Jadi Orang Gak Enakan, Gak Enak Kan?

Terkadang, kita memang tidak bisa mengatakan tidak pada saat tertentu karena terkalahkan oleh perasaan tidak enak. Maka, prinsip hidup paling mudah yaitu jangan 'gak enakan'. Kalau kamu tidak bisa memberi bantuan, katakan tidak. Kalau kamu bisa, katakan bisa. Cobalah untuk mulai belajar tegas. Suka ya suka, enggak ya enggak, tak perlu banyak pura-pura.

Jadi Orang Gak Enakan, Gak Enak Kan?
Ilustrasi orang yang sebenarnya ingin menolak tapi justru mengiyakan permintaan orang lain. Sumber: huffpost.com

Pernahkah kamu merasa sungkan untuk menolak ajakan atau permintaan seseorang? Sebagai contoh, ketika kamu diajak nongkrong oleh teman-temanmu. Sebenarnya kamu enggan karena berbagai alasan. Namun, karena merasa tidak enak, akhirnya kamu mengiyakan ajakan yang mereka tawarkan. Pernah, atau bahkan sering? Hmm, kamu harus lebih hati-hati nih agar tidak menjadi people pleaser.

Apa itu people pleaser? People pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang selalu berusaha untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya. People pleaser juga dikenal sebagai pribadi yang selalu merasa gak enakan. Seorang people pleaser akan memiliki kecenderungan untuk melakukan apapun agar orang lain tidak kecewa terhadapnya meski hal itu justru membuat dia lelah sendiri.

Lalu, apa saja tanda-tanda people pleaser? Akun instagram @indo_psikologi mengungkapkan bahwa ada beberapa tanda yang bisa dikenali pada people pleaser, antara lain:

1. Sangat takut menyakiti perasaan orang lain

Tanda yang paling terlihat dari people pleaser adalah sulit untuk mengatakan tidak atau menolak permintaan seseorang karena dia merasa takut akan menyakiti perasaan orang tersebut. Bahkan, ketika salah bicara sedikit saja, hal itu bisa membuat people pleaser kepikiran terus-menerus, overthinking, dan dihantui oleh perasaan bersalah.

2. Sulit mengapresiasi diri sendiri

Ketika mendapatkan suatu keberhasilan, seringkali seorang people pleaser mengatakan bahwa hal itu merupakan kebetulan atau karena adanya beberapa faktor eksternal. Dia sulit untuk menghargai dirinya sendiri.

3. Seringkali meminta maaf atas hal-hal yang tidak perlu

Sebenarnya bukan kesalahannya, tapi dia justru meminta maaf atas hal yang terjadi. Mungkin seorang people pleaser nyaman dengan hal semacam itu, tapi secara tidak langsung hal itu justru bisa merugikannya.

4. Jarang meminta bantuan kepada orang lain

Bukan karena people pleaser bisa melakukan segalanya sendirian, tapi dia tak mau merepotkan orang lain.

5. Cepat setuju meski sebenarnya tidak setuju terhadap sesuatu

Seorang people pleaser lebih memilih untuk memendam ketidaksetujuannya, hanya karena enggan untuk terlibat dalam suatu perdebatan.

Sekilas, menjadi people pleaser terdengar positif, bukan? Ya, membantu sesama memang baik, tapi jadi people pleaser akan menjadi kebiasaan yang membawa dampak negatif. Nah, untuk mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan, saya mencoba membuka aplikasi Alodokter untuk berkonsultasi dengan para ahli. Dalam hal ini, saya kembali memanfaatkan fitur chat dokter spesialis di bidang psikologi. Ndilalah, psikolog yang aktif pada saat itu adalah Bapak Delvi Padian, M.Psi, seorang psikolog yang sebelumnya pernah saya ajak diskusi ketika menulis artikel tentang masturbasi.

Menurut Pak Delvi, dampak dari segi psikologi bagi seorang people pleaser adalah dia akan mudah tertekan dan terganggu emosinya karena merasa bersalah kalau tak bisa mengikuti keinginan orang lain. Sedangkan di sisi lain, dia juga akan tertekan jika mengikuti keinginan orang tersebut. "Ibaratnya, gak enakan sama orang lain tapi seenaknya ke diri sendiri," tulis Pak Delvi via forum chat Alodokter pada Sabtu (14/06).

Seringkali people pleaser menjadi sasaran pertama untuk diberi suatu tugas. Hal ini bisa terjadi karena people pleaser sudah dikenal akan menerima tugas dengan senang hati. Meski tidak semua orang berniat memanfaatkannya, lama-kelamaan seorang people pleaser akan merasa dirinya dimanfaatkan dan terlalu banyak berkorban.

Tentu cukup penting untuk memikirkan kembali ketika kita menolong orang lain dengan terpaksa. Apalagi jika karena ingin dianggap sebagai penolong atau orang yang berjasa. Atau ingin membuat orang lan senang dengan kita, tidak ingin dia marah. Bukahkah kita sudah diperintahkan supaya senantiasa mengharap rida Allah dalam setiap kebaikan yang kita kerjakan? Mari kita ulas kembali firman Allah dalam QS. Al-Lail: 19-21.

 وَمَا لِاَحَدٍ عِنۡدَهٗ مِنۡ نِّعۡمَةٍ تُجۡزٰٓىۙ

اِلَّا ابۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّهِ الۡاَعۡلٰى‌ۚ

وَلَسَوۡفَ يَرۡضٰ 

"Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna)." (QS. Al-Lail: 19-21)

Dari ayat di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, ketika menolong orang lain, semata-mata kita niatkan karena Allah. Bukan karena orang itu pernah menolong kita sehingga kita merasa memiliki hutang budi dan harus membalas jasanya. Kemudian dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda.

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang dia niatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Telah disebutkan dalam hadis di atas, seseorang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Bahkan seandainya dia hijrah atau beramal kebaikan karena ingin menikahi seorang perempuan, maka dia hanya akan mendapatkan perempuan tersebut. Itu juga kalau dapat. Lalu, bagaimana kalau Allah tidak berkehendak? Gagal menikahi perempuan yang diidamkan, gagal pula memperoleh surga yang penuh kenikmatan.

Sama halnya ketika kita hendak menolong orang lain, kalau niat kita karena tidak enak atau karena ingin dinilai baik, maka yang kita dapatkan hanya pengakuan baik dari orang tersebut, bukan dari Allah. Dengan kata lain, tak ada pahala yang bisa kita dapatkan. Dalam istilah orang jawa hal seperti ini disebut guwak byuk, amalannya sia-sia. Oleh sebab itu, kita tak perlu terlalu sibuk memakai topeng untuk menyenangkan banyak orang, sedangkan kebahagiaan pribadi menjadi prioritas kesekian, pahala pun tak kita dapatkan.

Terkadang, kita memang tidak bisa mengatakan tidak pada saat tertentu karena terkalahkan oleh perasaan tidak enak. Maka, prinsip hidup paling mudah yaitu jangan 'gak enakan'. Kalau kamu tidak bisa memberi bantuan, katakan tidak. Kalau kamu bisa, katakan bisa. Kalau kamu diajak main, nongkrong, atau ajakan lainnya tapi kamu tidak mau, katakan tidak mau. Kalau memang kamu mau, katakan mau. Ya, sesederhana itu. Tidak mungkin kita tidak bisa mengatakan tidak. Cobalah untuk mulai belajar tegas. Suka ya suka, enggak ya enggak, tak perlu banyak pura-pura.

Pada umumnya, perasaan tidak enak muncul karena tidak bisa menolak. Perlu diketahui bahwa menolak suatu ajakan atau permintaan tidak lantas membuat kita menjadi orang yang jahat atau egois. Selama kita berusaha menolak dengan cara yang baik, insyaallah orang yang kita beri penolakan juga akan menerimanya dengan baik. Untuk menyikapi hal itu, INJO akan memberikan beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk melakukan penolakan dalam upaya mengurangi kebiasaan gak enakan. Apa saja tipsnya? Yuk, gaskan!

1. Ucapkan maaf sebelum menolak

Ada tiga kata ajaib yang menyimbolkan etika dan sopan santun dalam berbicara, yaitu maaf, tolong, dan terima kasih. Mengucapkan kata maaf sebelum menolak, dapat meminimalkan temanmu untuk sakit hati. Justru sebaliknya, dia akan lebih legowo dan bisa memaklumi.

Contoh: “Maaf cuy, gue gak bisa ikut nongkrong malam ini karena ada jadwal ngaji.”

2. Awali dengan pujian dan akhiri dengan ucapan terima kasih

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia itu suka terhadap pujian. Kamu bisa melontarkan pujian ketika hendak melakukan penolakan. Dengan demikian, insyaallah penolakanmu akan lebih mudah diterima.

Contoh: “Kayanya acara nanti malem bakal seru banget deh cuy, tapi gue ga bisa dateng, ada pengajian.”

Nah, setelah berhasil menolak, jangan lupa untuk menyampaikan terima kasih kepadanya.

3. Jelasakan mengapa kamu tidak bisa melakukan permintaannya

Beri penjelasan singkat agar dia mengerti kenapa kamu tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Tak perlu berlebihan atau mengarang alasan. Jujur saja, sesuai kenyataan.

Contoh: “Duh, nanti malem gue gak bisa ikut cuy, soalnya pas banget sama jadwal ngaji."

4. Coba tawarkan opsi lain

Jika kamu masih merasa bersalah untuk mengatakan tidak dan benar-benar berharap bisa mengiyakan ajakan temanmu, maka kamu bisa mencoba memberi beberapa solusi lain sebagai pilihan.

Contoh: “Maaf cuy, gue gak bisa dateng nanti malem, ada pengajian. Tapi insyaallah kita bisa ketemu malem Minggu. Gimana kalo ngopi di tempat biasa?"

Itulah beberapa tips yang bisa kamu lakukan ketika kamu ingin menolak suatu ajakan. Sekali lagi, membantu sesama memang baik, tapi jangan sampai salah niat dan malah menyakiti diri sendiri.

Pada intinya, kita perlu memahami bahwa kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan perasaan kita sendiri. Selalu berusaha menyenangkan orang lain akan menjadi kegiatan yang melelahkan. Oleh sebab itu, fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan. Masih banyak cara untuk membuat orang lain bahagia tanpa harus membuat diri kita sengsara. "Jadi orang gak enakan, gak enak, kan?" Yaudah, yuk, berusaha untuk lebih mencintai diri sendiri!

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah