Krisis Tabayun, Kisah Supranatural Babi Ngepet Bisa Jadi Introspeksi Warga

Ketika Jepang telah sukses dengan uji coba mobil terbangnya, Amerika Serikat akan segera meluncurkan kendaraan ke Mars, negara kita yang tercinta ini masih asik dengan hal-hal mistis yang tak pernah ditemui bukti ilmiahnya.

Krisis Tabayun, Kisah Supranatural Babi Ngepet Bisa Jadi Introspeksi Warga
Silluet babi yang seolah tengah berada di alam lain. Sumber foto : Canva

Babi yang malang. Sudah difitnah sebagai penyebab atas hilangnya uang warga, dijadikan tontonan dan perbincangan satu Indonesia, lalu hidupnya harus berakhir di tangan manusia penimbul perkara.

Untukmu yang tidak terlalu mengikuti soal isu babi ngepet di Depok yang sempat ramai diperbincangkan selama sepekan ini, saya coba jelaskan sedikit tentang beritanya ya. Jadi kabarnya pada hari Selasa, 27 April 2021 warga Sawangan, Depok Jawa Barat sempat digegerkan dengan adanya seekor babi yang diduga menjadi pesugihan seorang warga. Pemberitaan tersebut awalnya ramai di akun instagram lambe_turah yang sontak mendapat banyak respon dari warganet dan tidak sedikit juga yang menduga ini hanyalah upaya pengalihan isu untuk menutupi kasus-kasus serius yang tengah bergejolak di Indonesia.

Soudzon aee rangorang, kalo ga kebukti malu gasi?” ungkap akun Instagram @zhraz****

Ahh, pengalihan isu. Hari gini masih ada babi ngepet” tambah @jk.hand***

Menyaksikan kejadian ini, bukankah rasanya rakyat negeri kita ini sarat komedi? Ketika Jepang telah sukses dengan uji coba mobil terbangnya, Amerika Serikat akan segera meluncurkan kendaraan ke Mars, negara kita yang tercinta ini masih asik dengan hal-hal mistis yang tak pernah ditemui bukti ilmiahnya.

Sejak ramainya pemberitaan ini, polisi pun segera ambil bagian dalam upayanya menggali informasi. Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ternyata dugaan keberadaan babi ngepet ini hanyalah berita karangan seorang tokoh masyarakat. Isu babi ngepet itu sengaja ia karang-karang, dengan dalih mencarikan solusi untuk warganya yang belakangan ini sering mengeluh kehilangan uangnya. Tanpa pusing-pusing, agar keluhan itu segera tuntas penyelesaiannya.

Pelaku penyebar berita babi ngepet meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Sumber Foto : Tribunnews.com

"Semuanya yang sudah viral tiga hari sebelumnya adalah hoaks, itu berita bohong," kata Kapolres Metro Depok Kombes Imran Edwin Siregar, Kamis (29/4)  dikutip dari Kompas.com.

Alih-alih ingin menjadi solusi atas permasalahan warga, polisi malah menjerat pelaku penebar berita bohong babi ngepet ini dengan Pasal 10 ayat 1 atau 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dengan  ancaman kurungan 10 tahun penjara. Huh. Menyedihkan.

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari permasalahan ini?

Pertama, kita sebagai warganet supaya bisa menjadi warganet yang budiman. Tidak mudah mempercayai, bahkan ikut menyebarkan hal-hal yang belum jelas kebenarannya. Terlebih kita sebagai seorang muslim diperintahkan langsung oleh Allah untuk mengedepankan proses tabayun. Perintah tabayun ini telah jelas tertuang dalam Al Quran surat Al Hujarat ayat 6.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

“Mas mas, tapi yang memberikan info soal adanya babi ngepet itu orang yang berpeci dan pake baju koko loh, sepertinya dia bukan orang fasik, dia tokoh agama kan?”

Pelaku penyebar Hoax saat sedang memberikan pengumuman terkait penemuan babi ngepetnya. Sumber foto : instagram.com/ndorobeii

Maka masuklah pada hikmah yang kedua, bahwa terkadang atribut keagamaan seseorang tidak selalu mencerminkan ilmu yang dimiliki. Perkara koko dan peci hanyalah masalah budaya keislaman, ilmu yang sesungguhnya tercermin dari perilaku dan perbuatan. Itulah mengapa kita jangan sampai salah pilih guru, jangan salah pilih tempat belajar, dan jangan salah memilih sosok tauladan. Perkara agama ini urusan surga neraka, benar dan salah, jadi libatkan Allah dalam penemuan keyakinanmu. Toh terbukti dalam kasus ini atribut keagamaan dan ucapan yang meyakinkan bukan jaminan yang dibawa adalah kebenaran. Maka berhati-hati, teliti, dan berdoalah.

Hikmah yang terakhir, solusi dari setiap masalah yang kita hadapi yaitu introspeksi diri dan berserah.

Uang hilang? Tes masuk kuliah gagal? Melamar seseorang ditolak? Apa solusinya? Ya hanya dua itu—introspeksi dan berserah. Mengapa uangmu sampai hilang? Sudah sekuat apa usahamu menjaga keamanan uangmu? Kalaupun sudah sak pol kemampuan namun tetap hilang, berarti itu sudah menjadi bagian dari takdirmu. Uang tersebut bukanlah rezekimu. Berserah, istirja’, minta ganti yang lebih banyak dan lebih barokah kepada Allah.

Begitu pula dengan gagal tes kuliah, ya introspeksi diri! Sudah sekeras apa usahamu belajar? Kalaupun sudah mati-matian namun tetap gagal, ya memang itulah takdir terbaikmu. Pun dengan melamar seseorang, jika upayamu telah maksimal namun ternyata bukan kamu yang ada di dalam hasil istikharahnya, ya istijra’, berdoa! Semoga diganti dengan sosok yang lebih baik dari dia yang tak memilihmu. Selesai.

Allah lebih tahu tentang apa yang kita butuhkan. Jika ada hal yang dianggap "lebih" oleh Allah, ada saja cara Allah mengambilnya. Begitu pun jika ada yang kurang, ada saja cara Allah untuk menambahnya. Sudah, percaya saja dengan rencana Allah. Percaya dengan skenario Allah. Jangan malah duit hilang lantas lapor, ketika mendengar babi ngepet dituduh sebagai alasan malah percaya-percaya saja. Kalau sudah begini kasihan siapa? Kasihan babinya. Kalau penyebar hoaksnya? Biarin deh, gak usah dikasihani. Biar dapat pelajaran atas perbuatannya yang meresahkan.

Agar diia juga merasakan hukum dunia, dengan harapan itu bisa menjadi bahan perenungan dan sarana bertobat memohon ampun kepada Allah. Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa berkata bohong adalah salah satu dosa besar yang dapat menggiring pelakunya ke Neraka, sebagaimana diriwayatkan di hadis Muslim, no. 105/2607 :

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Rasulallâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang pendusta.”

Na'udzubillahi min dzalik

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah