Memetik Hikmah dari Perbincangan Publik tentang Orang Tua di Panti Jompo

Meramut orang tua memang berat, namun tak lebih berat jika dibandingkan dengan pengorbanan kedua orang tua terhadap anak-anaknya. Bahkan Allah berulang kali mengingatkan di dalam kitab-Nya agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Memetik Hikmah dari Perbincangan Publik tentang Orang Tua di Panti Jompo
Ibu Trimah (69), seorang lansia yang dititpkan ketiga anaknya di Griya Lansia Husnul Khatimah, Wajak, Kabupaten Malang. Sumber: Kompas.com

Beberapa hari yang lalu, dunia maya kembali diramaikan dengan perdebatan. Kali ini mengenai sebuah foto yang berisikan surat penyerahan seorang ibu ke sebuah panti jompo lengkap dengan tanda tangan ketiga anaknya. Dalam hal ini, terdapat dua persepsi yang tersebar di antara warganet; ketiga anak itu seolah-olah ‘membuang’ ibunya karena tak sanggup merawatnya atau memang sang ibu lah yang menginginkan untuk hidup dan tinggal di panti.

Lantas, hikmah apa yang bisa diambil jika melihat dari kedua sudut pandang tersebut?

Pertama, bagi seorang anak, meramut orang tua memang berat, namun tak lebih berat jika dibandingkan dengan pengorbanan kedua orang tua terhadap anak-anaknya. Bahkan Allah berulang kali mengingatkan di dalam kitab-Nya agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana firman Allah,

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ

"Kemudian kami Allah menjadikan manusia dari air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim ibunya)." (QS. Al-Mu'minun: 13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَۗ

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik." (QS. Al-Mu'minun: 14)

Begitu beratnya ‘ujian’ yang Allah titipkan kepada mereka yang menjalankan peran sebagai orang tua terutama seorang ibu. Maka wajar bila Allah juga memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Kedua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, namun Allah tidak mewajibkan untuk tinggal seatap dengan orang tua. Terlebih bagi seorang anak lelaki yang sudah menikah dan sudah memiliki tangggung jawab tambahan terhadap istrinya walaupun ia masih tetap memiliki kewajiban untuk berbakti terhadap orang tuanya. Jika memang terjadi perselisihan antara ibu dengan istrinya yang membuat mereka tidak dapat tinggal seatap demi menjaga perasaan satu sama lain, maka tidak apa untuk tidak tinggal seatap. Namun dengan tetap berbuat baik serta meramut dengan baik kedua orang tuanya.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (QS. Luqman: 14)

Ayat di atas menjelaskan tentang wasiat Allah kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya sebab perjuangan orang tua sangatlah berat. Namun, Allah juga menjelaskan pada ayat selanjutnya tentang larangan untuk taat pada perintah orang tua hanya jika diperintah berbuat maksiat dan menyekutukan Allah.

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman: 15)

Lalu, bagaimana jika orang tua tetap ingin tinggal di panti jompo? Selama alasan keinginan itu bukan karena sakit hati terhadap anak-anaknya, dan si anak bisa memastikan bahwa dengan pindahnya tempat membuat orang tuanya berada di lingkungan yang semakin mempermudah orang tunya untuk beribadah kepada Allah, maka silakan saja. Kembali diingatkan, dengan catatan bahwa anak tetap memiliki kewajiban untuk meramut kedua orang tuanya dengan baik.

Masih banyaknya orang yang berpendapat bahwa anak yang membiarkan orang tuanya hidup di panti jompo adalah anak yang durhaka karena telah menelantarkan orang tua. Padahal, bila menilik sudut pandang yang lain, dari sisi orang tua misalnya, bisa jadi memang orang tua lah yang menginginkan untuk ditempatkan di panti. Sebab, pada masa seperti sekarang ini, banyak lansia yang merasa sangat kesepian di rumah. Dengan kondiri anak-anak yang sudah hidup mandiri dan umumnya pergi untuk bekerja serta cucu-cucu yang pergi sekolah hingga sore, yang mereka butuhkan adalah teman untuk berbincang.

Ada sebuah komentar menarik dari seorang warganet mengenai hal ini di Twitter yang ditulis oleh akun @mollynyan12. Dalam tweet-nya, ia menyebutkan pada tahun 2017 ada temannya yang melakukan riset ke panti wreda di wilayah Jabodetabek. Ia kaget bahwa hasil riset itu menunjukkan banyak lansia yang memilih hidup di panti demi kehidupan sosialnya, yaitu bisa berinteraksi dengan teman-teman seusianya, walaupun ia sebenarnya hidup berkecukupan di rumahnya.

Akun tersebut juga menjelaskan bahwa setelah dilakukan interview lebih dalam, ternyata para lansia merasa kesepian ketika ditinggal kerja oleh anak mereka dan lagi cucu mereka yang pergi ke sekolah. Sedangkan di panti mereka merasa nyaman dan punya teman.

“Meski begitu, mereka juga tetap menunggu saat-saat dijenguk atau dijemput pulang untuk berkumpul dengan keluarga,” tulis @mollynyan12 pada Jumat (29/10).

Nah, kira-kira itulah beberapa hikmah yang bisa dipetik dari ramainya pendapat masyarakat perihal keresahan mereka terhadap orang tua yang hidup di panti jompo. Kalau kamu, apa hikmah yang bisa kamu petik? Yuk tulis di kolom komentar!

Redaktur: Ubaid Nasrullah