Masih Menyepelekan Dana Darurat? Pandemi Menjadi Bukti Nyatanya

Sama-sama menyisihkan uang, apakah dana darurat sama dengan tabungan? Jelas sekali perbedaannya guys~. Adanya tabungan itu dimaksud untuk perencanaan keuangan yang sudah jelas kita tahu tujuannya untuk apa, seperti untuk beli gawai baru. Sedangkan dana darurat, sesuai namanya, kita hanya menggunakannya di saat-saat terdesak. Kapan terjadinya tak dapat diprediksi secara pasti.

Masih Menyepelekan Dana Darurat? Pandemi Menjadi Bukti Nyatanya
Ilustrasi menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana darurat. Sumber: Canva

Apakah kamu sudah menyimak mengenai pembahasan mendasar tentang investasi dan keuangan pada artikel-artikel injo.id sebelumnya? Selamat dan terima kasih bagi kamu yang sudah khatam membacanya. Jika belum, kamu dapat menyimak artikel ini sampai habis sebelum beranjak menjelajah rubrik ekonomi syariah. Karena pembahasan kali ini tak kalah penting dari perkara investasi.

Yap, sesuai judulnya, kita akan mengupas mengenai dana darurat yang kerap kali terlupakan dalam perencanaan keuangan. Sama-sama menyisihkan uang, apakah dana darurat sama dengan tabungan? Jelas sekali perbedaannya guys~. Adanya tabungan itu dimaksud untuk perencanaan keuangan yang sudah jelas kita tahu tujuannya untuk apa, seperti untuk beli gawai baru, untuk dana pernikahan, atau beli kendaraan baru. Sedangkan dana darurat, sesuai namanya, kita hanya menggunakannya di saat-saat terdesak. Kapan terjadinya tak dapat diprediksi secara pasti.

Apalagi dalam masa pandemi yang kian menghantui, belum terdengar janji perpisahan yang melegakan. Tenggorokan rasanya tercekat mengingat banyaknya istilah yang bergantian dipakai, dari mulai lockdown, PSBB, sampai PPKM. Meski berbeda definisi, imbas dari istilah-istilah tersebut sama saja bukan bagi masyarakat? Ya, perihal dapur rumah alias keuangan.

Tak hanya bagi yang sudah berumah tangga, kamu yang masih menapaki hidup sendiri pun sangat disarankan untuk mengedepankan dana darurat terlebih dahulu sebelum mulai menabung.

Mengenai dana darurat ini dapat kita niatkan mengikuti sunah Rasulullah SAW dalam potongan hadis berikut

...وَكَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَعْزِلُ نَفَقَةَ أهْلِهِ سَنَةً .... 

Rasulullah SAW menyisakan nafkah untuk kebutuhan keluarganya selama setahun [HR Tirmidzi].

Meski tak dapat diprediksi, kita tetap harus awas dalam penggunaan dana darurat. Jangan sampai kita membuat-buat keadaan yang sebenarnya tidak darurat, tapi kita anggap sebagai keadaan darurat karena pemuasan pribadi.

Prita Ghozie, seorang perencana keuangan menjelaskan dalam podcastnya bersama Raditya Dika, “Dana Darurat adalah cash liquid yang kita ga tahu akan kita pakai untuk apa. Dan kalaupun kita pakai, kita tidak bahagia. Kalau lo ganti handphone lo bahagia, kalau lo pakai mau kawin lo bahagia, kalau lo sampai makai dana darurat, artinya lo lagi sedih, lo lagi kena musibah.”

Lalu kapan saja kita diizinkan untuk menggunakan dana darurat?

Prita Ghozie menyebutkan, ada 6 hal yang mengharuskan kita menggunakan dana darurat.

1. Kehilangan pekerjaan/pemasukan yang didapat benar-benar minim

Dengan catatan pemakaiannya benar-benar untuk mengganti biaya hidup utama, bukan untuk tetap memiliki gaya hidup yang sama. Seperti kebutuhan untuk makan, tidak perlu memaksa untuk membeli steik karena keadaan sedang darurat.

2. Musibah kesehatan atau sakit

3. Alat transportasi yang biasa kita gunakan sehari-hari rusak

4. Perabot rumah tangga utama rusak

Dalam hal ini wajib memperhatikan keberfungsiannya, bukan sekadar untuk fashion. Bukan sekadar untuk tambahan kenikmatan. Misalnya memperbaiki kipas angin karena memang sudah tidak menyala, bukan karena kipas angin yang sesekali mengeluarkan bunyi mengganggu.

5. Kerusuhan urusan domestik

Prita memberikan contoh seperti tiba-tiba membutuhkan sewa jasa pembersih karena kebanjiran.

6. Bencana Alam

Setelah mengetahui pentingnya dana darurat, lalu berapa besaran dana yang harus dialokasikan?

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan besaran pengeluaran pokok per bulan kita. Sudah tahu belum nih pengeluaran per bulan kamu? Atau jangan-jangan kamu selama ini belum bisa mengontrol arus pengeluaranmu? Duh harus dijewer dulu nih. Pastikan kamu rajin mencatat pengeluaran bulananmu ya! Ketahui dengan pasti lari ke mana uang hasil keringatmu selama ini.

Langkah kedua, hitung jumlah dana darurat ideal kamu berdasarkan rumus dari Felicia Putri Tjiasaka berikut ini.

  • Belum menikah : paling sedikit 3 kali pengeluaran bulanan
  • Menikah (0 anak) : paling sedikit 6 kali pengeluaran bulanan rumah tangga
  • Menikah (1 anak) : paling sedikit 12 kali pengeluaran rumah tangga

Seiring dengan bertambahnya tanggungan dalam rumah tangga, maka makin besar pula dana darurat yang harus dipersiapkan. Jadi jangan lupa untuk update perkiraan dana darurat sesuai keadaan ya!

Ambil contoh, Maya memiliki pengeluaran bulanan pokok sebesar 2 juta rupiah. Total tersebut sudah termasuk biaya makan, biaya kos, transportasi, listrik, maupun air. Namun tidak termasuk dengan biaya lifestyle  atau liburan. Karena Maya belum menikah, maka Maya perlu mempersiapkan dana darurat paling sedikitnya 3 x 2 juta, yaitu sebesar 6 juta rupiah.

Langkah ketiga, kamu bisa mengumpulkan dana darurat dengan mencicil. Caranya, perkirakan berapa lama waktu yang kamu butuhkan dan berapa besar persentase pendapatan bulanan yang akan kamu sisihkan untuk segera mencapai target. Misal, kamu dapat menyisihkan sebagian pendapat bulanan kamu sekitar 5-10% selama jangka waktu tertentu sampai target dana darurat terpenuhi.

Melanjutkan contoh Maya, Misal gaji/pemasukan Maya per bulan 5 juta rupiah. Maka setidaknya Maya perlu menyisihkan 5% dari 5 juta tersebut, yaitu sebesar 250 ribu rupiah. Berikutnya untuk mencapai 6 juta rupiah, maka Maya perlu menyisihkan sedikitnya 250 ribu selama 24 bulan.

Atau bisa juga Maya mengukur berdasarkan lama waktunya dulu. Misalkan target 6 juta tadi ingin dicicil selama 12 bulan, maka didapat hasil sebesar 500 ribu rupiah yang harus disisihkan Maya setiap bulannya. 

Tambahan tips dari INJO.ID, agar segera memenuhi jumlah ideal dana darurat, kamu dapat mengesampingkan belanja hal-hal yang tidak mendesak. Namun juga dalam pengumpulannya jangan sampai memberatkan diri sendiri, merasa terbebani sampai-sampai urusan makan pokok pun terbengkalai.

Ingat juga, pengeluaran dan kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Berbeda keadaan, berbeda lokasi tempat tinggal, dan berbeda jumlah tanggungan. Maka besaran dana darurat ini murni sesuai kebutuhan kamu sendiri, tidak perlu menyesuaikan dengan orang lain.

Eits, sebelum selesai INJO.ID mau mengingatkan hal-hal yang perlu kamu perhatikan juga.

1. Lunasi utang

Ibarat ember bocor, akan susah bagi kamu untuk mengumpulkan uang apabila masih ada kebocoran yang tak diinginkan. Maka sangat perlu untuk segera menambal kebocoran tersebut dengan melunasi semua utang yang ada. Setelah itu kamu dapat fokus untuk perencanaan dana darurat.

2. Penempatan dana

Karena sifatnya sebagai cadangan, maka penempatannya jangan disatukan dengan dompet/rekening tempat keluar masuk uang. Pastikan juga dana berbentuk likuid yang mudah dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengurangi nilainya secara drastis. Misalnya seperti uang tunai ataupun logam mulia/emas.

Setelah menyimak pembahasan di atas, apakah kamu makin melek akan urusan perencanaan keuangan? Perlu diingat juga, dana darurat itu sifatnya bisa jangka panjang dan tak terbatas pada keadaan pandemi saja. Tips yang paling mendasar adalah kamu perlu mengenali diri kamu sendiri, apa yang kamu butuhkan, dan apa rencana kamu ke depan. Yuk cerdas dalam mengelola keuangan!

 Redaktur: Prita K. Pribadi