Membahas Bitcoin dari Sudut Pandang Islam

Berbeda pandang dengan MUI yang me-mubah-kan keberadaan Bitcoin jika dipakai menjadi alat tukar, pemerintah sendiri tidak mengakui Bitcoin sebagai alat tukar yang sah dan diakui di Indonesia. Bitcoin malah legal secara hukum apabila dijadikan sebagai komoditas atau perdagangan yang justru bertentangan dengan pandangan Islam.

Membahas Bitcoin dari Sudut Pandang Islam
Gambar ilustrasi Bitcoin. Sumber Foto : Canva

Setelah kemarin sempat membahas tentang Binomo atau Binary Option, saya mendapat banyak feedback dari teman-teman di kolom komentar, dan alhamdulillah-nya semua positif dan menyambut baik keberadaan rubrik ekonomi syariah di website INJO ini. Di pembahasan saya kemarin, beberapa teman pembaca di kolom komen meminta saya untuk membahas terkait bagaimana hukum Bitcoin dalam pandangan Islam? Dan lewat artikel ini saya akan coba jelaskan dengan sederhana terkait apa itu Bitcoin? Dan bagaimana pandangan ulama melihat adanya tren ini? Simak sampai habis ya.

Mari kita buka artikel ini dengan sebuah pertanyaan, “Bitcoin itu apa sih?”

Bitcoin adalah sebuah mata uang baru atau uang elektronik. Ia berbentuk virtual currency atau cryptocurrency yang kerap digunakan dalam bertransaksi di dunia maya tanpa menggunakan perantara alias tidak menggunakan jasa bank. Bitcoin diciptakan pada 2009 oleh seseorang yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto.

Bitcoin menggunakan sistem peer to peer (P2P). Namun, sistemnya bekerja tanpa penyimpanan atau administrator tunggal di mana Departemen Keuangan Amerika Serikat menyebut Bitcoin sebagai sebuah mata uang yang terdesentralisasi. Paham tidak saudara-saudara? Terlalu berat bahasanya ya? Hahaha.

Jadi intinya begini, Bitcoin ini mata uang baru yang gak ada wujud fisiknya, gak bisa kita pegang, gak jelas juga siapa yang menciptakannya. Kalau P2P itu maksudnya transaksi yang menggunkan bitcoin hanya bisa dilakukan via internet, jadi gak bisa tuh ente ke warung beli eskrim pakai Bitcoin. Departemen keuangan Amerika Serikat menyebut Bitcoin itu desentralisasi, maksudnya mereka tidak bertanggungjawab dan menyerahkan pengelolaan sepenuhnya pada pihak Bitcoin. Gitu saudara-saudara. Paham lah ya dikit-dikit?

Lalu bagaimana pandangan Islam terhadap Bitcoin?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya coba jelaskan singkat tentang pengertian uang dalam Islam terlebih dahulu, agar kita bisa tau apakah Bitcoin itu termasuk uang? Menurut Abdullah bin Sulaiman al-Mani’ dewan ulama senior di Arab Saudi, uang (naqd) adalah sesuatu yang menjadi media pertukaran secara umum, apa pun bentuknya dan dalam kondisi seperti apa pun media tersebut.

Sebab faktanya, dulu Umar bin Khattab pernah berkata, “aku berkeinginan membuat uang dirham dari kulit unta”, lalu dikatakan padanya, “kalau begitu, tidak akan ada lagi unta”, lalu Umar mengurungkan niatnya. Hal ini menandakan bahwa kalaupun kulit unta itu dijadikan alat tukar seperti hal nya dirham pada zaman dulu, itu sah-sah saja. Tapi mengapa Umar mengurungkan niatnya? Ya karena jika itu dilakukan, ia akan banyak membunuh unta untuk dijadikannya uang. Unta pun beresiko akan punah.

Nah, menurut penjelasan di atas sudah sesuai dengan pandangan Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. Cholil Nafis mengenai Bitcoin, ia mengatakan “Bitcoin hukumnya adalah mubah sebagai alat tukar bagi yang berkenan untuk menggunakannya dan mengakuinya. Namun Bitcoin sebagai investasi hukumnya adalah haram karena Bitcoin hanya alat spekulasi bukan untuk investasi. Hanya alat permainan untung rugi bukan bisnis jangka panjang.”

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis. Sumber Foto : Republika.com

Mubah sendiri artinya diberikan kemungkinan untuk memilih antara mengerjakan atau meninggalkan. Bagi yang mengakui keberadaan Bitcoin itu sebagai alat tukar ya silahkan, namun akan menjadi haram bilamana teman-teman menjadikan bitcoin ini sebagai alat investasi. Islam sendiri memandang uang hanya sebagai alat tukar (medium of exchange), bukan sebagai barang dagangan (komoditas) yang diperjualbelikan seperti yang dianut kapitalisme.

Waren Buffet pun saat ditanya pendapatnya pada sesi wawancara oleh CNBC, ia bilang “saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa (tren) mata uang kripto akan berakhir buruk”. Nah, ini bukan saya yang ngomong ya saudara-saudara, yang ngomong adalah salah satu orang terkaya di dunia yang sukses sebab investasi saham.

Di Arab Saudi sendiri sudah jelas-jelas mengeluarkan fatwa haram penggunaan Bitcoin baik sebagai alat tukar maupun komoditas, namun ada juga negara-negara yang memperbolehkan-nya, seperti Amerika Serikat, Denmark, Korea Selatan, Jepang, Finlandia dan Rusia. Mengapa Arab Saudi dengan jelas mengeluarkan kebijakan tersebut? Karena komite serta regulator disana telah sepakat bahwa mata uang ini dianggap memiliki konsekuensi negatif dan berisiko tinggi dalam perdagangan karena Bitcoin tidak berada dalam pengawasan pemerintah.

Lantas, bagaimana status Bitcoin di Indonesia?

Menurut artikel yang saya kutip dari glints.com, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sudah memberikan kepastian hukum soal Bitcoin di Indonesia.

Ada empat peraturan Bappebti yang melegalkan perdagangan komoditas digital, berupa aset kripto maupun emas digital. Peraturan-peraturan itu antara lain:

  • Peraturan Bappebti No. 2 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pasar Fisik Komoditi di Bursa Berjangka
  • Peraturan Bappebti No. 3 Tahun 2019 tentang Komoditi yang Dapat Dijadikan Subjek Kontrak Berjangka, Kontrak Derivatif Syariah dan/atau Kontrak Derivatif Lainnya yang Diperdagangkan di Bursa Berjangka.
  • Peraturan Bappebti No. 4 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka.
  • Peraturan Bappebti No. 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka.

Intinya, empat peraturan di atas akan menjadi landasan hukum dalam perdagangan aset kripto di Indonesia. Dengan adanya empat peraturan ini pula, bisa dibilang bahwa jual-beli Bitcoin sudah legal di Indonesia.

Jual beli-nya Legal, tapi apakah Bitcoin bisa dijadikan Alat Tukar seperti hal-nya Uang?

Menurut Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko sebagaimana dikutip CNBC Indonesia, BI tetap melarang Bitcoin dijadikan alat pembayaran. Larangan serupa berlaku untuk semua jenis cryptocurrency, tak hanya Bitcoin saja.

Onny Widjanarko, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI. Sumber Foto : Dokumen Pribadi Onny Widjanarko

Lebih lanjut, Menko Perekonomian RI 2014-2019 Darmin Nasution sebagaimana dikutip CNBC Indonesia sempat menyampaikan sikap lebih lain dari pemerintah. Menurutnya, bukan pemerintah secara keseluruhan yang melegalkan Bitcoin di Indonesia. Ia menyebut Bitcoin bukanlah alat pembayaran. Mata uang kripto itu hanya berlaku sebagai barang yang bisa diperjualbelikan saja.

Dengan berbagai pernyataan tersebut, terlihat bahwa meski legal, Bitcoin di Indonesia hanya berlaku sebagai komoditas dan bisa diperdagangkan di bursa berjangka. Dengan begitu, bisa dikatakan kalau pembayaran dengan menggunakan Bitcoin adalah hal yang ilegal dan melawan hukum.

Jadi, apa kesimpulannya?

Berbeda pandang dengan MUI yang me-mubah-kan keberadaan Bitcoin jika dipakai menjadi alat tukar, pemerintah sendiri tidak mengakui Bitcoin sebagai alat tukar yang sah dan diakui di Indonesia. Bitcoin malah legal secara hukum apabila dijadikan sebagai komoditas atau perdagangan yang justru bertentangan dengan pandangan Islam.

Tapi bukankah jual beli mata uang itu boleh ya?

Baik, berdasarkan Hadis dari Ubadah bin Shamit yang berbunyi, "(Jual lah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, jual lah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai." (HR Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i, dan Ibn Majah).

Menandakan bahwa sah-sah saja jika kita mau menukar atau jual beli dengan mata uang yang sama, seperti rupiah dengan rupiah, dolar dengan dolar, asalkan semua dilakukan secara tunai dan dengan nilai yang sama. Misal, 100 ribu kamu jual lalu dibeli dengan 10 ribuan 10 lembar, ya sah-sah saja. Tapi bagaimana kalau penukaran antara mata uang yang berbeda atau dengan valuta asing? Seperti rupiah dengan dolar, dolar dengan rial, atau rupiah dengan rial. Boleh-boleh saja namun syaratnya hanya satu, TUNAI.

Pernah ke money changer kan waktu mau keluar negeri? Nah, sah-sah saja jika dari pihak money changer mengambil margin keuntungan, asalkan transaksinya dilakukan secara tunai, tidak dicicil, tidak diangsur.

Jadi pada dasarnya, mata uang seperti rupiah, dolar, dan dalam hal ini termasuk Bitcoin ya itu adalah alat tukar, bukan sebuah komoditas. Uang seharusnya menjadi alat tukar yang menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pelaku pasar dan masyarakat pada umumnya. Bukan diperjualbelikan.

Terlebih, pemerintah kita belum melegalkan Bitcoin sebagai mata uang yang sah untuk dipakai sebagai alat tukar, hanya sebagai aset digital yang secara nilai dipengaruhi oleh tren yang ada. Iya kalau sekarang sedang ramai-ramainya nilainya sangat tinggi, namun kalau suatu saat Bitcoin tak lagi menjadi hal yang menarik lalu ditinggalkan pemainnya, memungkinkan turunnya nilai aset yang dipunya bahkan sampai tak ada nilainya lagi.

Saya sebagai penulis tidak punya wewenang dan kapasitas untuk menjawab “boleh atau tidak” kepada teman-teman yang mungkin bertanya tentang Bitcoin, saya hanya menyampaikan beberapa data dan hadis tentang bagaimana Islam melihat keberadaan Bitcoin ini. Silakan simpulkan dan tentukan keputusanmu sendiri.

Tapi, kalau boleh sedikit memberi saran, “jauhilah bisnis yang sifatnya gharar (tidak jelas).

Semoga bermanfaat. Bagikan artikel ini pada temanmu yang membutuhkan.

Redaktur : Dyah Ayu N. Aisyiah & Ardito Bhinadi