Fenomena Penyakit Mental: Terapi Jiwa Secara Imbang Menurut Islam dan Tenaga Ahli

“Mendekatkan diri kepada Allah utamanya,” tutur Mbak Intan. Ikhtiar sebagai orang Islam yaitu dengan memperbanyak beribadah kepada Allah. Pasrahkan semua yang terjadi dan terus berikhtiar sekuat mungkin. Takdir sakit apapun didatangkan oleh Allah, maka kesembuhan pun datangnya dari Allah.

Fenomena Penyakit Mental: Terapi Jiwa Secara Imbang Menurut Islam dan Tenaga Ahli
Terapi kesehatan mental. Source: Canva.

Penyakit mental atau ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) sulit untuk terdeteksi, bahkan membuat orang disekitarnya semakin bingung. Tahun 2016, merupakan titik hidup terberat bagi Bu M. Seorang ibu yang mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya yang dahulu. Hal itu menimbulkan trauma baginya. Bu M juga merasa ada bisikan yang selalu terngiang-ngiang dalam kepalanya, “Nanti saya sekap kamu! Jangan berisik!”

Pada awalnya, anak-anak Bu M merasa bingung karena sudah bercerai dari sang suami dan terlihat baik-baik saja. Namun setelah itu Bu M sering menangis dan berteriak, “Enggak! Jangan ganggu saya!” atau menutup mulut seperti seolah-olah ada yang mengancam atau malah kadang tertawa sendiri. Setelah empat bulan dirasa ada yang kurang beres dengan sang ibu, akhirnya Y membawa ibunya ke psikolog.

Bukan perkara mudah bagi Y untuk mengajak ibunya ke psikolog. Sebab ketika hendak diajak menuju psikolog ibunya berontak dan malah bilang, “Ibu enggak gila nak, masih sehat.” Tetapi Y terus berusaha membujuknya dengan bilang bahwa ini hanya ngobrol saja.

Ternyata menuruti permintaan sang anak adalah hal yang baik juga bagi Bu M. Awalnya Bu M sangat takut menceritakan hal aneh ini kepada psikolog. Namun karena merasa nyaman, lambat laun Bu M mau bercerita juga. Bu M menuturkan terapi yang dijalaninya bertahap dan pelan-pelan. Psikolog yang menangani beliau selalu mendengarkan cerita dan keluhannya dengan sabar. Ada momen ketika psikolognya sedang sibuk dan dialihkan kepada psikolog lain dan Bu M menolak karena treatment yang diberikan berbeda.

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sembuh dari trauma dan halusinasi tersebut. Hingga sampailah pada titik ketika Bu M mendengarkan potongan ayat berikut,

….لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ….

“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. AT-Taubah: 40)

Ayat tersebut menjadi sesuatu yang sangat Bu M ingat, “Potongan ayat itu yang Ibu paling ingat dan membuat tenang. Ibu sekarang lebih dekat sama Allah. Alhamdulillah,” tutur Bu M ketika kami berbincang-bincang di ruang guru karena kebetulan kami menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sama.

Ikhtiar yang dilakukan bisa berjalan maksimal dengan sabar dan bertahap. Walaupun saat itu ada kemungkinan yang lebih parah, tetapi ada dukungan dari keluarga dan alhamdulillah, Allah meng-qodar sembuh. Beliau juga berpesan, “Kita jalani hari ini saja. Jangan terlarut masa lalu dan terlalu mengkhawatirkan masa depan.”

Hikmah dari pengalaman Bu M memberikan pelajaran bahwa keluarga akan menjadi yang selalu ada dan mau membantu kita dikala kesusahan. Ikhtiar yang dilakukan secara istikamah juga insyaallah akan membukakan pintu-pintu solusi dari berbagai kesulitan termasuk dalam hal ini adalah penyakit mental.

Bagaimana Islam menyikapi fenomena ini?

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Intan M. Nurdini, A.Md, seorang mubalighat atau tenaga pengajar di PC LDII Samarang, Garut, penyakit mental atau mendekati ODGJ itu memang ada dan sudah menjadi qodar yang Allah berikan kepada orang tertentu. Entah sejak orang itu lahir maupun saat ia telah dewasa.

Lalu bagaimana terapi menjaga kesehatan mental menurut Islam?

“Mendekatkan diri kepada Allah utamanya,” tutur Mbak Intan ketika saya wawancara via Whatsapp pada Rabu (22/09). Ia juga menambahkan ikhtiar sebagai orang Islam yaitu dengan memperbanyak beribadah kepada Allah. Pasrahkan semua yang terjadi dan terus berikhtiar sekuat mungkin. Takdir sakit apapun didatangkan oleh Allah, maka kesembuhan pun datangnya dari Allah. "Membaca Al-Qur’an sesering mungkin, untuk menjadi obat batin," imbuhnya.

Kalau flashback pada zaman Nabi Muhammad saw, dulu ada seseorang yang meminta bantuan Nabi untuk mendoakan saudaranya yang mengalami gangguan jiwa agar sembuh. Alhamdulillah melalui perantara doa Nabi Muhammad saw, orang yang mengalami gangguan jiwa itu bisa sembuh karena begitu mustajabnya doa Nabi.

Saat ini Nabi Muhammad saw telah tiada. Namun bukan berarti tak ada upaya lain untuk bisa sembuh dari kondisi mental yang terganggu. Sekarang kita pun bisa melakukan proses penyembuhan dengan berdoa dan ikhtiar. Bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan adalah dengan mendatangi tenaga ahli dalam hal ini yaitu dokter jiwa, psikiater, ataupun psikolog.

Kapan seseorang perlu ke Psikolog?

Bapak Adib Setiawan, seorang psikolog di Yayasan Praktek Psikologi Indonesia mengatakan,“Tidak perlu menunggu parah jika datang ke psikologi.” Maksudnya, seseorang bisa langsung mendatangi psikolog jika sudah memiliki gejala seperti sering sedih, sulit tidur, mudah marah, ingin teriak, merasa takut, sulit berkonsentrasi, sulit berpikir atau gejala-gejala yang membuat tidak nyaman. "Hal ini perlu dilakukan untuk membantu meringankan dan menyembuhkan diri," tutur Pak Adib ketika saya wawancara via telepon Whatsapp pada Jumat (24/09).

Langkah pertama yang perlu dilakukan ketika mendatangi psikologi adalah jangan mengkhawatirkan anggapan-anggapan negatif kebanyakan orang mengenai pengobatan yang diterapkan ahli psikologi. Caranya cukup sederhana, buat janji lalu melakukan pemeriksaan. Nanti psikolog akan mendiagnosis apakah pasien mengalami gejala-gejala ringan atau berat, ada levelnya tersendiri. "Setelah itu akan dilakukan terapi sesuai dengan diagnosis awal berupa client centre therapy, hipnoterapi, dan metode lainnya yang sesuai," kata beliau.

Pak Adib menambahkan bahwa pengobatan juga bisa dengan pemberian obat. Ini dilakukan jika pasien sudah parah dan memang benar-benar membutuhkan obat. Sebenarnya tidak jauh lebih baik karena obat memiliki efek ketergantungan. "Lalu ada pula pasien yang enggan meminum obat karena ia merasa nantinya akan menjadi problem baru," imbuh Pak Adib.

Ternyata, metode penyembuhan yang bekerja lebih baik menurut Pak Adib adalah metode terapi. Beliau mengatakan, "Selama ini metode terapi jauh lebih ‘work’ ketimbang obat." Hal ini dikarenakan kekuatan kata-kata memberikan healing yang baik bagi pendengarnya.

Biasanya, terapi yang dilakukan menyesuaikan dengan pandangan pasien terhadap sesuatu. Seorang psikolog tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri. Sebab semuanya perlu dilakukan bertahap agar tidak terjadi mental block. "Contoh, jika seorang pasien memiliki pandangan yang agamis, maka psikolog akan mengarahkan pada hal-hal yang berbau agamis dan pasien percaya hal itu dapat membantu proses penyembuhan lebih cepat," jelas Pak Adib.

Pada dasarnya, semua orang bisa terkena penyakit mental ini. Entah itu anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika perasaan tidak nyaman mulai datang, maka kelola emosimu dengan baik. Jika tak bisa, segera lakukan terapi jiwa yang telah disebutkan di atas ya! Mari saling menguatkan dan semangat terus para pejuang kesehatan mental!

Redaktur: Ubaid Nasrullah