Ketika Seorang Wanita Lebih Dulu Jatuh Cinta

Bermodal rasa keingintahuan yang tinggi membuatku mengulik tentang permasalahan ini, terutama bagaimana problematika "cewek minta dinikah duluan" ini dilihat dari sudut pandang Islam. Pernah ada riwayatnya kah? Apakah baik? Atau malah tidak dianjurkan?

Ketika Seorang Wanita Lebih Dulu Jatuh Cinta
Ketika seorang wanita lebih dulu jatuh cinta. Sumber Foto : Canva

“Gue tuh suka sama dia, tapi ya kali gue yang bilang duluan".

Kurang lebih seperti itulah ungkapan perasaan teman perempuanku saat sesi curhat, ketika kami sedang bersilaturahim dalam kegiatan buka puasa bersama Ramadan tahun 2021 ini. Perkataanya menimbulkan pertanyaan besar di kepalaku, "Ya memang kenapa? Sebermasalah apa jika cewek yang suka duluan, dan dia yang mengungkapkan untuk minta dinikah duluan? Masih relevan kah gengsi model seperti itu di era sekarang ini?"

Bermodal rasa keingintahuan yang tinggi membuatku mengulik tentang permasalahan ini, terutama bagaimana problematika "cewek minta dinikah duluan" ini dilihat dari sudut pandang Islam. Pernah ada riwayatnya kah? Apakah baik? Atau malah tidak dianjurkan? Aku juga jadi penasaran dan mencoba mewawancarai beberapa orang terdekat, guna memperkuat data dan dasar apa yang sedang ingin kusampaikan ini.

Mari mulai dengan pernyataan ibuku yang ternyata membenarkan bahwa konotasi perempuan minta dinikah duluan itu (di zaman beliau muda dulu) memang terkesan sedikit negatif. "Gak tahu alasan konkretnya seperti apa, tapi yang jelas terkesan kayak yang kebelet duluan aja gitu, gak etis sih ngerasanya." ungkap Ibuku saat diwawancara secara langsung pada hari Minggu (02/05).

Beliau juga sempat menambahkan bahwa di zamannya dulu penggambaran wanita bak seorang ratu bagi para pria itu sangat terasa kental, "Seingat ibu, dulu tuh kan zamannya kerajaan-kerajaan gitu ya, perempuan tuh kalau mau dinikah kayak yang diagung-agungkan banget gitu loh, si pangerannya turun dari kuda, berlutut, menundukkan badannya, diminta-minta banget gitu. Mungkin sedikit banyak hal itu berpengaruh, jadi gak sedikit perempuan di zaman ibu ya penginnya begitu."

Sedikit banyak aku telah mendapat perspektif dari pengalaman masa muda ibuku, yang menandakan bahwa memang ada wanita dengan pemikiran seperti itu. Tidak menutup kemungkinan saat ini pun masih banyak yang menganut paham, “cewek ya diminta, bukan minta duluan”. Ada beberapa faktor yang memengaruhi terbentuknya pemahaman itu, diantaranya faktor eksternal seperti budaya dan lingkungan, faktor internal, serta banyak pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Kemudian untuk memperluas perspektifku soal problematika ini, aku menghubungi Icha, istri dari temanku. Aku tahu betul bahwa dia adalah sosok yang meminta untuk dinikah duluan kepada Dodi, suaminya sekarang. Dengan nada santai ia bilang, "Ya ngapain gengsi? Dari pada ngegedein gengsi ujung-ujungnya jomlo terus-terusan? Toh kalau langsung to the point kan jadi meminimalisir baper-baper yang gak jelas. Dia mau ya dilanjut, gak pun gak jadi masalah. Tinggal istirja', aku cari yang lain. Simple," ungkap Icha yang aku wawancara via telepon (02/05).

Sebab Dodi adalah temanku juga, aku turut menanyakan perihal permasalahan ini padanya. Bagaimana soal pengungkapan perasaan yang dilakukan lebih dulu oleh wanita ini dilihat dari sudut pandang laki-laki? Ia pun menyambut baik dan mendukung tren ini bisa lebih banyak lagi ditiru. Menurut pengalaman pribadinya, rasa suka dan cinta terhadap Icha itu justru muncul sebab keberanian Icha “menantang” dirinya terlebih dahulu. “Ya gue dulu awalnya gak ada perasaan sama Icha, tapi pas dia nantangin nikah, gue jadi malah kepikiran terus, eh jadi suka deh,” ungkap Dodi di telepon selang satu hari setelah aku mewawancarai Icha.

Kesimpulan obrolanku dengan Icha yang telah sukses mengesampingkan gengsinya adalah ia berusaha realistis terhadap kenyataan yang dihadapinya sekarang. Ia sempat menyampaikan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa semakin mendekati kiamat, persentase jumlah laki-laki akan jauh lebih sedikit dari perempuan. Hal itu juga diperkuat dengan dalil tentang belum sempurnanya agama seseorang ketika statusnya masih sendiri. Terlebih betapa luar biasanya godaan hubungan lawan jenis yang banyak terjadi di luaran sana. Ketiga alasan kuat ini lah yang mendasari dirinya untuk membuang jauh-jauh perkara gengsi, lalu mendahulukan usaha yang ditempuh sesuai syariat dalam upaya bertemu dengan jodohnya.

Diperkuat dengan obrolanku dan Dodi, pria cenderung menyambut baik tentang hal ini. Sebab menurutnya pihak wanita telah mengurangi salah satu beban terberat bagi laki-laki saat ia memutuskan ingin menikah. Yaitu mengungkapkan perasaan atau memastikan bahwa pihak wanita memiliki perasaan yang sama. "Bener sih, aku pribadi pun merasakan demikian. Kalau si cewek yang minta duluan, beban angan-angan seperti, 'dia suka juga gak ya sama gue?' itu kan otomatis jadi berpindah ke si cewek, jadi gak cowok melulu yang ngerasain begitu, hehe."

Tapi sebenarnya bagaimana pandangan Islam melihat perkara ini? Adakah riwayat tentang permasalahan ini di zaman Nabi dulu?

Sudah tentu kisah Ummi Khadijah yang terlebih dulu kepincut dengan tanggung jawab dan kecekatanya Muhammad (saat itu belum menjadi Nabi) pada saat ia bekerja. Sempat merasa galau dan insecure sebab permasalahan umur yang terpaut cukup jauh, Ummi Khadijah pun meminta Nafisah sahabatnya untuk menjadi perantara pengungkapan perasaan serta niat baiknya itu. Kisah yang telah masyhur ini cukup menjadi referensi saat kamu memiliki keinginan untuk dinikah oleh seseorang. Dengan catatan, tujuanmu meminta ya untuk dinikah bukan buat dekat atau pacar-pacaran saja, pria yang kamu minta pun adalah sosok pria sholih yang dapat bertanggung jawab atas urusan dunia dan akhiratmu.

Jadi, bukan sebuah masalah atau aib bilamana seorang wanita yang terlebih dulu menyukai dan menginginkan dinikah oleh orang yang ia suka. Sudah ada contohnya dari zaman dulu maupun zaman sekarang. Oleh sebab itu, sampai di paragraf ini apa yang bisa kamu simpulkan? Apakah artikel ini cukup menjadi alasan untukmu memperjuangkan perasaan dan mulai untuk take action lebih dulu? Atau kamu masih kuat dengan gengsimu dan berpikiran "ya cewek yang diminta, bukan yang minta duluan". Silahkan, itu pilihanmu.

Nah, spesial untukmu yang mulai tumbuh keyakinan untuk lebih dulu beraksi ketimbang menunggu, aku ada beberapa saran yang mungkin bisa kamu jalankan dalam upayamu memperjuangkan sang pujaan hati.

1. Libatkan ayah/walimu
Tidak disarankan jika kamu mengungkapkan perasaanmu kepada ia secara langsung, sebab hal itu sangat berbahaya karena bisa membuka peluang setan menggoda untuk mengaburkan niat baikmu. Sampaikan perasaan dan keinginanmu itu kepada ayah atau walimu, minta ia berbicara langsung dengannya, menjadi penyambung lidah maksud baikmu padanya.

2. To the point
Langsung pada intinya, jangan biarkan kamu diberi jawaban yang menggantung. Kalaupun ia butuh waktu untuk mempertimbangkannya, beri rentang waktu agar hatimu pun tak dibuat terlalu berharap pada sesuatu yang belum jelas. Menunggulah dengan bijaksana, tahu kapan kamu mulai, dan tahu kapan kamu akan berhenti menunggunya.

3. Berharap pada Allah, bukan pada dia
Sekalipun perasaanmu menggebu padanya, sangat berbahaya bila nalarmu telah dikuasai oleh nafsu. Harapmu jadi begitu besar padanya, bahkan melampaui realita yang sebenarnya. Masalahnya, sekuat apapun usahamu, sebanyak apapun harapanmu, penentu segalanya tetap Allah yang Maha Kuasa. Maka serahkan semuanya pada Allah. Apapun akhirnya yang kamu dapatkan, itu sudah menjadi takdir yang terbaik untukmu.

Tentukan dari sekarang!
Ungkapkan apa yang kamu rasakan, maka kamu akan mengetahui jawabannya. Atau belajarlah untuk rela, bila pada akhirnya orang yang kamu inginkan menikah dengan orang lain, tanpa lebih dulu mengetahui tentang perasaanmu selama ini.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah