Jejak Digital yang Sulit Hilang hingga Penyakit Ain, Alasan untuk Bijak Bermedia Sosial

Kita harus bijak dalam bermedia sosial, karena bisa merugikan diri kita sendiri. Apa pun yang kita unggah bisa menjadi bumerang bagi kita baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, kita bisa saja terkena UU ITE, dan dihujat oleh pengguna media sosial lain, di akhirat kita akan mempertanggungjawabkan apa saja yang kita posting saat di dunia.

Jejak Digital yang Sulit Hilang hingga Penyakit Ain, Alasan untuk Bijak Bermedia Sosial
Sumber foto : Sekawanmedia.co.id

Bangun tidur buka instagram, setelah bosan lalu buka twitter, bosan lagi ganti ke TikTok, buka Youtube juga dijadikan opsi. Tak terasa waktu habis berjam-jam hanya untuk scroll pindah-pindah aplikasi. Kelakuan siapa nih?

Berapa persen dari waktu kita dihabiskan untuk berselancar di dunia maya? Karena dari media sosial kita bisa mendapat informasi terkini, bisa mengekspresikan diri, bahkan bisa digunakan untuk mencari tambahan penghasilan dengan berjualan sebagai online shop. Namun, dari banyak manfaat yang disuguhkan, juga terdapat banyak sekali mudharat bagi kita jika kita tidak bijak menggunakannya. Di antaranya yaitu:

1. Jejak Digital Yang Sulit Dihilangkan

Ketika kita mengunggah sesuatu di media sosial baik itu tulisan, video, gambar, atau foto, akan sulit sekali untuk dihilangkan. Mengutip dari CNN Indonesia, pengamat keamanan internet, sekaligus Information Technology Security Specialist Vaksinkom, Alfons Tanujaya mengatakan, ketikan yang menjadi jejak digital dipastikan akan berada di internet selama-lamanya. 

Mungkin kita bisa menghapusnya secara fisik, tapi bisa jadi postingan yang sudah terlanjur kita unggah sudah discreenshoot orang lain, dan disebarkan ke mana-mana. 

Seperti kasus sopir pribadi Vanessa Angel beberapa waktu lalu, meskipun dia sudah menghapus story Instagramnya, masih bersebaran video-video yang sudah terlanjur dipublikasikan itu. 

Maka penting bagi kita untuk berpikir seribu kali saat akan mengunggah segala sesuatu dalam sosial media kita. Karena jika tidak, postinganmu bisa menjadi harimaumu.

2. Bikin Lupa Waktu dan Malas

Teman-teman injo pasti tidak asing dengan istilah kaum rebahan kan? Kaum rebahan seringkali diidentikkan dengan scrolling media sosial. 

“Habis ini mau cuci piring ah, tapi rebahan buka instagram dulu sebentar.” Tahu-tahu sudah satu jam.  Sering seperti ini kah kamu? 

Penggunaan media sosial yang tidak bijak bisa menghambat produktivitas kita loh. Membuat kita lupa waktu, dan menyia-nyiakan waktu luang. Sering kali niat baik kita disabotase oleh keasyikan-keasyikan berselancar di dunia maya yang akhirnya menimbulkan rasa malas di dalam hati kita. Padahal Allah sudah melarang kita untuk menyia-nyiakan waktu luang. Allah berfirman, 

فَاِذَا فَرَغْتَ فَنْصَبْ

“Maka ketika kamu telah selesai (dari pekerjaanmu), mulailah (pekerjaan yang lain)” (Q.S Al-Insyiroh : 7)

Jadi tak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia. Istirahat boleh, tubuhmu berhak atas itu. Tapi pastikan bahwa kamu memang membutuhkan waktu istirahat itu demi mengisi tenaga kembali. Bukan sekadar rebahan karena malas gerak alias mager.

3. Berpotensi Terkena Penyakit Ain

Penyakit ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata yang disertai rasa dengki maupun kagum pada objek yang dilihat. Rasa hasad (dengki) dan kagum itulah yang dimanfaatkan oleh setan untuk masuk dan merusak orang yang dipandang. 

Dalam hadis Ibnu Majah nomor 3509 diceritakan, suatu hari sahabat nabi yang bernama Amir Bin Robiah tidak sengaja melihat Sahel Bin Hunaif yang sedang mandi. Lalu Amir bin Robiah berkata, “Baru kali ini aku melihat kulit yang seindah kulit gadis pingitan.” Mendengar komentar dari Amir Bin Robiah, Sahel Bin Hunaif langsung pingsan tak sadarkan diri. 

Sahel Bin Hunaif terkena penyakit ain karena pandangan takjub Amir Bin Robiah. Artinya penyakit ain tidak selalu disebabkan oleh orang yang bermaksud jahat. Penyakit ini bahkan bisa terjadi tanpa disadari oleh ‘pelaku’ dan ‘korbannya’. 

Ketika kita memposting sesuatu di media sosial yang bisa menimbulkan perasaan dengki maupun kagum orang lain, kita berpotensi terkena penyakit ain, bahkan tanpa disadari oleh orang yang melihat postingan kita. 

Jadi ketika seseorang melihat postingan kita lalu timbul rasa kagum yang berlebihan maupun timbul rasa dengki di dalam hatinya, maka di situlah penyakit ain bekerja. Itulah alasan penyakit ain juga disebut evileyes. Karena penyakit ini bisa membahayakan seseorang hanya dengan pandangan mata. 

Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini sangat beragam. Dari yang ringan, sampai yang berat seperti yang dialami Sahel Bin Hunaif di atas. Bisa mengganggu psikologi maupun fisik ‘korbannya’. Pada beberapa kasus bahkan dapat menyebabkan kematian. Nabi bersabda, 

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَو كَانَ شَيْىٔ سَابِقُ الْقَدَرَ سَبَقَةُ الْعَيْن

"Ain itu hak (benar-benar ada). Jika ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, Ain bisa (melakukannya)” (HR Muslim no. 2188)

Kita harus bijak dalam bermedia sosial, karena bisa merugikan diri kita sendiri. Apa pun yang kita unggah bisa menjadi bumerang bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, kita bisa terkena UU ITE, dan dihujat oleh pengguna media sosial lain. Di akhirat kita akan mempertanggungjawabkan apa saja yang kita posting saat di dunia. 

Maka di zaman yang pahala maupun dosa jariah bisa dengan mudah kita dapatkan, unggahlah sesuatu yang bisa menambah nilai ibadah dan tidak memberatkan kita di akhirat kelak. Yuk bijak bermedia sosial!

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah