Kegagalan, Dilihat dari Kacamata Siapa?

Kembali berbicara soal kegagalan duniawi, kadang kita tidak segera memahami bahwa konsep gagal itu hanya diukur dari kacamata kita saja. Sebab Allah lebih mengetahui kesuksesan atau kebaikan yang paling sesuai untuk kita. Dibalik kegagalan rencana yang kita benci itu, Allah siapkan sesuatu yang lebih baik.

Kegagalan, Dilihat dari Kacamata Siapa?
Ilustrasi seorang pria yang meratapi kegagalan. Sumber: Canva

Beberapa waktu lalu, gegap gempita pengumuman SBMPTN sempat mewarnai jagat maya. Selalu, setiap tahunnya ada saja perayaan bagi mereka yang lolos dan juga kesedihan bagi mereka yang belum berhasil. Keramaian ini menggiringku untuk mengingat masa-masa itu, masa dimana aku pun pernah jadi bagian ceremony tersebut.

Bagiku, mungkin juga bagi orang lain yang pernah mengalami, pengumuman SBMPTN bukan lagi hal yang mengagetkan. Tidak begitu istimewa ketika berhasil juga bukan hal yang buruk ketika kenyataan menyampaikan bahwa hasilnya belum diterima. Sebab dalam hidup, kita kerapkali dipertemukan pada kegagalan-kegagalan yang kita pikir buruk dan akan menghambat rencana kita. Padahal belum tentu juga rencana kita itulah yang terbaik untuk kita.

Ketika beranjak dewasa, bisa jadi banyak hal mengecewakan yang akan kita temui. Bisa dimulai dari gagal masuk universitas yang kita mau, gagal mendapatkan pekerjaan impian, gagal menggapai cita-cita, hingga gagal soal urusan hati. Semuanya sama, tetap menyakitkan dan kita anggap buruk ketika hal tersebut terjadi. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita akan menyadari bahwa gagal hari ini bukan satu-satunya penutup jalan untuk melanjutkan hidup. Kita masih punya banyak opsi untuk dipilih, masih banyak kesempatan untuk dicoba, dan masih banyak pintu untuk diketuk. Karena selagi masih hidup, masih banyak hal baik yang bisa diupayakan.

Tidak mudah memang untuk menerima dengan lapang dada ketika sebuah kegagalan menghampiri kita. Tapi coba deh tanyakan kembali ke diri sendiri, apakah kegagalan yang satu ini layak membuat kita berhenti berjuang? Lalu hanya duduk terdiam seolah menunggu kematian? Tentu tidak bukan?

Betapa banyak manusia yang hidup berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan lain tapi terus bangkit lagi dan lagi. Konon katanya, Thomas Alva Edison melakukan ribuan kali percobaan untuk bisa menemukan lampu pijar. Dalam percobaan itu pun, ribuan kali pula ia "gagal" menemukan formulasi yang tepat. Coba bayangkan apa yang akan terjadi ketika ia kala itu menyerah? Tentu saja ia tidak bisa mencapai tujuannya kala itu.  Tapi ternyata dari kegagalan yang disebut orang-orang itu, Edison tak menganggapnya sebagai kegagalan. I justru menganggap bahwa ia telah menemukan metode yang sebelumnya ditempuh bukanlah metode yang tepat, tidak bisa dipakai. Setelah menemukan letak kesalahannya, ia berusaha memperbaikinya. 

Jangankan manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah kalah dalam perang uhud dan perang hunain bukan? Tapi apakah Rasulullah menyerah? Tentu saja tidak. Meskipun di tengah keterbatasan umat muslim kala itu, Rasulullah tetap menggaungkan semangat memperjuangkan agama Allah. Perjuangan beliau dan para sahabatnya berbuah manis hingga Islam bangkit dan tetap tumbuh hingga hari ini.

Memang beberapa hal mungkin terasa tidak mudah untuk kita capai. Entah karena terlalu besar, terlalu tinggi, atau terlalu sulit untuk digapai. Tapi jika kita berupaya dan berdoa, maka semua hal akan terasa mungkin untuk diraih. Buktinya Muhammad Al Fatih mampu menaklukan konstantinopel di usia yang masih muda. Apakah ia berhasil karena berleha-leha dan cepat menyerah pada ketidakmungkinan? Tentu saja tidak. Ia membangun rencana, mematangkan strategi, dan melakukan banyak sekali upaya dan doa hingga akhirnya ia mampu mencapai tujuannya itu.

Kembali berbicara soal kegagalan duniawi, kadang kita tidak segera memahami bahwa konsep gagal itu hanya diukur dari kacamata kita saja. Sebab Allah lebih mengetahui kesuksesan atau kebaikan yang paling sesuai untuk kita. Dibalik kegagalan rencana yang kita benci itu, Allah siapkan sesuatu yang lebih baik.

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

Terkadang memang butuh waktu lebih lama untuk menyadari hikmah dari setiap kejadian. Disini kepekaan kita diharapkan, baper urusan keimanan itu sudah semestinya diasah. Agar tidak larut dalam menyalahkan keadaan.

Tak sekedar omongan, penjelasan di atas juga ternyata dirasakan adik tingkatku yang dulu tidak lolos dalam SNMPTN, SBMPTN, bahkan Ujian Mandiri kampus favoritnya pun belum berhasil. Pada akhirnya ia masuk ke Perguruan Tinggi Swasta pilihan orang tuanya.

Ketika aku bertanya mengenai hikmah dari kejadian tersebut melalui Whatsapp pada Jumat (02/04), ia memberi jawaban yang menarik. Menurutnya, apa yang didapatkannya hari ini tidak akan didapat jika ia masuk ke kampus impiannya itu. Semua teman-teman yang baik, dosen pengajar, IPK yang memuaskan, kuliah yang tidak mengganggu proses ibadah, hingga beasiswa yang dianggapnya sebagai hadiah dari Allah karena kesabarannya meniti proses. Ia pun menyadari bahwa apa yang didapatkannya hari ini jauh lebih baik daripada sekadar rencana awalnya dahulu.

Dan kurasa ini cukup menjadi bukti, bahwa pada akhirnya kita bisa kok mendapatkan apa yang lebih dari rencana kita ketika kita meletakan semua urusan kita hanya pada-Nya. “Aku bersyukur Mba, dengan kuliah di tempatku sekarang ini aku malah dapat beasiswa kuliah dari nilai IPK aku, yaa lumayanlah buat bantu-bantu biaya kuliah. Ya meskipun sampai sekarang pun aku masih suka kebayang kejadian itu, tapi yang sekarang ini ternyata jauh lebih baik daripada rencanaku," jelasnya.

Nah sudah lihat, bagaimana takdir berjalan? Takdir manusia itu sudah tertulis 50000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Seperti dalam sebuah hadist yang berbunyi:

 

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Jadi sebenarnya kita hanya perlu menjalani hidup, berupaya semaksimal yang kita bisa dan berdoa semoga Allah meridai mimpi-mimpi kita. Tapi kalaupun kita gagal setelah banyaknya usaha yang kita lakukan dan banyaknya doa yang kita panjatkan, maka mungkin kita bisa menyadari bahwa doa pun punya takdirnya sendiri; dikabulkan saat itu juga, ditunda, atau bahkan diganti.

Biarpun kita sudah bersujud dan berupaya, bukan berarti Allah mengabaikan keinginan kita. Hanya saja, Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Dari sini, keimanan kita terhadap Allah sedang diuji. Apakah kita bisa menerima takdir dari Allah untuk kita? Apakah ketika takdir dari Allah tak sesuai dengan yang kita mau, lantas kita marah dan menolak percaya?

Jika kita mengaku sebagai orang iman, sudah seharusnya kita percaya kepada apapun takdir Allah sesuai dengan hadis berikut.


أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim no. 8)

Jadi, masihkah kita belum rida pada segala hal yang Allah tentukan? Meski kuakui, kadang sulit untuk menerima dan bangkit dari suatu kegagalan. Tapi kalau kata Kelly Clarkson, “what doesn’t kill you make you stronger.”

So selagi masih hidup, masih banyak hal baik untuk diperjuangkan. Karena hidup bukan soal seberapa banyak jatuhnya, tapi seberapa banyak mencoba bangkitnya. Bukan soal seberapa banyak dosanya, tapi seberapa sering tobatnya. Karena kita selalu dinilai dari apa yang diakhiri, seperti apa kelak orang akan mengenang cerita kesuksesan kita adalah hasil dari akumulasi bangkit yang kita lakukan berkali-kali.

Dan untuk menutup tulisan ini, aku ingin menyampaikan moto yang aku sukai. “It’s always have an happy ending, if it’s not happy, it’s not an ending.” So, please don’t stop.

Semangat ya, kamu! Untuk apapun yang kamu perjuangkan sampai hari ini. Untuk semua impian, cita-cita, dan segala hal untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kamu hebat, kamu kuat, maka jangan pernah menyerah untuk bangkit lagi dan lagi, dan jangan lupa selalu niatkan segalanya untuk mencari rida Allah. Agar mendapat kebaikan hidup, tidak hanya di dunia tapi juga kehidupan selanjutnya.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah