Fenomena Toxic Friend Menyadarkan Kita, Memilih Teman Adalah Hal yang Sah dan Wajar

Memang terdengar manusiawi saat diberi tahu jangan memilih-milih teman. Hal ini dibenarkan jika pemilihannya berdasarkan pola pikir dan karakter baiknya. Tapi kalau sudah menyangkut SARA bahkan materi, kamu harus sadar bahwa kita hanya manusia. Di mata Allah saja kita sama, mengapa hanya karena kulitnya hitam, bahasanya berbeda, atau tidak kaya menjadi kategorimu dalam memilih teman?

Fenomena Toxic Friend Menyadarkan Kita, Memilih Teman Adalah Hal yang Sah dan Wajar
Ilustrasi seseorang merenung karena berteman dengan toxic friend. Sumber: Canva

Memilih teman rasanya tak beda jauh dengan memilih pasangan hidup. Lantaran hal penting ini dapat berpengaruh dalam kenyamanan berkehidupan. Kalau kamu punya kriteria suami atau istri yang baik karena ingin menjalani rumah tangga yang harmonis, maka tak ada bedanya dengan keharusan memilih teman yang baik pula. Sebab kamu berhak bahagia! Terlebih akan berada di lingkungan itu secara terus menerus.

Pernah dengar gak kalau bersosialisasi itu jangan sampai pilih-pilih teman? Menurut kamu arti pilih-pilih yang dimaksud itu bagaimana sih?

Memang terdengar manusiawi saat diberi tahu jangan memilih-milih teman. Hal ini dibenarkan jika pemilihannya berdasarkan pola pikir dan karakter baiknya. Tapi kalau sudah menyangkut SARA bahkan materi, kamu harus sadar bahwa kita hanya manusia. Di mata Allah saja kita sama, mengapa hanya karena kulitnya hitam, bahasanya berbeda, atau tidak kaya menjadi kategorimu dalam memilih teman?

Tapi, gimana jadinya kalau kamu sama sekali tidak memandang SARA dan materi melainkan temanmu itu ternyata toxic! Nah loh. Saya yakin istilah itu sudah tidak asing lagi di telinga teman INJO.ID. Teman macam ini dicap sebagai seseorang yang memberi suasana negatif, tidak mendukung atau menjadi penghalang pada apa-apa yang nilainya positif bagi hidupmu. Selalu menyusahkan, bahkan merenggut kebahagiaan dan kesehatan mentalmu sebagaimana racun.

Rasulullah SAW pernah bersabda,

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ

''Empat macam dari kebahagiaan manusia yaitu istri yang salehah, anak yang berbakti, teman-temannya adalah orang-orang yang baik, dan mata pencahariannya berada dalam negaranya sendiri.'' (HR Ad-Dailami).

Nah kan! Sesuai sabda Rasul, ternyata teman yang baik merupakan suatu kelengkapan hidup berbahagianya manusia. Siapa sih yang gak mau bahagia sesempurna itu?

Mungkin kali ini kamu akan bertanya-tanya, bagaimana sih ciri-ciri jika sedang berada di lingkungan toxic friend?

Sebagaimana pengertiannya, hal ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman ketika berada di lingkungan mereka bahkan tak bisa menjadi diri kamu sebenarnya. Parahnya, kamu malah terjebak sama hal “yang mereka sukai” bukan “yang kalian sukai”. Selain itu, mereka juga tidak tulus untuk memberikan dukungan padamu. Ada kala rasa iri tertanam pada hati mereka saat kamu mencapai sesuatu yang sifatnya berhasil. Kalau sudah begini, hal buruk lainnya akan segera menjalar dan membuat suasana (yang katanya) pertemanan itu lebih negatif.

Tak lupa ada hal penting lain yang tak bisa kamu lewati nih. Ternyata toxic friend juga bisa membuat kamu stres loh! Selain mengambil waktu bahagiamu, hal ini dapat menimbulkan penyakit karena keseringan menahan perasaan dan memaklumi ketidaksukaan pada toxic friend-mu. Hasil studi CBS New York, mengatakan bahwa pertemanan buruk dan interaksi negatif dapat memicu tingginya kadar protein sehingga menyebabkan peradangan, diabetes, kanker dan penyakit jantung. Aduh, gak main-main ya penyakitnya!

Biar lebih jelas, tim INJO.ID telah mewawancarai beberapa orang yang terlibat dengan lingkungan toxic friend. Bagaimana rasanya dan cara bersikap yang mereka ambil? Mari simak bersama!

Saya mencoba menghubungi seorang kenalan perempuan, berinisial R, ia merasa berada di lingkungan toxic saat tiba-tiba dijauhi oleh satu temannya karena merasa tak bisa memuaskan rasa senang yang temannya ekspektasikan pada R. “Katakanlah si A, dia dekat banget sama aku pokoknya sefrekuensi. Aku juga fine-fine aja berteman sama yang lain yang beda divisi (di kantor). Ada one moment A ini minjem uang aku terus-terusan tapi gak dibalikin. Akhirnya aku belum mau minjemin uang aku lagi."

Ia melanjutkan, "Karena mungkin A kesel sama aku, malah dia suka nyebarin aib aku, memfitnah dan menjelek-jelekkan aku ke teman yang lainnya. Makanya yang lain pada jadi gak suka ke aku."

Menanggapi hal itu, ia mengaku tidak semerta-merta menjauhi temannya kembali, melainkan ber-husnudzon terlebih dahulu. Optimis dapat mengubah sikap temannya dengan cara diberi tahu sehalus mungkin dan didoakan agar hatinya terbuka. “Dia memang gak sadar (akan sikapnya), tapi lambat laun sih berubah.”

“Lama sih prosesnya, aku ngasih tahu terus biar dia ingat dan ajak kebaikan terus. Tapi aku senang aja ada perubahan,” kata R menambahkan.

Berbeda dengan narasumber berinisial S, ia mengaku telah melakukan hal yang sama yakni ber-husnudzon dan memberi tahu toxic friend-nya sebaik mungkin. Namun apa daya, hal itu menjadi bumerang bagi S karena dicap sebagai orang yang ‘sok tahu’. “Aku lebih kayak ya sudahlah kita memang perlu ambil jarak saja.”

Berdasarkan hasil wawancara, toxic friend ini memang tidak akan cepat diketahui secepat kita berteman dengannya. Maka dari itu, selalu berdoa untuk dikelilingi orang yang baik dan saleh menjadi langkah awal yang tak bisa dilupakan.

So, memilih teman tak ada salahnya. Justru sikap bijaksana ini bisa diasah agar selalu selamat dan barokah. Berteman dengan orang-orang saleh menjadi pilihan bagi kita semua untuk mendapatkan segudang manfaat. Yakni membawa pada hal yang sifatnya menguatkan iman dengan istiqomah, membangkitkan semangat untuk beramal dan meningkatkan ibadah lainnya. Ilmu sesuai Al-Qur’an dan Hadis pun akan tertanam dalam segala kegiatan yang akan dilakukan.

Nah, kalau gitu toxic friend ini mesti dicegah dengan pemilihan teman. Tapi ingat ya! Jangan sampai kamu semena-mena terhadap manusia lain dan berlindung pada alasan memilih teman ini. Tetap menjadi manusia beradab perlu dicatat! Langsung saja, ini dia poin-poin yang bisa jadi referensi kamu untuk menghindari toxic friend dan menjalani kehidupan sehari-hari penuh berkah. Insya Allah.

1. Paham Agama dan Senang Beribadah

Ilustrasi mengaji bersama. Sumber: vectorstock.com

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya.” (Q.S al-Kahfi: 28).

Nah! Mempunyai teman yang paham akan agama bisa memberi manfaat bagimu agar pribadi menjadi lebih berkembang. Bahkan dapat membawamu pada kebaikan yang tidak terduga. Yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Bersama mendekatkan diri pada Allah dan meningkatkan ibadah, bersama ingin mencari surga Allah.

2. Akhlak yang Baik

Ilustrasi memeluk orang yang lebih tua. Sumber: freepik.com 

Ini yang paling direkomendasi Rasul dalam mencari teman yang baik yaitu akhlak yang baik.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Dari Abu Hurrairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “orang mukmim yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (H.R Tirmidzi no 1162). Dengan kata lain, teman yang berkhlak baik maka sempurnalah ia imannya. Jika sudah begitu, jelas Allah dan Rasul merasa senang bukan?

3. Taat Terhadap Orang Tua

Ilustrasi anak salam pada Ibu. Sumber: freepik.com

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma ia berkata Rasulullah SAW pernah bersabda, “ridho Allah terdapat dalam ridhonya kedua orang tua (Ibu Bapak) dan murka Allah terdapat dalam murkanya kedua orang tua” (H.R At-Tirmidzi).

Berada di lingkungan bersama teman yang taat pada orang tua, bisa diprediksi bahwa dia tipe teman yang mencari surga Allah. Bahkan begitu kita turut taat pada orang tua, maka kemudahan dalam hidup akan mudah untuk kita raih.

4. Saling Menasehati

Ilustrasi dua laki-laki sedang bersalaman. Sumber: vectorstock.com

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada kebaikan, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110).

Dengan saling memberi nasehat maka sama dengan saling mengingatkan pada hal kebaikan. Walaupun nasehat dibilang sebagai ‘obat’ yang terkadang pahit rasanya tapi tak apa-apa demi kesembuhan diri sehingga sehatlah kita. Apalagi teman kita ini tidak meminta bayaran saat memberi nasehat kan? Jadi, jangan sampai cemberut apalagi menjauh jika punya teman yang bisa memberi nasehat baik ya!

Sampai sini, apakah masih ada keraguan menciptakan lingkungan pertemanan yang baik? Hmmm, coba deh simak perumpamaan berikut.

Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari hadis di atas, rupanya menggambarkan bahwa teman merupakan cerminan diri kita. Misalnya, kita yang bukan seorang perokok bergaul dengan seorang perokok. Otomatis pandangan orang-orang terhadap kita itu sama yakni seorang perokok. Entah karena bau asap yang menempel atau kepercayaan mereka terhadap cerminan teman tersebut. Lebih buruknya lagi, jika kita tidak bijaksana dalam bergaul maka tergiringlah pada arah yang sifatnya kurang baik itu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Ya, disyukuri betul yang sudah punya teman sebaik yang disebutkan sebelumnya. Buat yang masih ngerasa temannya toxic, semoga tulisan ini bisa memberi pencerahan mulai dari cara menyikapi dan mencegahnya. Jadi, sudahkah punya gambaran? Atau mungkin seseorang ada yang ingin 'curcol' di kolom komentar?

Redaktur: Prita K. Pribadi