“Iqra”, Memaknai Proses Kemerdekaan dengan Melepas Belenggu Kemunduran Bangsa

Realita Indonesia tentang minat baca nyatanya masih jadi belenggu. Hasil survei dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, bahwa minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara. Sedangkan menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%.

“Iqra”, Memaknai Proses Kemerdekaan dengan Melepas Belenggu Kemunduran Bangsa
Ilustrasi minat baca rendah. Sumber: kompas.com

Perayaan 17 Agustus dua tahun ke belakang ini memang terasa sangat berbeda. Ditambah berlakunya PPKM di beberapa daerah zona merah membuat hari kemerdekaan kurang meriah dan semarak. Namun situasi ini malah menimbulkan pertanyaan lain di benak saya. Apakah dengan seremonial, lomba tujuh belasan dan kegiatan mewah lainnya⎯bisa membuat rasa nasionalisme sang generasi penerus bangsa ini bertambah? Atau hanya sekadar momen tahunan tentang mengingat siapa yang memproklamasikan kemerdekaan dan menjahit bendera pusaka?

76 tahun usia, apakah bangsa Indonesia sungguh telah merdeka? Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya dalam hati, mengapa negara ini begitu sulit bersaing dalam kemajuan? Apa sebenarnya yang salah dengan sistem berkehidupan selama ini?

“Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,”

Begitulah bunyi yang tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai tujuan bangsa. Para akademisi mengatakan bahwa pintu gerbang kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Membuka jendela dunia hanya dengan membaca. Sesederhana kita menjadi tahu akan segala hal bahkan bagi sesuatu yang tak pernah kita lihat, dengar, atau raba. Kita dapat mengetahui bagaimana bulan berputar meskipun belum pernah menginjakkan kaki di bulan layaknya Bapak Neil Armstrong. Lebih jauh lagi, membaca membuat cara berpikir masyarakatnya yang lebih maju hingga keluar dari zona kemiskinan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.

Tingkat literasi (minat baca) di Indonesia masih sangat rendah

Realita Indonesia tentang minat baca nyatanya masih jadi belenggu. Hasil survei dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, bahwa minat baca masyarakat Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara. Sedangkan menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%.

“Artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya satu orang yang gemar membaca. Hasil riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca,” kata Abdul Muhaimin Iskandar, Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra dikutip dari pikiranrakyat.com pada peringatan Hari Buku Nasional, Senin (17/5/2021).

Membaca (iqra’) adalah perintah pertama yang turun dalam Islam

Banyak dari kita yang mungkin baru sadar, atau juga lupa⎯bahwa perintah membaca telah turun sejak 1400 tahun lamanya. Allah telah menurunkan ayat pertama yang terkandung di dalam Al-Qur’an, yakni pada surat Alaq.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Diriwayatkan bahwa pada saat itu malaikat Jibril berkata pada Nabi, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat Jibril kembali berkata, “Bacalah!”. Nabi menjawab lagi dengan jawaban yang sama. Sampai yang ketiga kalinya malaikat Jibril bahkan memeluk Nabi dengan keras. Sungguh sebuah kuasa Allah dapat mengangkat seseorang dari bangsa Arab Ummi (yakni kaum yang tidak bisa menulis dan berhitung di zaman itu) namun dapat membawa kebenaran Al-Qur’an hingga mengubah peradaban Arab Jahiliyah menjadi kejayaan peradaban Islam.

Perintah membaca ini sebenarnya tidak terbatas pada membaca tulisan saja. Melainkan membaca segala hal yang ditemui, yang mana bagian dari sebuah membaca diantaranya menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, dan berbagai kegiatan keilmuan lainnya.

Pentingnya iqra’ dan ilmu evidence based (ilmu berbasis bukti) dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat

Perintah Allah dalam Al-Qur’an mengenai membaca, tentu tidak jauh dari perintah mencari ilmu. Namun sangat penting untuk diketahui, bahwa mengambil ilmu itu perlu selektif termasuk tak mengambil dari sembarang orang, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Maka ambil lah ilmu dari ahli sesuai bidang yang sedang dipelajari. Sebab, salah satu sumber dari kehancuran adalah menyerahkan sebuah urusan bukan pada ahlinya.

Evidence based adalah pendekatan ilmu berdasarkan bukti. Hal ini sangat penting dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Contoh dalam ilmu dunia dari bidang kedokteran; dibutuhkan riset atau uji klinis yang luas hingga dapat diterbitkan sebuah jurnal penelitian dan dipublikasikan melalui organisasi internasional yang resmi, baru kemudian muncul obat yang diklaim dapat menyembuhkan penyakit A maupun B, juga vaksin A maupun vaksin B. Secara detail dan teliti tentang keamanan dan efikasinya masing-masing. Sehingga kegiatan ini tak hanya bersumber dari professor A atau dokter B saja, apalagi hanya didasarkan dari sedikit orang seperti si C atau pun si D yang sebenarnya tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang tersebut, atau bahkan melakukan riset dan penelitian terkait saja tidak pernah.

Apalagi dengan ilmu akhirat semisal hadis. Ada loh yang namanya musthalahul hadis, ilmu yang mengkaji tentang kaidah-kaidah terkait sanad (silsilah) dan matan (redaksi). Menentukan apakah hadis dan perowi hadisnya valid atau tidak. Kedudukan hadisnya shohih, hasan, atau dho’if (lemah). Bahkan jika terdapat satu perowi hadis yang diketahui pernah berdusta sekali saja, maka kedudukan hadis yang ia riwayatkan menjadi dho’if. Sehingga mengambil ilmu agama pun sebaiknya dari guru yang ber-sanad jelas. Mengapa begitu? Tanpa guru yang memiliki silsilah atau sanad yang jelas, maka guru tersebut dapat menyampaikan suatu ilmu hanya berdasarkan pandangan pribadinya saja.

Allah subhaanahu wa ta’ala juga telah berfirman dalam Al-Qur’an.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra : 36).

Oleh karena ini, teman INJO.ID harus berhati-hati mengambil ilmu di tengah kemudahan era digital yang serba banyak risikonya. Rentan hoax juga bisa dengan mudahnya lolos bertebaran. Sekali klik saja bisa berbahaya apalagi jika dibagikan ke beberapa orang yang kamu kenal, lalu menjadi rantai yang sulit terputuskan. Lebih memyeramkannya lagi, hal tersebut dapat menjerumuskan masyarakat awam di sebagian tempat sebab belum ratanya akses pendidikan.

Hal itu menjadi penyebab kesenjangan sosial, apalagi di saat pandemi ini. Tampak perbandingan well educated dan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Misalnya mereka yang tak percaya akan adanya Covid-19, dan menganggapnya konspirasi semata. Hal ini disebabkan kepercayaan yang tak didasarkan latar belakang jelas. Minimnya literasi, keinginan membaca, berusaha mencari tahu kebenaran, atau yang memang menolak perubahan dan kebenaran.

Peran generasi milenial dalam memerdekakan bangsa dari belenggu kebodohan

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menanggung perihnya kebodohan.”
(Imam Syafi’i)

Kabar baik datang selama satu dekade terahir mengenai angka buta huruf di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, tahun 2011 ke 2020 telah mengalami penurunan kasus dari 6,44% menjadi 3,62%. Namun faktanya, angka buta huruf tak bisa mengalahkan generasi muda yang jauh dari kata gemar membaca. Tak perlu jauh-jauh, sebagian dari kita saja mungkin lebih tertarik membuka konten yang sekadar menghibur, alih-alih bermanfaat. Padahal jika dihitung dengan estimasi dan efisiensi waktu yang dibutuhkan, jauh lebih banyak informasi yang dapat diserap.

Sebenarnya, tak apa jika lebih suka nonton YouTube atau TikTok dibanding membaca buku atau artikel online. Namun jadikanlah medium yang kamu miliki itu ke arah yang lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, membaca tak sesempit sekadar baca tulisan saja melainkan segala hal yang ditemui. So, ada baiknya generasi milenial sebagai pion utama penentu masa depan Indonesia ini, mulai membangun habit membaca.

Loh, memang iya dengan iqra’ (membaca) dapat memerdekakan bangsa? Berkaca dari baginda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang meskipun buta huruf⎯tetapi dengan risalah iqra’ saja mampu mengubah peradaban Arab jahiliyah menjadi peradaban kejayaan Islam selama beberapa abad setelahnya.

Tapi ingat! Apa pun bentuk membacamu, jangan pernah lupa kalau baca Al-Qur’an adalah yang utama ya! Hihi.

Redaktur: Prita K. Pribadi