Mari Persiapkan Diri, Karena Mati Datang Tanpa Notifikasi

Orang yang cerdas bukanlah mereka yang berprestasi di sekolah atau perguruan tinggi, bukan juga yang dapat promosi jabatan di lingkungan pekerjaan, apalagi yang punya harta kekayaan melimpah. Jauh dari hal itu, orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian. Ia adalah orang yang paling baik dalam mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Mari Persiapkan Diri, Karena Mati Datang Tanpa Notifikasi
Ilustrasi kematian manusia. Sumber: manado.tribunnews.com

Akhir-akhir ini banyak sekali mobil ambulans berseliweran. Sebagian membawa pasien yang perlu dirawat, sebagian lainnya membawa nyawa yang tak bisa selamat. Toa masjid pun seakan-akan kebanjiran “order-an” karena hampir setiap hari mengumumkan berita kematian. Grup WhatsApp juga dipenuhi dengan berbagai berita duka dan ucapan belasungkawa. Tentu saja tidak semua yang meninggal disebabkan oleh virus Corona.

Kendati demikian, kematian merupakan suatu keniscayaan, bahkan sudah ada jauh sebelum virus Corona menginjakkan kaki di Kota Wuhan. Sedangkan virus Corona hanyalah satu dari berbagai perantara yang mengantarkan seseorang pada kematian. Dari berbagai fenomena yang ada, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa semua yang bernyawa pasti akan berjumpa dengan ajalnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ

“Setiap diri akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185)

Dalam prosesnya, kematian tak memiliki kriteria yang bisa dijadikan sebagai acuan. Jika kematian dilihat dari sudut pandang usia, bagaimana dengan janin yang meninggal di dalam kandungan, sedangkan dia belum sempat melihat dunia? Jika kematian harus diawali dengan sakit, lalu bagaimana dengan seseorang terlihat segar bugar, namun tiba-tiba saja terserang penyakit mematikan hingga tibalah wafat?

Ya, itulah mati yang tak pernah memiliki syarat pasti. Dia bisa menghampiri siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Entah itu tahun depan, bulan depan, minggu depan, esok hari, atau bahkan sebelum kita selesai membaca artikel ini. Tak akan ada yang tahu pasti kecuali Allah semata. Ketika ajal telah tiba, maka tak ada yang bisa menolaknya. Jangankan memohon agar kematian dimundurkan, berharap agar dimajukan sedikit saja tak akan bisa.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya telah tiba, mereka tidak dapat memundurkannya sesaat pun, dan tidak dapat memajukannya.” (QS. Al-A’raf ayat: 34)

Ketidaktahuan kita sebagai manusia tentang kapan, bagaimana, dan di mana kita mengalami kematian; justru Allah menguji sikap kesungguhan kita. Bayangkan saja kalau manusia sudah tahu dari awal? Apakah niat baik selama di dunia benar karena Allah atau tidak?

Mempersiapkan diri dengan mempersungguh ibadah adalah hal yang dapat kita lakukan sedini mungkin dalam menempati dunia yang serba tidak abadi ini. Jika sudah paham, tak akan ada lagi alasan untuk sedih berlebihan saat kehilangan seseorang yang dicintai. Sebab kematian adalah mutlak. Telah ditetapkan bahkan jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.

Sederhananya begini saja, segala sesuatu memang butuh persiapan agar berjalan dengan lancar bukan? Layaknya perayaan pernikahan atau perayaan lain yang sifatnya membuat hati gembira. Dalam rangka mencapai pernikahan yang khidmat dan segala rupa keindahannya, kita melakukan persiapan dari jauh hari dengan matang. Mulai dari segi keuangan, fasilitas, hingga orang-orang yang diundang. Namun, tatkala kita sering lupa bahwa persiapan tak hanya dilakukan untuk hal-hal yang manis saja. Bagaimana kalau kematian diibaratkan seperti pernikahan? Menyukai kematian layaknya acara pernikahan mungkin bisa membuat kita semua terbuka, bahwa mecintai kematian adalah hal yang patut melekat dan wajar saja. Sebab tak ada satu pun yang menyangkal "acara" kematian.

So, cintai dulu takdir kita sebagai manusia yang akan mengalami kematian. Maka, kamu akan mempersiapkan dengan sungguh hal itu. Memangnya, ada motivasi yang bisa menandingi sebuah kematian dalam berkehidupan yang lebih baik? Jika kematian saja tidak bisa menjadi trigger-nya, apa sebenarnya yang sedang dipahami dalam menjalankan hidup ini? Hmmm….

Lalu, hal apa saja yang dapat dipersiapkan?

Setiap detik yang kita lewati adalah pengurangan waktu hidup di dunia. Maka, jangan sia-siakan waktu tersebut dalam melupakan ibadah kepada Allah dan berbuat baik pada sesama. Berusaha menertibkan salat wajib tepat waktu, memperbanyak zikir kepada Allah, memperbanyak amal saleh, membaca kitab Allah, menjauhi hal-hal yang berpotensi menjadi dosa, berusaha lebih berbakti kepada kedua orang tua, mengimplementasikan budi luhur, dan lain sebagainya.

Seseorang yang selalu mengingat kematian akan menyadari bahwa kehidupan di dunia tak ubahnya seperti seorang petani yang diberi ladang pinjaman. Petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang tersebut dengan menanam tumbuhan yang berkualitas dan merawatnya dengan penuh kesungguhan. Petani itu khawatir, ia tidak bisa mendapatkan hasil apapun ketika ladang tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Itulah gambaran orang yang cerdas. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis.

اَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَاَحْسَنُهُم لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادً، اُولَئكَ اَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati, mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. At-Tirmidzi).

Berkaca pada hadis di atas, dapat kita tarik pemahaman bahwa menurut Nabi Muhammad saw, orang yang cerdas bukanlah mereka yang berprestasi di sekolah atau perguruan tinggi, bukan juga yang dapat promosi jabatan di lingkungan pekerjaan, apalagi yang punya harta kekayaan melimpah. Jauh dari hal itu, orang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian. Ia adalah orang yang paling baik dalam mempersiapkan kehidupan setelahnya.

"Cukup kematian sebagai peringatan."

Caption yang cukup familier. Semoga kalimat tersebut bukan hanya menjadi topping yang menghiasi setiap unggahan tentang kepergian seseorang. Lebih dari itu, kematian merupakan sebuah nasihat yang singkat dan padat namun penuh dengan makna tersirat. Kalau bukan dengan kematian, apalagi yang mau kita jadikan sebagai peringatan? Mari persiapkan diri, karena mati datang tanpa notifikasi.

Redaktur: Prita K. Pribadi