Hati-hati Toxic Productivity, Cara Menjauhkan Diri dari Allah. Apa Kamu Salah Satunya?

Toxic productivity, istilah lain dari overwork, membuat pelakunya melakukan pekerjaan secara berlebihan. Dengan kata lain, pelakunya selalu merasa pekerjaan yang ia kerja tidak pernah cukup, bahkan terus menerus merasa kurang. Kondisi ini juga membuat pelakunya mengabaikan kebutuhan fisik, seperti makan, minum, dan istirahat. Tidak heran kalau pelakunya akan melakukan tindakan kontraproduktif alih-alih produktif. Menghancurkan pekerjaan itu sendiri alih-alih membuatnya lebih baik.

Hati-hati Toxic Productivity, Cara Menjauhkan Diri dari Allah. Apa Kamu Salah Satunya?
Toxic Productivity, Salah Satu Cara Menjauhkan Diri dari Allah. Sumber: freepik

"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau hidup selamanya. Beribadahlah untuk akhirat seakan-akan kau mati besok"

Pernah mendengar ungkapan di atas? Mungkin sebagian pembaca di sini ada yang bekerja atau sedang merintis usaha. Apalagi, bila kita sudah tenggelam dengan pekerjaan kita, keinginan untuk tetap pada produktif akan meningkat dan diiringi dengan hasil atau bayaran yang menggiurkan pula. Lalu dalam prosesnya, kita akan berusaha semaksimal mungkin menjaga produktivitas itu agar tidak ditemukan kekurangan di dalamnya. Karena bila muncul setitik kekurangan saja, hasil yang akan didapat juga tidak akan memenuhi ekspektasi.

Namun, pernahkah terpikirkan bahwa menjaga produktivitas yang baik itu bisa berdampak selain pada hasil akhir pekerjaan kita? Seperti yang dilansir dari parapuan.co, overwork atau kelebihan kerja hingga mengabaikan batas kemampuan diri sendiri akan berdampak pada fisik dan mental seseorang. Overwork ini juga akan cenderung membuat kita berekspektasi lebih terhadap pekerjaan kita, sehingga bila ekspetasi itu tidak tercapai, maka kita akan menjadi marah atau bahkan depresi.

Toxic productivity, istilah lain dari overwork, membuat pelakunya melakukan pekerjaan secara berlebihan. Dengan kata lain, pelakunya selalu merasa pekerjaan yang ia kerja tidak pernah cukup, bahkan terus menerus merasa kurang. Kondisi ini juga membuat pelakunya mengabaikan kebutuhan fisik, seperti makan, minum, dan istirahat. Tidak heran kalau pelakunya akan melakukan tindakan kontraproduktif alih-alih produktif. Menghancurkan pekerjaan itu sendiri alih-alih membuatnya lebih baik. Padahal, Allah telah berfirman soal larangan berlebihan.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A'raf:31).

Ditambah dengan masa pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga detik ini, banyak perusahaan yang membuat kebijakan kepada para karyawannya untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Tak disangka, ternyata sistem kerja ini malah membuat karyawannya bekerja lebih banyak dari biasanya. Kondisi itu jelas membuat para karyawan merasa bahwa mereka harus melakukan lebih banyak pekerjaan agar 'mengamankan' posisi mereka di perusahaan.

Perlu diingat juga, bahwasanya kita sebagai manusia juga memiliki kewajiban lain selain bekerja, yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariaat : 56).

Pernah enggak dengar istilah profesional seperti "Go the Extra Mile"? Yang berarti melakukan pekerjaan lebih daripada seharusnya, dan harus dilakukan dengan cara yang positif. Kita harus membedakan istilah tersebut dengan toxic productivity yang membuat seseorang mengabaikan kesejahteraan fisik dan mentalnya. Apalagi kalau sampai kita lalai beribadah kepada Allah karena toxic productivity itu, sudah fisik dan mental kena, dosa pula, Duh!

Lalu, kalau sudah terlanjur jadi kebiasaan, bagaimana cara mengatasinya?

Seperti yang dilansir dari thequint.com, toxic productivity ini bisa dihilangkan dengan beberapa cara berikut, diantaranya:

1. Pasang tujuan yang realistis

Karena toxic productivity dilakukan atas dasar tujuan yang tidak realistis, maka cara pertama yaitu mengubah tujuan tersebut. Setiap pekerjaan memiliki standar hasil masing-masing. Untuk itu, kita perlu menyamaratakan produktivitas kita agar sejajar dengan hasil pekerjaan yang diharapkan. Tentunya harus dilakukan secara mindful atau sadar.

2. Istirahat

Siapa bilang istirahat hanya untuk kaum lemah? Tidak! Setiap manusia butuh istirahat. Bila dirasa pekerjaan kita yang banyak membuat kewalahan dan dikejar deadline, istirahatlah sejenak. Bila waktu bekerja di hari itu sudah selesai, tutup laptop atau matikan komputer, dan tanam pemikiran 'masih bisa dilanjut esok hari'. Allah bahkan telah membuat waktu siang dan malam sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

وَمِنْ رَّحْمَتِهٖ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash : 73).

3. Bertanggungjawablah!

Sebagai seorang laki-laki dan juga suami, kewajiban untuk memberi nafkah keluarga adalah prioritas. Bila kita terlarut di dalam pekerjaan sampai-sampai harus lembur, ingatlah bahwa ada seorang istri dan anak yang perlu diberikan nafkah batin, yaitu cinta dan kasih sayang. Apa kita mau pulang dari tempat kerja dalam keadaan lelah, lalu sampai rumah malah marah-marah sama istri dan anak?

4. Buat batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan

Mungkin keduanya memang tak terpisahkan, seperti kehidupan ini butuh pekerjaan, atau pekerjaan memberi kita kehidupan. Namun banyak orang juga yang hampir tidak bisa membedakannya, dalam artian kehidupannya hanya dihabiskan untuk melakukan pekerjaan. Ingat ya, kita juga manusia, butuh momen ketika terlepas dari segala tanggung jawab pekerjaan. Sesekali, berliburlah. Lakukan apa yang ingin kita lakukan. Memasak, membaca buku komik, main game, dan lain-lain.

5. Meditasi untuk menjernihkan pikiran

Sebagai umat islam, ibadah menjadi hal yang diwajibkan sekaligus meditasi yang ampuh untuk melepaskan diri dari dunia yang penuh dengan hal-hal yang membebankan diri sendiri. Disinilah momen ketika kita mengosongkan pikiran dan terlelap dalam kekhusyukan kita dalam berkomunikasi dengan Allah. Dimana kita mendapatkan keheningan dan ketenangan dari hiruk-pikuk dunia yang tak ada habisnya. Ambil air wudu, masuk ke kamar, gelar sajadah, salat sunah, lalu berdoa. Lakukan secara sadar. Dengarkan setiap doa yang keluar dari mulut kita dengan samar, pejamkan mata, mintalah kepada Allah agar pekerjaan yang kita lakukan saat ini bisa dan selalu melancarkan diri kita untuk beribadah terus kepada Allah.

Allah tidak melarang kita untuk mencari nafkah atau bekerja. Bahkan Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk bekerja dengan giat, sebagaimana dalil dibawah ini.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُزْهِدُ الْمُجْهِد

“Sungguh beruntung orang yang bisa hemat dan bekerja giat.” (HR. Ahmad).

Seperti yang sudah diterangkan di atas, bahwa Go the Extra Mile adalah hal yang patut dilakukan. Yang perlu menjadi perhatian di sini adalah waktu yang bisa dibagi antara pekerjaan dan beribadah kepada Allah. Keduanya sama-sama wajib dan harus diseimbangkan. Jangan lupa selalu niatkan diri kita sendiri untuk melakukan pekerjaan semata-mata agar bisa melancarkan diri kita untuk beribadah kepada Allah.

Redaktur: Prita K. Pribadi