Hati-hati Toxic Parents! Ketahui Ciri-cirinya Agar Anak Sehat Mental

Sebagai orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang sengaja ingin membuat anak mereka sedih, sakit, dan menderita secara mental. Namun, orang tua hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan. Terkadang orang tua masih punya ego tersendiri. Mengira pilihannya selalu benar, hingga melupakan hak seorang anak yang harus didengarkan.

Hati-hati Toxic Parents! Ketahui Ciri-cirinya Agar Anak Sehat Mental
Ilustrasi kekerasan verbal pada anak oleh orang tua. Sumber: gateway2counseling.com

Secara kodrati orang tua memiliki peran dominan terhadap pembinaan anaknya yang merupakan amanat dari Allah Swt dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti. Sebagaimana firman Allah di dalam Al Qur’an.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا... الاية

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6).

Oleh karena anak itu amanah, maka hanya boleh dididik sesuai keinginan yang Menitipkan (Allah), bukan sesuai hawa nafsu orang tua. Diharapkan, orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah baik fisiknya apalagi ilmu, iman dan kepahaman agama.

Sebagai orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang sengaja ingin membuat anak mereka sedih, sakit, dan menderita secara mental. Namun, orang tua hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan. Terkadang orang tua masih punya ego tersendiri. Mengira pilihannya selalu benar, hingga melupakan hak seorang anak yang harus didengarkan. Padahal komunikasi dua arah dan memahami keinginan sang anak bisa dilakukan, agar tak menimbulkan rasa sedih bahkan benci dari sebelah pihak. Lepas dari pilihan anak adalah salah atau benar, setidaknya orang tua mengetahui isi hati dan pikiran yang sebenarnya. Setelah itu, orang tua bisa memberi nasihat dengan cara yang baik kepada anak.

Namun pada praktiknya, orang tua yang hidup lebih lama dengan segudang pengalamannya ini kadang masih memiliki kekhawatiran berlebih. Hingga mengekang sang anak, padahal anak punya hak dalam beberapa hal. Pada masyarakat kita, fenomena ini seringkali disindir dengan istilah asian parents yang mengacu pada kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua di negara bagian Asia. Atau bisa digeneralisasikan dengan sebutan toxic parents.

Dilansir dari Pusat Penyuluhan Sosial, toxic parents merupakan ungkapan yang mengandung arti “orang tua yang beracun”. Pengertian racun dalam konteks ini, adalah sesuatu yang ditimbulkan dari orang tua kepada anak yang dilakukan secara terus menerus baik sadar ataupun tidak sadar. Semisal penilaian atau perlakuan negatif dari orang tua kepada anak. Sehingga mereka yang melakukan toxic parenting, yakni pola pengasuhan yang keliru dan tanpa sadar dapat meracuni anak.

Demi mencegah sikap buruk tersebut, yuk simak ciri-ciri dari toxic parents!

1. Egois dan kurang empati terhadap anak

Terkadang harapan dan cita-cita anak berbeda dengan yang diangankan orang tua. Maka, orang tua sebaiknya tidak memaksakan kehendak terhadap anaknya. Sebab akan mengakibatkan perasaan kehilangan semangat pada anak. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadikannya frustasi yang berakibat sangat fatal untuk masa depan kehidupan anak.

2. Menyalahkan anak

Kisah hidup manusia di dunia pasti berbeda dan tidak lepas dari takdir yang Allah tetapkan. Bercita-cita setinggi langit itu boleh, menargetkan sang anak untuk mencapai suatu kesuksesan tentu baik. Lepas dari cita-cita itu tercapai atau tidak, orang tua harus sadar bahwa setiap anak punya keistimewaan di bidang masing-masing. Tentu itu PR besar bagi orang tua untuk peka terhadap tumbuh kembang anak sedari dini. Nah, jika anak telah berusaha dengan segala proses yang ia lewati demi cita-cita tersebut, apalagi diikuti dengan doa dan husnudhonbillah⎯kembali lagi kepada yang Maha Kuasa, apapun hasilnya harus tetap tawakkal. Jangan sampai menyalahkan dan melontarkan kalimat yang menyakitkan anak, seperti “Gitu saja kok enggak bisa?” atau “Lihat tuh tetangga sebelah, anaknya bisa masuk sekolah negeri dari pada kamu.”

Naudzubillahi min dzalik…..

3. Kurang menghargai anak

Orang tua adalah pendorong utama bagi lingkungan sang anak. Jika melihat sesuatu yang baik sekecil apapun maka doronglah sang anak untuk melakukannya dan memberi apresiasi. Sebaliknya, jika melihat sesuatu yang kurang baik maka cegahlah mereka dan beri pengertian beserta akibat buruk yang membahayakannya.

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasai).

4. Terlalu emosional

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memiliki emosi. Namun tergantung manusia pula bisa mengontrolnya atau bahkan membawa malapetaka akibat emosi negatif itu sendiri. Sebagai orang tua hendaknya bisa mengontrol emosinya, bijak dalam berpikir maupun bertindak, dan bisa introspeksi diri. Maka dari itu, seringnya ibadah dan membaca Al Qur’an bisa menjadi obat dalam menenangkan jiwa. Diharapkan orang tua meluangkan waktu sendiri untuk bisa melakukan ibadah secara khusyuk.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam gulatnya, sesungguhnya orang yang kuat itu yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Bukhori).

5. Menyiksa secara fisik atau verbal

Jika orang tua melakukan kekerasan fisik seperti memukul, melemparkan sesuatu ke arah sang anak, mencubit, bahkan mencekik atau melakukan kekerasan verbal seperti memanggil anak dengan ucapan yang buruk, merendahkan anak dengan kata-kata kasar, membentak, mendiamkan anak dalam waktu lama. Hati-hati! Sebaiknya orang tua harus menghentikan kebiasaan tersebut. Sebab tindakan tersebut termasuk pada kekerasan, yang tidak dapat dibenarkan. Bahayanya, anak akan menyisakan luka mendalam hingga terganggunya fungsi otak dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang. Dikutip dari halodoc.com, pengaruh dari pola asuh toxic parents ini menyebabkan ragam penyakit seperti gangguan kecemasan, stres, dan percaya diri yang rendah. Hal-hal tersebut, diantaranya disebabkan komunikasi yang kurang baik antara anak dan orang tua. Sehingga anak tak nyaman dalam mengutarakan sesuatu yang akhirnya berisiko meningkatkan depresi. Selain itu kebiasaan dikontrol oleh orang tua, menyebabkan anak selalu merasa tidak bisa memilih mengikuti kata hatinya.

Wah! Sudah dicatat belum poin-poin penting dalam pola asuh anak ini? Mulai dari hal terkecil hingga besar. Maka dari itu, perlu sekali mempersiapkan diri baik itu ilmu dan mental sebelum memiliki anak ya! Jangan lupa memahami bahwa, apapun yang dimiliki di dunia ini adalah titipan Allah. Yang namanya titipan harus dijaga dan dirawat dengan baik. Oh iya! Kalau alasan sayang dan cinta kepada sang anak menyebabkan orang tua menjadi seorang toxic parents, maka ingatlah bahwa hal yang berlebihan itu tidak baik. Sesayang apapun kita terhadap sesuatu atau seseorang, semuanya milik Allah semata dan akan kembali pula kepada-Nya.

وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

"Dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah:190).

Redaktur: Prita K. Pribadi