Memaknai Definisi Dunia yang Sesungguhnya: Semakin Dikejar Semakin Menjauh

Pernah enggak sih muncul pikiran, “Kok sudah capek, ya? Makin sibuk kok malah merasa kayak ada yang kurang ya?” Sudah banyak merenung, mencoba introspeksi diri usaha apa yang masih kurang, tapi entah kenapa perasaan mengganjal masih tetap ada. Kok bisa gitu?

Memaknai Definisi Dunia yang Sesungguhnya: Semakin Dikejar Semakin Menjauh
Ilustrasi surga dan dunia. Sumber: alrasikh.uii.ac.id

Satu tahun, bahkan hampir genap dua tahun pandemi sudah membersama kita. Memang bukan hal yang mudah untuk bisa melewati hari-hari bersama pandemi. Hampir semua kegiatan terhambat dikarenakan pandemi ini. Banyak anak yang putus sekolah, karyawan terkena PHK, usaha bangkrut, bahkan pencurian, perceraian, dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Namun dibalik semua itu, masih banyak pula orang yang mau mempertahankan kehidupannya, mau melanjutkan cita-citanya, bahkan sudah mencapai titik kesuksesan melebihi ekpektasinya di saat pandemi.

Saat orang-orang sedang berjuang, bahkan kita juga sedang memperjuangkan sesuatu, pernah enggak sih muncul pikiran, “Kok sudah capek, ya? Makin sibuk kok malah merasa kayak ada yang kurang ya?” Sudah banyak merenung, mencoba introspeksi diri usaha apa yang masih kurang, tapi entah kenapa perasaan mengganjal masih tetap ada. Kok bisa gitu?

Banyak hal yang bisa menjadi penyebab munculnya perasaan seperti itu. Mungkin karena kita memang kurang istirahat, tidak punya waktu untuk me time, atau bahkan kurang piknik. Ternyata alasan terkuat yang menjadi penyebab munculnya perasaan kosong adalah, “dunia itu semakin dikejar, semakin menjauh.” Begitulah ucapan dari seorang guru ngaji di tempatku. Ya, tanpa disadari, kadang kita terlalu ngoyo di dalam mengusahakan urusan keduniaan.

Pada dasarnya, dunia itu ibarat bayangan. Ketika dikejar, dia justru akan menjauh. Tapi ketika pukul 12 siang, matahari tepat di atas kepala, bayangan kita lah yang akan mendekati kita dengan sendirinya. Sama dengan dunia, semakin dikejar justru akan semakin menjauh, tapi jika memang sudah tepat waktunya, pasti Allah akan mendatangkan dengan begitu mudahnya. Saat kita semakin mengusahakan urusan dunia, justru semakin muncul perasaan hampa dan kurang. Semakin melanjutkan kesibukan malah semakin susah. Bahkan keinginan atau cita-cita tidak turut tergapai. Walaupun ada kalanya urusan dunia yang diinginkan tercapai namun tak diimbangi ibadah, pasti perasaan kurang akan terus-menerus datang. Hal ini pernah dijelaskan dalam suatu dalil.

يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

"Hai anak Adam, sempatkanlah beribadah kepada-Ku (Allah) maka akan aku penuhi hatimu dengan kaya dan Aku tutup kefakiranmu, dan jika tidak kau lakukan (menyempatkan ibadah kepada Allah) maka akan Aku penuhi hatimu dengan kesempitan dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR. Ibnu Madjah).

Hal tersebut sebenarnya bisa dikatakan sebagai lemahnya keimanan. Sesuai dengan dalilnya bahwa ada kalanya keimanan itu bertambah, ada kalanya pula keimanan itu berkurang. Oleh karena itu, untuk mengatasi lemahnya keimanan karena giatnya mengejar keduniaan, ada beberapa tips yang bisa teman injo.id lakukan. Semoga  bermanfaat.

1. Niatkan Segala Sesuatu Adalah Ibadah

Sadar ataupun tidak, kadang mencari dunia itu memang mengasyikkan. Saking asyiknya, seolah-olah waktu yang ada hanya sempat dilakukan untuk sekolah, kuliah, bekerja, atau mengurusi urusan kedunian lainnya. Nah, ada sedikit life hacks yang bisa kita lakukan agar urusan dunia kita bisa bernilai ibadah.

Niat. Urusan dunia kita bisa menjadi bernilai ibadah jika kita niatkan aktivitas untuk kelancaran ibadah. Sebagai contoh, kita bisa meniatkan diri kita bekerja supaya nantinya mendapatkan gaji dan bisa diberikan kelancaran di dalam shodaqoh fi sabilillah. Life hacks yang bisa kita lakukan supaya urusan dunia kita juga bisa berpahala, yaitu dengan berdzikir. Sambil menyelam minum air! Di perjalanan menuju kantor, ketika di depan komputer, sedang penat memikirkan pekerjaan⎯berdzikir bisa dijadikan aktivitas sampingan.

2. Mencari Dunia Secukupnya, Mengejar Akhirat Sak Pol Kemampuannya

Tujuan kita diciptakan di dunia tidak lain sebenarnya hanya untuk ibadah. Namun, tanpa mengikuti perkembangan dunia di zaman sekarang, ibadah akan menjadi kurang lancar. Oleh karena itu, kerjakan aktivitas dunia kita secukupnya, tidak perlu ngoyo, karena semua sudah ada qodar-nya, sudah ada pengaturnya. Kalau sudah jelas Allah memberi perintah kita untuk ibadah, tentu urusan akhiratnya perlu dikejar sak pol kemampuan dong?

 3. Mendengar Nasihat Agama Setiap Hari

Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin bisa hidup sendiri. Begitu pula masalah keimanan. Perlu ada orang yang membantu kita dalam mengingatkan, menegur, dan menasihati. Jika terus menerus mendengarkan nasihat, keimanan seakan di-charge kembali. Ibarat roda yang kehabisan angin, angin itu adalah nasihat untuk kita. Harus terus dipompa agar bisa digunakan untuk perjalanan selanjutnya. Salah satunya dengan ikut mengaji rutin, maka nasihat akan terus ada dan melekat sebagai ilmu yang bermanfaat. Bisa juga meminta nasihat terang-terangan lewat orang tua, teman, guru, atau seseorang yang dianggap mampu memberi nasihat benar dan baik.

Ya, pada intinya tempat berpijak kita saat ini tak lain dikhususkan untuk ibadah semata, maka niatnya pun tak heran kalau hanya beribadah kepada Allah. Ingat-ingat yuk! Jika kita menolong agama Allah, maka Allah juga akan menolong kita loh.

“Kalau ingin hidupmu barokah, gunakan segala sesuatu untuk ibadah.”

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُم

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).

Redaktur: Prita K.Pribadi