Khalid bin Walid, Pedang Allah yang Terhunus!

Ketika pada akhirnya Khalid bin Walid  dipanggil oleh Sang Khaliq, Umar bin Khathab tak kuasa menangis. Begitu heroiknya perjuangan Khalid, mengantarkannya menjadi sosok panglima perang yang terus dikenang akan jasa dan kehebatannya.

Khalid bin Walid, Pedang Allah yang Terhunus!
Ilustrasi Khalid bin Walid dalam peperangan. Sumber : matamatanews.com

Sudah kenal belum nih siapa itu Khalid Bin Walid? Beliau adalah sahabat nabi yang sangat termasyhur sebagai panglima perang. Beliau sangat ditakuti di medan perang sehingga dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Beliau adalah satu dari beberapa panglima perang yang sangat baik dalam menyusun strategi perang dan belum pernah terkalahkan sepanjang kariernya.

Sekitar 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam,yaitu pada tahun 584 M, lahirlah Khalid dari pasangan Walid dan Lababah. Khalid lahir di kalangan suku Quraisy. Bakat beliau dalam berperang bukan tiba-tiba muncul begitu saja. Kerennya, sejak beliau masih kanak-kanak, kemampuannya dalam berperang sudah terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan teman-temannya. Seperti pernah terjadi, suatu hari pada masa kanak-kanak, beliau bersama sepupunya yang bernama Umar beradu gulat. Khalid pun dapat mematahkan kaki Umar. Alhamdulillah dengan perawatan yang intens, kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Berkat kemampuan yang dimilikinya, Khalid bin Walid mendapatkan hati di kalangan masyarakat. Tidak lama kemudian, Khalid ditunjuk menjadi pemimpin suku Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Termasuk pada saat perang Uhud, Khalid ditunjuk menjadi panglima perang dari golongan kafir Quraisy.

Beliau segera menyusun strategi untuk mengalahkan pasukan Islam. Kemudian, Khalid  menemukan celah kelemahan kaum muslim, dimana mereka menjadi lemah setelah bernafsu mengambil harta rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud.  Pada saat itulah pasukan Khalid dapat memukul mundur pasukan Islam. Mungkin terdengar mengesalkan, mengingat ia merupakan orang yang mengalahkan umat Islam. Namun justru setelah perang inilah, Khalid bin Walid mulai masuk ke dalam Islam. Maasya Allah…

Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat senang karena beliau memiliki kemampuan berperang dan penyusunan strategi yang baik. Dalam banyak kesempatan, Khalid diminta untuk menjadi panglima perang pasukan muslim. Contohnya saja pada masa pemerintahan Abu Bakar. Khalid Bin Walid diminta menjadi pemimpin pasukan Islam yang berjumlah 46.000 orang menghadapi pasukan tentara Byzantium yang berjumlah 240.000 orang. Perang ini disebut dengan perang Yarmuk.

Pada perang Yarmuk, jelas terlihat jumlah pasukan Islam lebih sedikit. Bahkan alat perlengkapan perang juga kurang memadai, kemampuan perang kurang terlatih, dan pasukan islam kurang mutunya jika dibandingkan dengan pasukan Byzantium. Hal ini membuat Khalid dan pasukannya mengatur strategi khusus. Beliau membagi pasukannya menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukannya. Hal ini dimaksud untuk memberikan kesan seolah-olah jumlah pasukan Islam lebih besar dari pada musuh.  Strategi Khalid ternyata sangat ampuh.

Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraklius mengikat tentaranya dengan besi antar satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka tidak lari dari peperangan. Kegigihan Khalid Bin Walid dan pasukannya membuahkan hasil. Mereka berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukan wilayah itu. Keren!

Selain perang Yarmuk, ada juga perang lain yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid, yaitu Perang Riddah. Perang Riddah (perang melawan kemurtadan) ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau lagi tunduk pada masa pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah, dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat. Oleb sebab itu, mereka menentang Abu Bakar.

Sikap keras kepala dan penentangan mereka dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka dari itu Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan Islam untuk melawan kaum murtad tersebut. Khalid mengakhirinya dengan memenangkan perang tersebut.

Contoh kesuksesan perang di atas membuktikan bahwa Khalid bin Walid merupakan ahli siasat perang. Beliau juga mahir berbagai macam senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Beliau juga tidak sombong walaupun dia berada dalam puncak popularitasnya. Hal ini terlihat pada saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid meski beliau tidak melakukan kesalahan apa pun. Luar biasanya, beliau tetap menuntaskan perang dengan begitu sempurna.

Setelah menuai bebagai prestasi, kepemimpinan pun beliau serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah. Ketika pada akhirnya Khalid bin Walid  dipanggil oleh Sang Khaliq, Umar bin Khathab tak kuasa menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid, melainkan Umar sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya “Si Pedang Allah” menempati posisi khusus di sisi Allah SWT. Begitu heroiknya perjuangan Khalid, mengantarkannya menjadi sosok panglima perang yang terus dikenang akan jasa dan kehebatannya.

Menyaksikan kisah tentang Khalid di atas, apa saja nih moral values yang dapat kita ambil? Beliau yang awalna bukan seorang muslim, bahkan sempat ikut memerangi orang Islam dan mengalahkannya, jadi berbalik membela dan memperjuangkan umat Islam. Sebagai generasi muda, kita patut meneladani sosok beliau.

Apalagi di momen kemerdekaan Indonesia seperti sekarang ini, kemerdekaan umat Islam pun perlu kita ketahui sejarah dan tokoh-tokoh pejuangnya. Kemerdekaan Islam dari belenggu orang-orang kafir, atau bisa disebut Fathul Mekah, tak lepas dari dari jasa para pahlawan perang di baliknya. Salah satunya adalah Khalid bin Walid.

Kegigihan dan kuat tekad miliknya untuk mencapai sesuatu wajib kita tiru. Kita juga bisa belajar dari kemampuan beliau menyusun strategi yang baik, strategi yang baik bisa menjadi modal awal untuk bisa mencapai tujuan apa kita inginkan. Sifat berani dan pantang menyerah menjadi senjata untuk siap menerima apapun hasil dan resiko dari apa yang kita perjuangkan.

Yuk sahabat injo.id, kita bisa ambil beberapa teladan dari sosok sahabat nabi Khalid Bin Walid sang pedangnya Allah. Semoga semangat juang beliau bisa kita ikuti yaaa. Semangatt!!!

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah