Kisah Teladan Nabi Ayub: Sabar Itu Tak Kenal Batas

Bersyukur kepada Allah bukan hanya ketika kita diberikan nikmat saja, melainkan saat sedang diberi cobaan. Sebab Allah mempunyai berbagai macam cara untuk menyayangi kita, salah satu caranya dengan memberikan cobaan.

Kisah Teladan Nabi Ayub: Sabar Itu Tak Kenal Batas
Ilustrasi sabar dan tawakal dengan berdoa kepada Allah. Sumber: muslim.okezone.com

Sebagai makhluk ciptaan Allah, kita diwajibkan untuk selalu bersyukur, sesuai dengan firman-Nya di dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah : 152).

Bersyukur kepada Allah bukan hanya ketika kita diberikan nikmat saja, melainkan saat sedang diberi cobaan. Sebab Allah mempunyai berbagai macam cara untuk menyayangi kita, salah satu caranya dengan memberikan cobaan. Dari setiap cobaan tersebut tentu berbeda-beda rupa masalah dan porsinya. Tetapi perlu diingat bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ….” (Al-Baqarah : 286).

Ketika sedang diuji oleh Allah, seorang hamba perlu sabar dan tawakal. Jangan sampai kita mengeluh dan merasa bahwa ujian yang dihadapi adalah paling berat dari yang lain. Nah, bicara soal sabar menghadapi cobaan tentu tidak akan terlepas dari salah satu kisah Nabi yang terkenal akan kesabarannya. Yap benar! Nabi Ayub.

Allah memberikan banyak kenikmatan dunia kepada Nabi Ayub, seperti keluarga dan harta yang melimpah. Ia selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah dengan bersedekah, meningkatkan ibadah dan memberikan pekerjaan kepada orang yang membutuhkan.

20 tahun lamanya kenikmatan, Allah menurunkan cobaan kepada Nabi Ayub. Pertama, Allah mematikan seluruh perkebunan dan hewan ternaknya tanpa tersisa satu pun. Dengan cobaan ini, Nabi Ayub tetap bersyukur dengan cara meningkatkan keimanannya. Kedua, semua anaknya yang berjumlah 12 orang meninggal dunia. Siapa yang tak bisa menahan perih saat kehilangan seorang anak? Tentu Nabi Ayub merasa sedih, namun ia tetap meningkatkan keimanan sebagaimana cerminan orang muslim yang taat. Ketiga, Nabi Ayub diberikan penyakit kulit oleh Allah. Hari demi hari ia lalui hingga penyakitnya semakin menjadi-jadi, dan lama-kelamaan membuat semua orang di wilayahnya menjauh. Pada akhirnya Nabi Ayub diusir dari rumahnya. Sehingga Nabi Ayub dan istri pergi meninggalkan wilayah menuju tempat yang jauh dari keramaian.

18 tahun berlalu, Nabi Ayub tetap sabar dalam menghadapi cobaan bersama istrinya. Diikuti dengan doa, keduanya meminta kesembuhan dari Allah. Namun kala itu sang Nabi teramat malu untuk meminta kesembuhannya. Sebab kenikmatan yang dirasakan dahulu, lebih lama dibandingkan dengan ujiannya ini. Namun, karena penyakit yang semakin parah ini membuat beliau kesulitan untuk beribadah. Hingga akhirnya Nabi Ayub pun berdoa.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya : 83).

Seketika itu, munculah perintah dari Allah untuk Nabi Ayub.

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ

“Hentakkanlah kakimu: inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Sod : 42).

Nabi Ayub pun bangkit dan menghentakkan kakinya ke tanah, lalu muncu air yang bisa digunakan untuk mandi dan minum. Seketika itu hilanglah semua penyakit Nabi Ayub. Ketika istrinya melihat sang Nabi, ia merasa terkejut dan bersyukur atas kebesaran Allah yang telah menyembuhkan suaminya.

Keesokan hari, berita tentang Nabi Ayub sampai kepada telinga penduduk di wilayahnya. Mereka beramai-ramai mendatangi rumah Nabi Ayub dengan membawakan berbagai macam hadiah. Kemudian Allah memberikan harta dua kali lipat dari harta yang dahulu dimilikinya. Allah juga memberikan karunia kepada istri Nabi Ayub dengan hamil anak kembar selama beberapa kali, seperti yang disebutkan di surat Sod.

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.” (Sod : 43).

Sebagai Sang Maha Pencipta, Allah pun mengakui betapa sabar dan taatnya Nabi Ayub.

.اِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

“….. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (Sod : 44).

Berkaca pada kisah di atas, banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Ketika keimanan seseorang diuji dengan cobaan bertubi-tubi, akankah seseorang putus asa dan menyalahkan Allah karena cobaan berat tersebut? Atau malah semakin kencang meminta doa kepada Allah. Sebab tak sedikit pula seseorang yang diuji, akan cepat mengeluh dan mengeluarkan dalih "sabar ada batasnya". No! Itu salah besar ya. Sabar itu tak ada batasnya kawan! Justru kesabaran seseorang akan habis ketika ia sudah tutup usia. So, ayo atur lagi emosinya supaya bisa sabar. Percaya deh, manfaat sabar itu baik dan banyak barokah-nya. Ya seperti kisah Nabi Ayub ini.

Akhir kata, semoga kita termasuk pada golongan orang yang sabar. Aamiin.

Yuk, jadikan kisah Nabi Ayub sebagai teladan menjalani hidup dan cobaan kita di dunia!

Redaktur: Prita K. Pribadi