Kerja Sama Sebagai Bentuk Keimanan, Demi Merdeka dari Corona

Kalau dahulu penjajahan mengakibatkan hasil panen yang dirampas atau dipaksa kerja tanpa upah hingga kelaparan⎯penjajahan pandemi ini malah banyak menyusahkan masyarakat di perkotaan. Aktivitas terhenti hingga gedung tinggi nan besar yang kita kenal terpaksa gulung tikar. Pekerjaan perlahan direnggut hingga manusia kebingungan. Sampai bisa menimbulkan perpecahan antar manusia. Seperti menimbun barang-barang kesehatan, makanan pokok, obat-obatan dan suplemen. Pada akhirnya, masa sekarang ini bukan lagi dijajah oleh bangsa asing, melainkan makhluk yang kita kenal dengan sesama dan sebangsa.

Kerja Sama Sebagai Bentuk Keimanan, Demi Merdeka dari Corona
Upacara peringatan Kemerdekaan RI ke-75, di Wisma Atlet, Tanggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur pada Senin (17/8/2020). Sumber: kompas.com

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

“Dan Allah telah menciptakan bumi untuk manusia.”  (QS. Al-Rahman : 10)

Menutup bulan Agustus yang kiranya tak punya kesan terlalu banyak seperti biasanya di nuansa kemerdekaan karena diselimuti wabah. Namun, ragam peringatan daring dan hiasan di sekitar komplek rumah cukup bisa mengobati hati dan mata, sebab kita semua masih punya api semangat atas kebanggaan negeri yang telah merdeka 76 tahun silam. Mulai tahun 1509 Indonesia dijajah oleh bangsa Portugis, hingga tahun 1945 menyatakan merdeka usai dijajah oleh bangsa Jepang. Kurang lebih 445 tahun lamanya negara ini dijajah, mengalami penderitaan dan siksaan hingga beberapa turunan.

Namun, era baru penjajahan kini tampak tak disangka. Bukan bangsa asing yang menduduki tanah negeri ini, melainkan makhluk tak kasat mata bernama Coronavirus disease (Covid-19). Sejak bulan Desember 2019, ia mulai memperkenalkan diri di muka bumi ini hingga memperluas wilayah dan memorak-porandakan dunia. Kini bukan hanya satu negara yang dijajah melainkan hampir seluruh negara termasuk di Indonesia, yang datang sekitar bulan Maret 2020. Tak pandang bulu, ia merenggut nyawa manusia dari berbagai kalangan sekali pun tenaga kesehatan. Bukan hanya manusia yang tumbang, krisis ekonomi pun jelas terpampang.

Ditambah belum lama ini media sosial ramai dengan beredarnya kabar virus Marburg, yang mana menurut World Health Organization (WHO) penyakit dengan virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat rasio kematian hingga 88%. Penularannya dapat melalui kontak langsung (melalui kulit yang rusak atau selaput lendir) dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi. Bisa juga lewat permukaan dan bahan (misalnya tempat tidur dan pakaian) yang terkontaminasi dengan cairan ini. Otomatis, hal tersebut menambah peringatan bagi kita semua tentang betapa serius ancaman di depan mata.

Kalau dahulu penjajahan mengakibatkan hasil panen yang dirampas atau dipaksa kerja tanpa upah hingga kelaparan⎯penjajahan pandemi ini malah banyak menyusahkan masyarakat di perkotaan. Aktivitas terhenti hingga gedung tinggi nan besar yang kita kenal terpaksa gulung tikar. Pekerjaan perlahan direnggut hingga manusia kebingungan. Sampai bisa menimbulkan perpecahan antar manusia. Seperti menimbun barang-barang kesehatan, makanan pokok, obat-obatan dan suplemen. Pada akhirnya, masa sekarang ini bukan lagi dijajah oleh bangsa asing, melainkan makhluk yang kita kenal dengan sesama dan sebangsa.

Dampak yang paling terasa ada pada masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dilema dalam menaati peraturan pemerintah, sebagian dari mereka kebingungan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka terpaksa ke luar rumah untuk mencari maisyah. Segala cara melindungi diri sendiri dari pandemi, sekaligus mencari cara memenuhi kebutuhan keluarga, setidaknya untuk makan di hari itu saja.

Melihat segala penderitaan yang harus dijalani oleh negeri ini, cukup menampar jika dibandingkan dengan kata merdeka yang telah para pahlawan perjuangankan. Apalagi, Allah menciptakan bumi untuk manusia, yang sudah seharusnya kita rawat bersama. Maka dari itu, salah satu cara yang sederhana tapi kadang sulit diciptakan adalah: kerja sama! Merdekanya 17 Agustus yang diperingati setiap tahun mencoba mengingatkan kita pada gotong royong, bahu membahu memberantas penjajahan berbentuk virus ini. Mulai lah dengan komitmen pada diri sendiri dengan mematuhi protokol kesehatan. Ya, sesederhana itu. Jika banyak dari kita sudah memegang komitmen tersebut, perlahan kerja sama akan terjalin. Betapa indahnya jika melihat sebuah negeri dipenuhi orang yang kompak dari atas sampai bawah. Bahu membahu memerangi segala kesulitan bersama hingga nantinya senang bersama.

وَ تَعاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوى‏ وَ لا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَ الْعُدْوان

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”  (QS. Al-Maidah : 2).

Bagaimana menumbuhkan rasa komitmen tersebut agar terciptanya kerja sama?

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat : 10).

Ayat ini menggunakan kata Innama yang memiliki arti Hasyr (hanya), yang menunjukkan bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah saudara. “Saudara seiman” ini salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa antar manusia harus bekerja sama, disamping manusia sebagai makhluk sosial. Namun, hal ini jangan sampai dijadikan alasan untuk mendiskriminasi makhluk lain yang tak seagama, sebudaya, atau satu suku. Sebab Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan dan keadilan, sebagaimana firman Allah berikut.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُوۡنُوۡا قَوَّا امِيۡنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِالۡقِسۡطِ‌ ۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ عَلٰٓى اَ لَّا تَعۡدِلُوۡا‌ ؕ اِعۡدِلُوۡا هُوَ اَقۡرَبُ لِلتَّقۡوٰى‌ وَاتَّقُوا اللّٰهَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maidah : 8).

Nah! Kerja sama menjadi kunci utama manusia di dunia pada saat krisis seperti ini. Banyak orang yang kesusahan akibat pandemi saja pun, sudah membuat hati kita terenyuh. Pasti tak mau melihat dan merasakan lebih banyak penderitaan lagi bukan?

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

Yuk, kita eratkan tali persaudaraan lewat kerja sama! Jangan lengah, jangan lemah. Jaga imunitas dan taati protokol kesehatan. Tentunya, diikuti ibadah dan doa yang maksimal. Demi Indonesia merdeka dari Corona!

Redaktur: Prita K. Pribadi