Mempererat Ukhuwah dengan Menghargai Keberagaman

Keberagaman yang dimiliki Indonesia rasanya tak cukup jika hanya dibanggakan saja. Lebih dari itu, kita juga harus melestarikannya. Salah satunya dengan menghargai keberagaman tersebut. Menghargai setiap bentuk perbedaan. Entah itu warna kulit, ras, suku, budaya, ataupun agama. Selain itu, saling menghargai bisa menjadi salah satu cara jitu untuk memperkuat ukhuwah.

Mempererat Ukhuwah dengan Menghargai Keberagaman
Bersatu dalam perbedaan. Sumber: pixabay.com

Jika sedang membahas tentang keberagaman, mungkin yang terbesit di pikiran kita adalah negara ini sendiri. Keragaman suku dan budaya di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Tercatat memiliki 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, bermacam-macam keyakinan dan masih banyak keberagaman lainnya. Kita boleh berbangga bisa hidup di negara kita tercinta dalam suka maupun duka. Namun apakah rasa bangga saja itu cukup?

Lebih dari sekadar merasa bangga, kita juga harus melestarikannya. Salah satu caranya dengan menghargai keberagaman tersebut. Menghargai setiap bentuk perbedaan. Entah itu warna kulit, ras, suku, budaya, ataupun agama.  Selain itu, saling menghargai bisa menjadi salah satu cara jitu untuk memperkuat ukhuwah.

Sekarang mari kita kilas balik, menilik sedikit sejarah negeri ini. Apakah kemerdekaan bangsa ini hanya akan terwujud oleh perjuangan suku tertentu? Apakah hanya oleh para cendekiawan? Lantas siapa yang berperan dalam terwujudnya kemerdekaan Indonesia? .

Semua kalangan, semua suku bangsa dan agama berperan dalam terwujudnya kemerdekaan. Bahkan beberapa orang dari negara 'penjajah' pun ada yang membantu terwujudnya kemerdekaan. Seperti Laksamana Maeda dalam peristiwa Rengasdengklok. Seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang yang menyediakan rumahnya sebagai tempat untuk merumuskan teks proklamasi.

Tidak hanya dalam kisah para pahlawan kita. Dalam kisah wali sanga saat menyebarkan ajaran Islam pun sarat dengan pelajaran  dan hikmah dalam menghargai perbedaan. Contohnya, seperti Sunan Kalijaga yang berdakwah dengan media budaya, beliau berhasil merebut hati masyarakat Indonesia pada saat itu untuk memeluk agama Islam dengan damai dan tanpa paksaan.

Dengan beberapa penggalan sejarah di atas, mungkin sudah cukup menjadi bukti dan pelajaran untuk kita bahwa keberagaman seharusnya mempersatukan, bukan memecah belah. Perbedaan seharusnya menimbulkan kedamaian bukan permusuhan. Kemudian ukhuwah dapat terwujud, baik khususnya ukhuwah islamiyah ataupun ukhuwah dengan masyarakat secara umum.

Di dalam kitab Al Quran dijelaskan, keberagaman adalah salah satu dari kekuasaan dan tanda kebesaran Allah Swt. Sebagaimana yang tertera dalam Al-qur’an, surah Ar Rum ayat 22:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Berkaca pada dalil di atas. Seharusnya kita bersyukur bisa hidup di negara yang memiliki keberagaman yang luar biasa. Hal itu seharusnya membuat kita takjub pada kuasa Allah yang menciptakan manusia dengan sempurna. Di Indonesia saja setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing, baik dari segi fisik, perilaku, bahkan dari segi nama pun kita bisa menyimpulkan asal daerah seseorang. Seperti nama “Mulyono” yang identik dengan orang Jawa, nama “Asep” yang identik dengan orang Sunda ada juga nama “Sitanggang” yang menjadi ciri khas orang Batak atau biasa disebut marga. 

Mirisnya di jaman sekarang ini, tetap masih ada orang yang tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada.  Saat seseorang memiliki fisik yang berbeda misalnya, mulai dari tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bahkan sampai jenis rambut. Mereka tidak jarang mendapat diskriminasi atau sering kita kenal dengan istilah body shaming. Padahal, setiap orang memiliki hak untuk memasang standar ideal sendiri bukan?

Ketika masyarakat menganggap saling ejek fisik menjadi suatu yang umum (sepele), saya khawatir lama kelamaan stigma tersebut dapat berubah menjadi sebuah percikan kebencian yang menyebar dan ‘membakar’ sebuah keributan dalam skala yang lebih besar.

Saya kira kita sepakat bahwa para generasi muda ini selayaknya menjadi ujung tombak dalam melanjutkan estafet perjuangan bangsa. Berusaha melestarikan keberagaman dengan menjunjung tinggi sikap saling menghargai. Selama perbedaan itu tidak merugikan dan tidak melewati batas norma agama dan norma hukum yang berlaku, maka menghargai perbedaan adalah kewajiban kita sebagai umat manusia.

Sungguh mengherankan rasanya, jika Indonesia memiliki banyak suku, budaya, agama dan juga sejarah yang sarat akan pelajaran hidup, masih tabu dalam menghargai perbedaan. Bahkan masih terjadi sikap rasisme, intoleransi dan perilaku buruk lainnya.

Maka dari itu, di bawah sini INJO.ID mencoba merangkum beberapa tips dalam menghargai perbedaan:

1.Kurangi Stigma Perbanyak Fakta

Ketika mendengar stigma-stigma tentang suatu ras, suku, atau kelompok tertentu, segera kita konfirmasi dengan mencari tahu fakta yang ada. Media informasi melalui internet tentunya mempermudah kita untuk memperkaya pengetahuan. Memerangi stigma dengan informasi yang jelas menjadi langkah yang tepat.

2. Menerima dan Memperluas Jangkauan Pertemanan

Sepertinya menyenangkan bukan memiliki teman dari berbagai kalangan dan suku bangsa? Pertemanan tersebut dapat memupuk solidaritas. Dengan begitu, kita akan berusaha saling menjaga satu sama lain tanpa memandang perbedaan yang kita miliki.

3. Perbanyak Rasa Syukur

Ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki termasuk badan kita, bahasa, dan keunikan diri kita, maka iinsyaallah kita akan lebih menghargai perbedaan di antara kita. Juga lebih bisa menerima bahwa segala yang ada pada diri kita adalah wujud nikmat yang diberikan Allah.

4. Tanamkan Sifat Toleransi dan Rasa Empati.

Dengan sifat toleransi dan empati, maka solidaritas antar umat bisa terwujud dengan baik. Tidak ada lagi permusuhan yang terjadi dengan mengatasnamakan suatu golongan atau kelompok lainnya. Mau bagaimana pun perbedaan tak bisa dihindari, karena perbedaan ini adalah ketetapan Allah. Karena memang sudah hakikatnya tiap manusia diciptakan berbeda-beda. Seperti yang tertera dalam surah Al Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti."

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk menjaga hubungan baik antar sesama manusia (hablum minannas). Jika hubungan antar manusia berjalan dengan baik, insyallah hubungan kita dengan Allah (hablum minallah) dalam menjalani Ibadah akan semakin baik pula.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah