Memahami Stigma dan Romantisisme Isu Gangguan Mental di Indonesia

Kesehatan jiwa masih menjadi ranah yang sangat abstrak untuk dibicarakan. Tak terlihat, atau jika timbul gangguan sering dianggap “gila” atau “terkena guna-guna dan roh jahat”, bahkan sering dihubungkan dengan “kurang ibadah dan bersyukur”. Benarkah?

Memahami Stigma dan Romantisisme Isu Gangguan Mental di Indonesia
Ilustrasi self-diagnosing mental illness. Sumber: gensindo.sindonews.com

Kesehatan jiwa masih menjadi ranah yang sangat abstrak untuk dibicarakan. Tak terlihat, atau jika timbul gangguan sering dianggap “gila” atau “terkena guna-guna dan roh jahat”, bahkan sering dihubungkan dengan “kurang ibadah dan bersyukur”. Benarkah? Mari kita bahas satu per satu.

Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang dipengaruhi oleh tiga fungsi; yakni pikiran, perasaan dan perilaku. Sedangkan gangguan mental sendiri berhubungan dengan kondisi emosional, psikologis, serta kesejahteraan sosial. Keduanya tampak tak jauh berbeda. Namun tetap saja sama bahayanya. Sebab melibatkan tiga fungsi tersebut, justru memang tidak akan mudah untuk melakukan segala aktivitas, termasuk ibadah.

Penyebab gangguan mental sesungguhnya sangat multifaktorial, entah itu secara internal (seperti faktor biologis maupun psikologis), atau faktor eksternal (seperti adanya stressor, trauma, pola asuh masa kecil, dan sebagainya).

Penyebab yang paling utama dari faktor biologis, yakni ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat kimiawi di otak yang dapat memicu seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Beberapa contohnya adalah: Serotonin, yang memiliki peran membuat bahagia, meregulasi nafsu makan, pola tidur, serta sangat terlibat dalam hal memori dan hasrat seksual. Gamma Amino Butyric Acid (GABA) dalam mengurangi kecemasan dan stres, epinefrin (adrenalin) dalam respon stres, dan dopamin dalam hal motivasi dan minat hidup. Keseimbangan semua neurotransmitter ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Olahraga, nutrisi, paparan sinar matahari, ritme sirkadian atau istirahat yang cukup adalah faktor-faktor yang berperan penting terhadap kesimbangan semua zat kimiawi tersebut.

Penyebab yang berikutnya adalah kendala-kendala psikologis dalam mengelola stres kehidupan. Menurut teori Howard Gardner tentang Multiple Intelligences, ada salah satu jenis kecerdasan bernama intrapersonal, yakni kecerdasan introspektif di mana seseorang mampu memahami emosi diri sendiri dan motivasi diri sendiri. Tentu kecerdasan ini berbeda-beda setiap orang, karena terbentuk dari pola asuh masa kecil hingga lingkungan ia dewasa. Kecerdasan ini berperan dalam bagaimana memvalidasi sebuah emosi hingga mengeluarkan emosi negatif yang ada dari dalam diri.

Penyebab lainnya adalah faktor eksternal berupa adanya konflik-konflik sosial yang menyebabkan hal yang sifatnya traumatik. Pola asuh masa kecil, perceraian orang tua, duka yang mendalam atau kehilangan orang terkasih, atau bahkan kasus pemerkosaan dan hal-hal traumatik lainnya adalah contoh hal-hal yang dapat menjadi trigger atau pemicu seseorang mengalami gangguan mental.

Sejarah Kedokteran Islam Mengenai Kesehatan Mental

Konsep kesehatan mental pertama kali diperkenalkan dalam dunia kedokteran Islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Bakhi, ilmuwan Islam pada abad ke-9 M. Beliau dikenal sebagai perintis ilmu kesehatan mental pertama yang sebelumnya pada masa itu lebih dikenal mementingkan kesehatan fisik. Karya yang paling terkenal adalah “Rezeki untuk Tubuh dan Jiwa (Masalih al-Abdan wa al-Anfus)”. Menurutnya, jika nafs (jiwa) menjadi sakit, tubuh atau jasmani pun tidak dapat melakukan aktivitas. Ia juga memperkenalkan realitas penyakit psikosomatis, yaitu nyeri psikologis yang dapat menyebabkan penyakit fisik. Pengakuan ini, yang kemudian dibahas oleh dokter Persia Ali bin Abbas (di Barat beliau dikenal sebagai Haly Abbas atau Ali Abbas) hingga Sigmund Freud, ahli neurologi dan penemu psikoanalisa pada abad 19—baru mulai mengeksplorasi ide tersebut.

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Muslim Mengenai Stigma Gangguan Jiwa dan Mental?

Gangguan ini masih menjadi stigma yang buruk bagi masyarakat. Sebab masih menganggap gangguan jiwa dalam "satu garis" saja; yakni jenis gangguan jiwa psikotik (yang disertai mengamuk, berhalusinasi, hingga mengganggu ketenangan di masyarakat). Padahal ada jenis gangguan jiwa yang non-psikotik (yang tampak dan masih bisa beraktivitas normal seperti orang pada umumnya; misalnya depresi, gangguan cemas, dan lain-lain).

Seringkali sebagian dari kita permah bercondong ke masyarakat yang ignorance soal kesehatan jiwa dan memtal, hingga menyebabkan mereka yang butuh pertolongan tidak berani untuk speak up. Pada akhirnya, memilih ke jurang kematian dengan bunuh diri. Naudzubillahi min dzalik...

Pentingnya sikap kita terhadap sesama saudara Muslim saling membantu dan menumbuhkan sikap empati, minimal mau mendengarkan hal yang ingin mereka sampaikan. Sebab terkadang mereka hanya butuh didengarkan dan menganggapnya sebagai individu pada umumnya, bukan orang yang lemah.

Fenomena Romantisisme Gangguan Mental dan Sikap Menghadapinya

Berkebalikan dengan stigma, saat ini juga banyak terjadi fenomena romantisisme gangguan mental. Apa itu?

Beberapa bulan lalu media sosial diramaikan oleh viralnya unggahan video tiktok dari seorang gadis remaja yang mengaku mengidap penyakit gangguan bipolar. Hal itu ia sampaikan tanpa diagnosa resmi dari dokter, bermodalkan ketertarikannya mengikuti tes online di sebuah website. Contoh lain diambil dari serial Netflix berjudul 13 Re*sons Why. Cerita yang mengambil sisi bunuh diri seorang remaja ini, secara sadar atau tidak bisa membahayakan kalangan tersebut dengan meningkatnya ketertarikan sikap bunuh diri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Jeffrey A. Bridge, PhD dan rekan-rekannya dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (2019). Menyimpulkan bahwa, perilisan series tersebut dapat dikatakan berhubungan dengan peningkatan kasus bunuh diri di Amerika pada tahun 2017 silam. Sebanyak 195 kasus bunuh diri pada remaja berumur 10-17 tahun. Ya, sebuah tontonan remaja yang menayangkan penyakit mental secara tidak realistis, di mana sebenarnya hanya mendorong romantisisme dari hal itu. Ironinya, tanpa disadari menjadi trigger (memicu, menginduksi) seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Menganggap seolah penyakit mental itu adalah sesuatu yang estetik atau tren kekinian, lalu menganggap self-harm atau menyakiti diri adalah sebuah pembenaran dan pelampiasan yang indah.

Jangan sampai salah paham kalau menemui seorang public figure yang speak up soal penyakit mentalnya. Hal itu adalah bentuk dukungan kepada semua orang yang mengalami penyakit sama. Hingga mengeluarkan jargon "kita tidak sendiri". Bukan menjadi mispersepsi yang menganggap gangguan mental adalah hal yang estetik dan tak segan mengumumkan dirinya punya gangguan "keren" itu.

Gangguan mental adalah sesuatu yang sangat kompleks. Membutuhkan banyak rincian dan telaah yang mendalam, hingga memenuhi kriteria diagnosis dari sebuah penyakit mental. Selain itu, harus dinyatakan secara resmi oleh seorang psikolog ataupun ahli kedokteran jiwa (psikiater). Sedih dan terpuruk bukan berarti mengidap gangguan depresi. Cemas dan overthinking bukan berarti anxiety disorder. Mengalami gangguan makan tidak selalu berarti anoreksia ataupun eating disorder. Marah berlebihan bukan berarti manik. Sering mengalami gangguan mood dari sedih ke bahagia tidak selalu bipolar. Juga, perfeksionis dan cinta kebersihan tak bisa langsung dinyatakan mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Semua penyakit tersebut memiliki rincian kriteria diagnosisnya masing-masing berdasarkan Diagnostic and Statistic Manual Mental Disorders (DSM), yang merupakan standar utama dari klasifikasi gangguan mental.

Jika merasa diri sendiri sedang tidak beres dengan ciri hendaya atau ketidakberdayaan melakukan aktivitas normal seperti biasa, apalagi disertai gejala-gejala psikotik. Maka sebisa mungkin jangan melakukan self-diagnosing, melainkan meminta bantuan sang ahli. Tak apa, meminta bantuan bukan hal lemah, justru langkah awal yang amat berani.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Dinyatakan Mengalami Gangguan Jiwa atau Mental oleh Dokter?

1. Menerima Kondisi dan Mencintai Diri, Lalu Niatkan Hidup untuk Ibadah

Ketahuilah bahwa hidup ini ujian. Segala ujian tidak akan selalu mudah. Maka, sikap kuat memang harus manusia tanamkan seiring makin bertambah usia. Selain itu, tugas makhluk bumi tak lain hanya beribadah kepada Allah. Sesederhana itu. Maka, sejatinya kita tak bisa mempercayai manusia seutuhnya. Lain hal dengan Allah, tempat segala hal curahan hati yang aman dan tentram. Bukankah pasti merindukan ibadah yang lancar seperti itu? Maka, berikhtiarlah untuk fokus pada pengobatan dan perawatan dari sang ahli, dan diniatkan agar bisa memperlancar ibadah kembali. Belajarlah berterima kasih kepada diri sendiri. Setiap habis salat, jangan lupakan berdoa agar dikuatkan dan diberi rasa cinta terhadap diri sendiri oleh Allah.

2. Dimulai dari Melakukan Hal-hal Kecil Setiap Hari

Bangun dari tempat tidur, mandi, membersihkan diri, makan makanan yang diinginkan, (jika harus) minum obat hingga stabil. Semua itu merupakan bentuk pembelajaran agar bisa lepas dari hendaya. Kalau kata orang “slowly but sure”, lakukan bertahap dan konsisten terhadap kebiasaan positif tersebut sehingga dapat beraktivitas normal dan produktif kembali.

3. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Pilihlah makanan dan minuman yang bernutrisi seimbang sesuai kebutuhan tubuh. Jadwalkan olahraga rutin mulai dari hal terkecil yang bisa dilakukan di rumah seperti sit up, push up, dan  bentuk olahraga lainnya yang bisa ikuti cara-caranya lewat sumber terpercaya di internet atau usulan dari dokter. Atur juga pola tidur yang teratur, jangan sampai bergadang yang bisa menimbulkan penyakit baru. Tak kalah penting, paparan sinar matahari pun dapat dimanfaatkan lewat ventilasi di setiap ruangan rumah. Juga berjemur di pagi hari, karena sinar matahari sangat mempengaruhi kadar serotonin.

4. Belajar Memvalidasi Segala Emosi Negatif

Jika sedang mengalami kesedihan atau perasaan duka, alangkah baiknya memproses duka tersebut. Salurkan segala emosi negatif tersebut ke kegiatan yang positif. Misalnya saat mengalami overthinking, maka menulis di buku diary menjadi healing agar perasaan negatif itu tertuang hingga tak terpendam dalam hati dan menimbulkan penyakit. Ya, lakukan hobimu sebagai penyaluran emosi negatif. Sebab duka tak bisa dihapus begitu saja, melainkan harus dilewati.

Layaknya Maryam, sosok wanita yang disucikan dan paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Ia mengalami kesedihan yang begitu beratnya hingga berharap mati saat itu juga. Berharap menjadi seseorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.

فَاَجَآءَهَا الۡمَخَاضُ اِلٰى جِذۡعِ النَّخۡلَةِ‌ۚ قَالَتۡ يٰلَيۡتَنِىۡ مِتُّ قَبۡلَ هٰذَا وَكُنۡتُ نَسۡيًا مَّنۡسِيًّا

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, "Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan." (QS. Maryam: 23).

Lalu datanglah Malaikat Jibril utusan Allah untuk menenangkan Maryam.

نَادٰٮهَا مِنۡ تَحۡتِهَاۤ اَلَّا تَحۡزَنِىۡ قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيًّا

“Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam: 24).

5. Istirahat Sejenak untuk Bertahan

Sebesar apa pun masalah yang dihadapi, Allah selalu bersama kita seperti cerita Maryam di atas. Jika lelah, istirahat sejenak bukan berhenti selamanya. Jika butuh pelampiasan, hibur diri sekali-kali dengan hobi dan me time. Jika tak bisa mengontrol apa yang terjadi, maka serahkan kepada Allah. Sebab sesungguhnya Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kelembutan.

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ 

"(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu..." (QS. Al-Hadid: 23)

Ya, semua ada jalannya. Semua ada hikmahnya. Sebab kehidupan di dunia bagai roda berputar. Terkadang di bawah atau atas. Masing-masing posisinya selalu ada suka dan duka yang berbeda sesuai porsi kesanggupan manusia. Maka, jangan sampai terhasut oleh syaitan, melainkan tetap di jalan Allah yang penuh kerida-an.

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisaa : 29).

Wah, cukup panjang juga untuk memahami kesehatan jiwa dan mental.  Begitu pula dengan stigma dan romantisismenya. Namun fenomena yang disebutkan bisa juga menjadi tamparan bagi orang tertentu soal ketersediaan fasilitas penyakit mental. Kalau fasilitas kesehatan fisik sudah bertebaran dimana-mana dan punya variasi harganya, maka hal yang sama harus dilakukan untuk fasilitas kesehatan jiwa. Sehingga lebih lanjut bisa jadi bahan introspeksi bagi kalangan pemerintahan maupun organisasi kesehatan untuk membangun fasilitas konsultasi kesehatan jiwa yang memadai dan ekonomis bagi masyarakat.

Mari bersyukur setiap detik jika perlu. Semoga kita termasuk pada orang yang dirahmati kesehatan dan keimanan. Aamiin.

Redaktur: Prita K. Pribadi