Investasi Emas, Bagaimana Ketentuan Syariahnya?

Emas termasuk kelompok barang ribawi dimana dalam proses jual belinya terdapat aturan yang mengikat agar terhindar dari bahaya riba. Lalu apa sajakah ketentuannya? Bolehkah emas dibeli dengan sistem kredit? Apakah tabungan emas boleh? Beli emas via online? Yuk kita bahas satu persatu~

Investasi Emas, Bagaimana Ketentuan Syariahnya?
Ilustrasi emas. Sumber foto : Canva

Sudah pernah kita bahas sebelumnya mengenai perhitungan dana pensiun dan beberapa saran mengenai investasi syariah. Kali ini saya akan membahas mengenai salah satu instrumen investasi syariah yang sudah direkomendasikan sebelumnya, yaitu investasi emas.  Bagaimana sih ketentuan-ketentuannya? Apakah boleh mencicil? Apakah boleh membeli via internet? Kita bahas satu persatu.

Sejatinya emas termasuk barang  ribawi, yaitu jenis barang yang jika dalam proses jual belinya tidak sesuai ketentuan maka akan menyebabkan terjadinya riba. Selain emas, masih terdapat barang ribawi lainnya yaitu perak, gandum bur, gandum sya’ir, kurma, dan garam. Islam sudah mengatur transaksi barang ribawi, terdapat dalil yang menjelaskan mengenai hal ini.

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).

Berdasarkan hadis di atas, terdapat dua syarat yang harus terpenuhi dalam perkara tukar menukar barang ribawi:

1. Harus yadan biyadin (kontan)

Syarat pertama dalam jual beli barang ribawi adalah harus yadan biyadin alias kontan, tunai. Kontan berarti penyerahan barang harus berlangsung ketika akad, tidak ditunda setelah berpisah. Jika ada penundaan, maka termasuk ke dalam riba nasiah (riba karena adanya penundaan). Riba ini sering disebut juga sebagai riba jahiliyah. Misalnya kamu memiliki 1 lembar uang 50 ribu dan ingin menukarnya kepada temanmu, maka temanmu harus memberi gantinya saat itu juga. Tidak boleh hanya memberikan 30 ribu, lalu memberikan 20 ribu sisanya satu jam kemudian. Akad tukar menukar tentu berbeda dengan utang piutang, maka harus berhati-hati dengan riba jenis ini.

2. Harus mitslan bimitslin (sama timbangan dan takaran)

Selain harus kontan, juga terdapat syarat mitslan bimitslin, harus sama timbangan dan takarannya meskipun beda kualitas. Syarat ini berlaku jika pertukaran dilakukan dengan sesama jenis barang ribawi. Misal kamu memiliki 2 gram emas 24 karat dan ingin menukar dengan emas 21 karat, maka penyerahannya juga harus tetap  2 gram. Meskipun emas tersebut berbeda kualitas, tidak boleh lebih meski hanya satu gram pun. Jika syarat ini tidak terlaksana, maka termasuk riba fadhl, yaitu riba karena perbedaan takaran barang ribawi yang sejenis.

Syarat mitslan bimitslin berlaku untuk barang ribawi yang sejenis. Jika berbeda jenis, seperti ingin menukar kurma dengan gandum, maka boleh jika berbeda takarannya. Semisal kamu ingin menukar 5 kg kurma dengan 10 kg gandum, ini tidak termasuk riba fadhl. Namun tetap harus memenuhi syarat yadan biyadin agar terhindar dari riba nasiah.

Setelah mengetahui syarat di atas, lalu bagaimana dengan mata uang kertas?

Uang juga dihukumi seperti emas dan perak karena sifat fisiknya merupakan benda berharga. Maka tetap harus memenuhi syarat yadan biyadin, tidak boleh dicicil. Jadi jika ingin menukarkan uang rupiah dengan uang dolar, penukarannya harus kontan dan tidak diangsur.

Tentu sama juga dengan perkara jual beli emas dengan uang rupiah. Sudah seharusnya ketika kamu ingin membeli 1 gram emas, maka kamu sudah menyiapkan uang yang cukup, sehingga tidak ada kredit atau utang.

Lalu bagaimana dengan tabungan emas, bolehkah?

Melihat dari fatwa MUI yang dikeluarkan pada tahun 2010, MUI memperbolehkan jual beli emas secara tidak tunai dengan berbagai pertimbangan yang dijelaskan bersama surat putusan tersebut.

Sistem tabungan emas yang diterapkan pada umumnya adalah memiliki akun tabungan emas. Nasabah dapat menyetorkan dana awal ke tabungannya untuk mengisi saldo minimal dan membeli emas dengan saldo itu, yang biasanya minimum senilai 0,01 gram emas. Harga per gram emas ditentukan oleh harga emas pada hari pembelian. Selanjutnya jika sudah terkumpul biaya emas paling tidak 1 gram, emas batangan dapat dicetak atau diambil. Biasanya ditambah dengan biaya cetak.

Setelah mengetahui skema tabungan tersebut, saya pribadi masih menyimpan pertanyaan. Baik mari kita pecah dari kata membeli yang sudah saya garis bawahi di atas. Kalau misalkan konsepnya "nabung", kenapa harus seharga emas 0,01 gram saat itu? Lalu dengan tabungan itu dibelikan emas senilai 0,01 gram yang wujudnya belum ada dan seolah-olah dititipkan di platform penjualan itu. Artinya saat itu konsepnya sudah "menukar/membeli" kan?

Mengenai permasalahan ini, saya juga bertanya kepada Ustadz Sunarli Abdul Muiz pada Rabu (12/05), beliau adalah ustadz di Pondok Pesantren Hadis (PPH) Nurul Hakim Bandung Timur. Beliau menyebutkan, “Akadnya nabung dulu, setelah pas untuk beli baru akad maka gapapa.” Artinya, tidak apa-apa menabung untuk emas, dengan catatan akad di awal adalah menabung dulu. Perhatikan antara “menabung” dan “membeli”.

Sampai di sini, apakah sudah cukup jelas perbedaannya?

Berikutnya, apakah boleh jual beli emas via internet?

Ustadz Sunarli menyebutkan bahwa jika kita jual beli online, maka syarat yadan biyadin belum terpenuhi. Karena ketika kita menyerahkan uang kita, tidak serta merta kita langsung menerima penyerahan emas.

Dari dua pertanyaan di atas, saya sebagai penulis tidak memiliki wewenang dan kapasitas untuk menjawab “boleh atau tidak”. Saya hanya menyampaikan hadis dan penjelasan dari ketentuan-ketentuan syariah jual beli emas. Silakan simpulkan dan tentukan keputusanmu sendiri.

Hanya saja, kalau boleh memberi sedikit saran, “kerjakanlah bisnis yang membuatmu tenang”, seperti dijelaskan oleh hadis berikut.

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu. Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” (HR. Tirmidzi, no. 2518)

Beranjak ke pembahasan selanjutnya mengenai emas, tentunya kita tak hanya mengenal emas batangan/logam mulia saja, kita juga mengenal emas sebagai perhiasan. Apakah hukum jual belinya sama dengan emas batangan? “Tetap sama, syariat tidak membedakan antara emas batangan maupun perhiasan,” jelas Ustadz Sunarli.

Lebih untung mana sih antara investasi emas batangan atau emas perhiasan?

Dilansir dari bareksa.com, emas batangan sebagai logam mulia dan emas perhiasan memiliki kadar kemurnian emas yang berbeda. Logam mulia memiliki kadar 24 karat, kemurnian emasnya mencapai 99,99%. Berbeda dengan emas perhiasan yang biasanya hanya berkadar 22 karat dengan kemurnian emas 91%. Hal ini dikarenakan emas perhiasan membutuhkan campuran dari unsur lain seperti perak dan tembaga agar bentuknya lebih kokoh dan tidak mudah berubah.

Selain itu, perbedaan emas batangan dan emas perhiasan dapat dilihat dari ongkos pembuatannya. Emas perhiasan memiliki beban biaya pembuatan. Biasanya dapat mencapai 10 – 20% dari harga beli emas itu, dimana harga ini tidak terhitung ketika kamu menjual perhiasan itu kembali. Inilah yang menyebabkan harga emas perhiasan justru lebih rendah daripada saat pembelian. Tidak seperti emas perhiasan, emas batangan tidak memiliki biaya pembuatan sehingga harganya sama dengan harga pembelian emas saat itu.

Karena kadar emas yang lebih tinggi dan kemungkinan return yang lebih tinggi juga, emas batangan lebih cocok dijadikan investasi. Namun karena harga emas yang bisa naik dan turun, kamu perlu memperhatikan saat yang tepat untuk menjual kembali emas batangan agar mendapat return yang optimal.

Nah, setelah menyimak pembahasan di atas, apakah kamu makin siap untuk investasi emas atau masih mau mikir-mikir lagi untuk investasi yang lain? Apapun pilihanmu, tetap harus teliti dan cermat sebelum memilih ya! Yuk berinvestasi secara syariah~

Redaktur : Niko Aditya & Ust. Sunarli