Hustle Culture, Akar Menomorduakan Akhirat yang Harus Dihentikan

Kian hari, Hustle Culture menjadi budaya yang diagung-agungkan. Bekerja giat diartikan sebagai selalu melakukan pekerjaan, padahal produktif tidak seperti itu. Perlu disadari, mengabaikan kesehatan dan kewajiban ibadah bukanlah menjadi hal yang bisa diteladani.

Hustle Culture, Akar Menomorduakan Akhirat yang Harus Dihentikan
Ilustrasi hustle culture menjadi idola kaum milenial, yang bisa menyebabkan dampak buruk dan menomorduakan ibadah. Sumber : Canva

Bicara soal kehidupan dunia beserta hiruk pikuk yang ada di dalamnya, memang seakan terus mengalir seperti tak bermuara. Tak jarang kita masih suka mengedepankan urusan dunia dan menomorduakan urusan akhirat. Jemari terus saja asik melanjutkan pekerjaan, padahal azan sudah memanggil-manggil mengajak salat. Wudu tak digubris, beranjak dari meja kerja pun entah akan kapan. Seakan urusan dunia menjadi nomor wahid dan wajib untuk diutamakan. Betul apa betul? Padahal kelak, amal ibadah yang pertama dihisab adalah salat loh! Kalau salatnya saja sudah sering ditunda…. Hmm cukup bayangkan sendiri saja bagaimana nanti kelak kita akan dihisab. Oleh karena itu hal ini harus kita ubah ya gengs!

Apakah kamu pernah mendengar ungkapan seperti ini?

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Meskipun kalimat diatas hanya sebuah ungkapan, tapi ada makna yang bisa kita ambil loh! Maksud dari ungkapan di atas adalah: Pada urusan dunia, coba bayangkan kita akan hidup selamanya, ketika belum bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini maka masih bisa dikerjakan esok hari. Sebaliknya pada urusan akhirat, bayangkan kita akan mati esok hari, bekal apa sih yang sudah bisa membuat kita bisa selamat dari siksa api neraka dan akhirnya bisa hidup kekal abadi di surga-Nya? Apakah kebiasaan kita menunda salat tadi bisa dijadikan nilai tambah bila esok hari diqodar menghadap Allah? Maka, perlu diingat bahwa urusan akhirat harus kita prioritaskan seolah kita mati di esok hari.

Selaras dengan hal itu, coba perhatikan salah satu hadis di bawah ini dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadis ini hasan sahih’)

Urusan duniawi yang selama ini sering membutakan mata, ternyata hanyalah seperti tempat peristirahatan sejenak yang suatu saat akan ditinggalkan bukan?

Tapi selain mengantongi ilmu akhirat, kita juga dituntut untuk belajar dan mencari ilmu dunia sebagai mekanisme pertahanan hidup. Makan sehat, pakaian bersih, dan tempat tinggal layak menjadi kebutuhan. Pun urusan akhirat juga akan semakin terdukung dengan adanya infak dan shodaqoh. Mari ambil contoh sederhana, masjid yang biasa dipakai beribadah, apakah masjid tersebut bisa ujug-ujug ada dalam sehari semalam layaknya dongeng candi prambanan yang melegenda? Tentu tidak! Masjid yang nyaman itu rupanya buah dari mencari maisyah yang diwujudkan sebagai jihad menggunakan harta. Mencari maisyah dengan tujuan yang mulia seperti ini tentu hal yang patut diacungi jempol! Meski begitu, mencari maisyah atau bekerja sebaiknya tidak sampai berlebihan. Apalagi sama menggilai kerja dan lupa waktu ibadah. Duh!

            Namun, tahukah kamu?

Hidup di era yang serba modern dan menikmati mudahnya teknologi masa kini, membuat kaum milenial semakin dituntut mengikuti standar yang ada di masyarakat. Mereka harus bekerja dua sampai tiga kali lebih keras dibandingkan generasi sebelumnya, menggiring kaum milenial menjadi workaholic atau gila kerja. Fenomena yang sedang digandrungi oleh kaum milenial ini disebut dengan istilah Hustle Culture. Di mana hal itu telah menjadi gaya hidup yang diidolakan kaum milenial. Hustle Culture pun telah hadir lebih dulu sebelum keluarnya Undang-Undang Keselamatan Kerja yang ada di era Revolusi Industri guna mengekang eksploitasi pekerja secara tidak manusiawi.

Gaya hidup baru itu dianggap dapat menaikkan citra seseorang. Mereka selalu merasa menggebu-gebu untuk melakukan pekerjaan di mana saja dan kapan saja agar tak ada waktu yang sia-sia. Padahal, kaum milenial ini amat keliru loh! Hustle Culture dan produktivitas merupakan suatu yang berbeda ya gengs! Produktif artinya memanfaatkan input yang kamu punya secara efisien dan efektif untuk menghasilkan output yang diinginkan secara optimal. Jadi kalau kamu beranggapan dengan mengerjakan banyak pekerjaan bisa dianggap produktif, no no kamu salah besar!

Fenomena Hustle Culture ini semakin diglorifikasi oleh para pegawai. Survei membuktikan, sekitar 45% tenaga kerja memposting tentang kerja keras yang terlihat “glamour” di media sosial sebagai sinyal kalau mereka sudah menjadi karyawan yang berdedikasi dan berkomitmen. Gaya hidup seperti ini dipegang erat oleh penduduk Jepang hingga memunculkan fenomena Karoshi atau kasus kematian yang disebabkan oleh kelelahan bekerja. Pada 2015 dilaporkan sebanyak 189 kasus kematian terkait hal itu. Sehingga menjadi PR besar bagi pemerintah Jepang untuk menghentikan fenomena Karoshi melalui berbagai kebijakan.

Jika kamu masih keliru menyamakan keduanya, perlu ubah mind set ya! Justru melakukan banyak kegiatan membuat fokus bercabang sehingga dikhawatirkan tak dapat memaksimalkan mutu pekerjaan. Bisa juga membuat ibadah terganggu sehingga tidak khusyuk. Belum lagi waktu bersama keluarga pun menjadi tidak berharga dan bermakna. Kesehatan mental dan fisik juga dampaknya gak main-main loh! Memforsir diri dengan banyaknya bekerja bisa menimbulkan kelelahan, stres yang bekepanjangan, depresi, anxiety, dan menyebabkan penyakit kardiovaskular. Insomnia juga akan lebih sering terjadi sehingga membuat tubuh lebih lelah.

Sampai sini, apakah tetap mau jadi tim hustle culture? Banyak kerugian yang didapat dibanding kebarokahan itu sendiri. Sedangkan kesehatan menjadi dambaan setiap orang bahkan pada umur yang semakin tua. Bukankah bekerja juga termasuk ibadah? Benar, tapi ya ibadah tetap ibadah kan? Bukan berarti dengan bekerja bisa mengurangi kewajiban beribadah kita. Tindakan preventif perlu dilakukan oleh generasi muda agar tidak terjerumus fenomena gila kerja ini. Maka, mari simak beberapa tips untuk menolak dan mencegah Hustle Culture yuk!

  1. Sadar dengan Apa yang Dilakukan

Sumber : freepik.com

Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah dengan menyadari hal apa yang kamu lakukan dan apakah itu berpengaruh pada kesejahteraan dirimu? Sadarilah bahwa terlalu banyak bekerja dapat menyebabkan kelelahan dan masalah terkait kesehatan. Kamu juga tidak dapat melakukan aktivitas sesuai harapan. Produktivitas menurun, begitu juga dengan kesehatan.

  1. Tetapkan Batasan

Sumber : freepik.com

Belajarlah menetapkan batasan untuk dirimu sendiri. Kamu dapat memutuskan kapan pengin berhenti bekerja dengan mengatur jam kerja. Ini akan terasa sulit jika kamu mencoba melakukannya secara tiba-tiba. Terapkan jam kerja secara perlahan dan kamu harus bisa mengabaikan distraksi yang ada ketika jam kerjamu sedang berlangsung. Misalnya saja kamu harus bisa menahan godaan atau hasrat ingin scrolling laman media sosial ketika jam kerjamu masih berlangsung. Untuk para generasi milenial, ini mungkin terasa sedikit sulit bukan?

  1. Jangan Lupa Istirahat

Sumber : freepik.com

Ambilah waktu istirahat yang diperlukan. Beristirahat bisa meningkatkan produktivitas kamu loh! Bila ada yang mempermasalahkan kegiatan istirahatmu, cukup tutup telingamu rapat-rapat! Jangan merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk istirahat. Padahal kamu harus lebih dulu mendengarkan tubuhmu sebelum mendengarkan opini orang lain.

      4. Ingat Kewajiban Utama sebagai Manusia

Kunci dari saran-saran di atas adalah kamu harus mengingat apa tujuan Allah menciptakan manusia di dunia ini. Setelah lahir ke dunia, apa kewajiban utama kita? Tak lain tak bukan yaitu ibadah, seperti tertuang di Q.S. Adz Dzariat ayat 56 berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Sumber: freepik.com

Mari pegang pulpen erat-erat, catat ibadah mana saja yang sudah kamu kerjakan dan masih kamu tinggalkan. Urutkan ibadah menjadi prioritas utama, berikutnya pekerjaan kamu jadwalkan di sela-sela menunggu waktu ibadah berikutnya. Ingat ya! Jangan sampai kepengin bisa infak jutaan, dijadikan alasan agar bisa terus bekerja dan melalaikan kewajiban utama sebagai manusia. 

Well hari ini sedikit banyak kita telah berkenalan dengan Hustle Culture yang banyak diidolakan kaum milenial, yang ternyata membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan dan melalaikan ibadah kepada Allah. Mengetahui itu, setidaknya kita mendapat gambaran bagaimana cara menolak atau mencegah Hustle Culture. Kerja keras boleh, berlebihan jangan ya gengs! Jangan sampai Hustle Culture ini membuat kita malah berani menomorduakan urusan akhirat! Siapa nih yang sedang merasa terjebak kedalam gaya hidup Hustle Culture? Semoga artikel ini bisa banyak membantu para pembaca untuk lebih mewajarkan diri saat bekerja!

Redaktur: Prita K. Pribadi & Dyah Ayu N. Aisyiah