Membahas Pertanyaan "Kapan Nikah" Dilihat dari Sudut Pandang Pelaku dan Korban

Pertanyaan template seperti kapan nikah saat lebaran tak jarang menjadi hal yang menyakitkan bagi sebagian orang. Apa sih tanggapan mereka tentang hal ini? Dan apa sih tujuan dari orang-orang menanyakan pertanyaan tersebut?

Membahas Pertanyaan "Kapan Nikah" Dilihat dari Sudut Pandang Pelaku dan Korban
Pusing karena rentetan pertanyaan personal yang diberikan pada saat hari raya. Sumber: Canva

Memasuki momen lebaran biasanya para muda-mudi usia nikah akan dibanjiri dengan pertanyaan yang berkaitan dengan urusan status percintaannya. Ada yang bernada becanda, basa-basi, bahkan tak jarang ada yang bertanya dengan nada serius.

Hal ini terus berulang dan tak jarang menjadi sebuah bahan olok-olokan dalam kumpul keluarga. Masalahnya tak semua orang bisa menanggapi santai dengan template pertanyaan tahunan itu, sehingga permasalahan ini tak jarang menjadi alasan mengapa pertemuan antarkeluarga menjadi momok bagi sebagian orang.

Atas dasar permasalahan tahunan ini, saya jadi tergerak membuat artikel untuk menjadi bahan renungan bersama bagi kedua belah pihak. Saya telah menghubungi beberapa narasumber untuk mengumpulkan data terkait permasalahan ini, agar kedua belah pihak bisa saling tahu, saling memahami perspektif masing-masing yang mungkin belum sempat tersuarakan dan tersampaikan dengan baik.

Sebagai orang yang beberapa kali mendapat pertanyaan semacam itu, saya masih ingat siapa saja yang sering melayangkan pertanyaan yang serupa setiap tahunnya. Akhirnya Selasa (11/05)  saya mencoba menghubungi mereka guna menanyakan "apa sih landasan utama mereka melemparkan pertanyaan itu?"

Orang pertama yang saya hubungi adalah Om (adik dari ibu) saya, ia memberikan jawaban yang menurut saya sangat masuk akal. Bahkan dari jawaban itu saya menyadari tingkat kepedulian beliau terhadap saya teramat tinggi. "Ya kan kita jarang ketemu, ketemu aja setahun sekali, lebaran doang. Komunikasi di grup juga om jarang mantau, pertanyaan itu gak ada sama sekali niat mengejek atau membuat gak nyaman, murni karena Om pengin tau gimana perkembanganmu saat ini?" jawab Om saat ku hubungi via telepon.

Setelah dari Om, saya menghubungi Bude (kakak dari bapak), tak kalah sering beliau bertanya pertanyaan yang sama tiap tahunnya. Beberapa kali juga beliau menjadikan permasalahan ini bahan becandaan yang tak jarang membuat saya kesal. "Justru bude tuh pengin nyariin kamu loh, kan bude aktif di masjid sini, banyak loh mudi-mudi di sini yang masih single, kali aja kamu berminat", kata Bude sambil tetap dengan menggunakan nada becanda seperti biasanya.

Ia pun menjelaskan kalau sering kali masalah status ini dijadikan bahan becandaan tidak lebih karena keluarga besar (dari bapak) yang terbilang cukup humoris. "Gak cuma soal jomlo kan? Apa aja suka dibercandain kalau sudah kumpul sama saudara-saudara bapak", tambah Bude mencoba mengajak saya mengingat. Saya pun mengamini pernyataan beliau, bahwa adat dan karakter keluarga dari bapak yang lebih banyak becanda saat kumpul itu sangat berpengaruh dalam permasalahan ini.

Dari jawaban kedua narasumber saya ini, semoga bisa sedikit memberi perspektif kepada teman-teman yang mungkin belum pernah menanyakan kepada para saudara yang suka melemparkan pertanyaan itu. Walaupun saya akui, tidak semua saudara kita memiliki alasan seperti di atas saat melemparkan pertanyaan itu, mungkin ada yang memang berniat membuat tak nyaman, atau bahkan tak memiliki alasan sama sekali, ya pengin bertanya itu saja.

Ada banyak alasan bernada suudzon yang bisa kita lemparkan kepada mereka, tapi bukan kah hal itu hanya akan menumbuhkan kebencian dan merusak tali persaudaraan? Nyatanya dari dua narasumber yang saya tanyakan alasannya, mereka sama-sama memiliki maksud baik dibalik template pertanyaan tahunan itu. Sepertinya Allah ingin membuat saya mengajak kepada banyak pembaca disini untuk belajar husnudzon terhadap apapun, termasuk dari pertanyaan-pertanyaan yang terkesan menjengkelkan itu.

Tidak ada salahnya jika kita yang belajar mengontrol hati untuk tidak mudah 'baper' dengan pertanyaan itu. Karena pada kenyataannya kita tidak bisa mengontrol apa yang akan saudara-saudara kita tanyakan. Kita cukup fokus kepada hal yang bisa kita kontrol, hati kita, diri kita, dan juga pikiran kita untuk tidak menganggap pertanyaan itu menjadi sebuah beban. Ketersinggungan itu diambil, bukan diberikan. Kamu tidak akan tersinggung kalau dirimu menolak untuk tersinggung, bahkan dengan pertanyaan semenyinggung apapun itu.

Namun artikel ini menjadi tidak lengkap jika kita tidak bertanya langsung kepada mereka yang beberapa kali merasa tersakiti akan pertanyaan itu, apa sih yang mereka rasakan? Mungkin saja ada pakde, bude, om, dan tante yang tidak sengaja membaca artikel ini, dapat mengetahui perspektif dari sisi orang yang ditanya. Ataupun bagi kamu yang berniat bertanya, perspektif mereka (pihak yang ditanya) ini bisa jadi bahan pertimbangan kamu untuk tetap bertanya hal itu meski maksudnya baik atau diurungkan saja niatnya.

Saya bertanya kepada lima orang teman saya secara acak. Tiga dari lima orang tersebut ternyata tidak menganggap pertanyaan itu sebagai hal yang menyakiti hati mereka. Sedangkan dua orang sisanya, jawaban mereka akan saya tampilkan dalam artikel ini.

Narasumber saya yang pertama menjelaskan bahwa persoalan jodoh ini adalah hal sensitif bagi sebagian orang, sehingga pertanyaan "kapan nikah?", "calonnya mana?" ini seringkali begitu menyakiti hatinya. "Permasalahannya ketika gue ditanya begitu, gue gak tahu harus jawab apa. Misal kayak ditanya calonnya mana, ya kalau gue tahu juga udah gue samperin, gue bawa ke hadapan mereka, iya kan?". Ia juga menambahkan bahwa tidak semua orang yang belum menikah itu karena asyik dengan kerjaan atau hal-hal keduniaan lainnya, ada yang sudah usaha mencari namun tak kunjung bertemu, dan ada juga yang sudah bertemu tapi malah terhalang restu. Rumitlah pokoknya.

Diamini oleh narasumber saya yang kedua, ia merasa bahwa pertemuan keluarga tahunan itu ada baiknya digunakan sebagai ajang silaturahim temu kangen. Ia merasa seharusnya kita menghindari memberikan pertanyaan-pertanyaan personal yang berpotensi menjadi hal sensitif bagi beberapa orang. "Janganlah menanyakan hal-hal sensitif, seperti: udah nikah belum, anak udah berapa, wisuda kapan, gaji berapa di kerjaan yang sekarang, dan sebagainya. Mending kalau saudara dekat yang udah sering becandaan dan ngobrol bareng, ini mah ketemu juga setahun sekali, giliran ketemu yang ditanya begitu, huh", jawab narasumber kedua dengan nada kesal.

Ya, sepertinya jawaban kedua narasumber cukup menjadi bukti bahwa ternyata permasalahan cinta-cintaan ini tak sesederhana itu. Buat kamu yang saat membaca jawaban mereka menjadi berpikir "Ihh, lebay amat sih, ditanya gitu doang, tinggal jawab aja emang kenapa?", permasalahannya kamu tidak ada di posisi mereka, tidak hidup menjadi mereka.

Besar kecilnya permasalahan itu tidak bisa diukur dari jenis masalahnya, sebab dengan permasalahan yang sama, dampak dan pengaruhnya terhadap masing-masing orang itu bisa sangat berbeda. Baru saja pekan lalu kita dihebohkan dengan sebuah kabar, seorang wanita yang mengirimkan sate berbubuk sianida kepada suami sirinya, sebab sakit hati ditinggal menikah dengan istri sahnya. Belum lagi pekan ini kita dihebohkan oleh kabar seorang laki-laki di Cianjur Jawa Barat, yang tega membakar pacarnya sebab diduga ia selingkuh dengan laki-laki lain.

See?

Ditinggal menikah atau diselingkuhi ini bukanlah sebuah hal baru dalam suatu hubungan. Atau bahkan kamu yang membaca artikel ini pernah ada di posisi yang sama? Tapi dampaknya terhadapmu dengan orang lain bisa berbeda kan? Sakit hatinya mungkin sama, sedihnya pun tak jauh berbeda, tapi output dari rasa sakit itu belum tentu sama semua. Ada yang menganggap itu adalah bagian dari cara Tuhan menyelamatkan ia dari orang yang salah, tapi ada juga yang malah menimbulkan dendam sehingga melakukan tindakan yang salah.

Semoga sampai di paragraf ini saya harap para pembaca sudah dapat menarik kesimpulan, apa tindakan terbaik dalam menyikapi permasalahan ini. Menurut hemat saya, mencoba saling memahami, berusaha mengedepankan empati, serta mendahulukan mengenal karakter lawan bicara adalah tindakan terbaik dalam menanggapi permasalahan ini.

Jadi menurut saya, kurang bijak rasanya apabila kita masih berkutat pada saling kuat-kuatan perspektif, yang satu merasa benar dan yang satu lagi tak mau disalahkan. Yang satu terus tersinggung, tapi yang diduga menyinggung tak pernah diberi tahu. Maka di akhir artikel ini saya berpesan, sudahi permasalahan template tahunan ini, mari buka stoples nastar dan mulailah disantap bersama.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah