga jelaskan panjang lebar untuk diakui. Sabar dan yakin saja. Apapun yang sedang dijalani, ingat bahwa kamu tak perlu punya pasangan agar diakui oleh teman. Kamu tak perlu punya tabungan dua sampai tiga digit untuk terlihat sukses. Kamu juga tak perlu menyebutkan apa yang sudah dicapai sejauh ini agar dihargai. Kalau memang dijauhi oleh teman sepermainanmu karena hal yang baik, berpikir positif saja mungkin itu salah satu cara Allah menjauhkanmu dari orang-orang yang membuatmu jauh dari-Nya. Dengan begitu hatimu akan merasa bebas dan kamu sudah memerdekakan dirimu sendiri.

Jadilah seseorang yang bahagia diliputi perasaan yang nyaman. Tetap ibadah dan berdoa kepada Allah untuk selalu menetapi keimanan dan mendapat petunjuk yang sebaik-baiknya. Allah telah menyiapkan panduan hidup yang tersusun rapi dalam kitab suci Al–Qur’an. Insha Allah dengan rutin membaca dan mengaji, tidak akan ada rasa insecure, overthinking atau dengki di dalam hati. Aamiin.

Redaktur: Prita K. Pribadi