Mendamaikan Trauma dengan Kitab Allah, Lebih Baik dari Buku Swabantu dan Quotes Manusia

Ketika mengalami hal buruk, banyak dari kita buru-buru untuk mencari solusinya dalam sebuah buku swabantu seperti “kiat-kiat”, “langkah-langkah”, atau mencari quotes andalan di media sosial; yang kadang tidak tahu apakah masih dalam koridor islam atau tidak. Bahkan kini ada ragam tempat stress relief yang bisa kamu jumpai dengan cara berteriak, menghancurkan barang, dan bentuk pelampiasan kemarahan lainnya. Kita seringkali dilupakan, bahwa islam mempunyai kitab yang ampuh untuk menghadapi segala permasalahan hidup, Al-Qur'an.

Mendamaikan Trauma dengan Kitab Allah, Lebih Baik dari Buku Swabantu dan Quotes Manusia
Ilustrasi seorang wanita sedang membaca Al-Qur'an. Sumber: ummi.id

Satu kata yang mungkin menyeramkan untuk menghampiri diri kita, namun terkadang masih saja terlalu diabaikan oleh diri sendiri atau orang lain. Ia bernama trauma. Penyebabnya amat beragam, mulai dari jatuh dari kendaraan bermotor atau perkataan menyakitkan orang dewasa. Hingga perisakan atau lebih menakutkannya lagi pelecehan seksual yang masih sering kita temui di berbagai media berita.

Terlalu lama bergulat dengan perasaan dan pikiran, mereka terjebak dalam kesedihan yang mendalam. Di dalam pikirannya, mereka mencoba memahami apa yang telah terjadi. Namun terkadang menemukan persepsi dan jawaban yang salah, sehingga bisa menjadi alasan mengapa seseorang mengalami sesuatu yang menyakitkan. Hal itu juga mempunyai pengaruh buruk dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehilangan kepercayaan diri, tingkat stres yang berlebihan, bahkan timbul rasa keraguan dan takut menjalani hari.

Di Indonesia, trauma menempati urutan ketiga setelah penyakit jantung dan stroke yang menyebabkan kematian. Dalam Journal Depression and Anxiety juga menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami trauma sebesar 8 persen, dibandingkan laki-laki 2 persen. Ditambah kondisi pandemi seperti ini yang bisa menurunkan kondisi mental. Rasa cemas, takut, bahkan trauma sebab mengalami kehilangan seseorang yang terpapar virus Corona. 

Perasaan buruk itu bisa semakin meningkat hingga membuat marah dan bersalah pada diri sendiri jika tidak segera ditangani. Memahami sisi gelap yang sudah terlanjur ada, merupakan hal yang harus dilawan sebagai bentuk awal langkah maju. Lalu bagaimana sebaiknya manusia bersikap agar bisa melewati lika-liku momen terpuruk itu?

Ketika mengalami hal buruk, banyak dari kita buru-buru untuk mencari solusinya dalam sebuah buku swabantu seperti “kiat-kiat”, “langkah-langkah”, atau mencari quotes andalan di media sosial; yang kadang tidak tahu apakah masih dalam koridor islam atau tidak. Bahkan kini ada ragam tempat stress relief yang bisa kamu jumpai dengan cara berteriak, menghancurkan barang, dan bentuk pelampiasan kemarahan lainnya. Kita seringkali dilupakan, bahwa islam mempunyai kitab yang ampuh untuk menghadapi segala permasalahan hidup, Al-Qur'an.

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidaklah menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu untuk membuatmu susah.” (QS. Thaha: 2).

Ketahuilah bahwa islam menginginkan umatnya berbahagia, bukan berlarut-larut dalam kesedihan. Sebab pada dasarnya dunia adalah tempatnya ujian sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Kesedihan yang menyelimuti setiap kejadian buruk termasuk trauma, tentu wajar dan sangat normal. Secara ilmiah, otak manusia terdapat lesi bernama "Amigdala" sedang bekerja atas respon dari pengalaman emosi kita. Amigdala membantu seseorang menerima input dari semua sistem sensorik dan diyakini merupakan struktur dimana penerimaan respon emosional dari sinyal-sinyal sensorik dipelajari dan disimpan.

Maka, mendekatkan diri dan mengingat Allah adalah cara yang paling mendasar bagi umat muslim demi mendapat ketentraman jiwa dan batin. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 sebagai berikut.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”

Berdasarkan kacamata islam di atas, aku ingin berbagi 5 (lima) upaya yang bisa jadi pilihan sebagai pejuang rasa sakit hati yang sudah terlanjur menjalar. Yuk simak!

1. Menghilangkan Persepsi Negatif

Pernah dengar enggak kalimat “kalau kamu punya pikiran positif, maka semesta alam akan mendukungmu, lalu hasilnya akan lebih baik”. Ya, langkah pertama untuk bisa bangkit dari trauma masa lalu adalah menghilangkan persepsi negatif yang melekat. Memberikan afirmasi positif itu, maka sikap rida akan terbangun pada segala sesuatu yang sudah diporsikan oleh Sang Pencipta.

“Aku pasti bisa deh, yakin ini jalan terbaik dari Allah.

Aku sudah berdoa, insya Allah apa pun hasilnya punya hikmah yang tak pernah aku duga”

Hal sesederhana itu setidaknya lebih mengandung positive vibes daripada kamu meratapi terus menerus apa yang sudah dilewati. Juga, hati akan lebih tenang karena percaya akan kemampuan diri dan dahsyatnya Keagungan Allah sebagai tempat pengaduan sedihnya hati. Layaknya Nabi Yakub saat lama berpisah dengan putra tercinta Yusuf ‘alaihimas sasalam.

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86).

2. Fokus dengan Apa yang Bisa Kamu Kontrol 

Stop worry to something you can’t control! Percayalah pada qadar Allah sebab tak ada satu pun manusia yang tahu tentang jalan terbaiknya.

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Fokuslah dengan urusan yang sedang kamu usahakan. Maka, tidak akan ada waktu dan kebahagiaan yang terenggut sia-sia. Dengan kata lain, kamu hanya perlu do your best!

Misalnya nih, ketika kamu pusing belajar SBMPTN untuk masuk kampus favorit, kamu enggak perlu buang-buang waktu untuk memikirkan “Gimana ya ntar kalau enggak lolos” atau "Temannya seasik SMA enggak ya". Kalau pikiran itu membuatmu tidak semangat melanjutkan hari-hari, sangatlah tidak pantas untuk suudzon terhadap hal yang bahkan belum terjadi. Secara tidak sadar, hal itu juga menanamkan sikap suudzon kepada Allah Yang Maha Tahu. Padahal kamu hanya perlu niat baik diikuti dengan doa dan selalu awali kegiatan dengan basmallah.

3. Meninggalkan Lingkungan yang Negatif 

Membangun teman yang baik sudah dibahas di artikel INJO.ID sebelumnya mengenai toxic friend. Kebijaksanaan dalam memilih circle-mu yang sehat ini sangat penting bagi berkehidupan sosial. Sebab, kamu akan banyak berinteraksi secara terus menerus. Hal ini juga telah tertera dalam ayat Al-Qur'an yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita semua.

                                             (28) يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (27)    وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً
لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولً(29ا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduh kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an sesudah al-Qur'an itu datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak menolong manusia.” (QS. Al-Furqon : 27-29).

4. Hindari Overgenaralizing

Overgeneralizing termasuk distorsi kognitif dimana kita terlalu menyimpulkan sesuatu secara rata. Misalnya, ketika berkuliah di jurusan Statistika dan kamu pernah mengalami hal sangat buruk selama terjun di dunia itu. Pengalaman buruknya malah dijadikan tolok ukur atas kegagalanmu. Lalu saat tiba seseorang akan terjun di dunia yang sama, kamu melarangnya dan seolah mengajak untuk turut tidak suka dengan dunia Statistika. Distorsi kognitif ini telah menempatkan satu pengalaman buruk sebagai pengalaman di masa depan.

Sikap kurang baik ini sebaiknya tidak dilakukan ya! Kalau kata Minjo: “Kalo gak suka jangan ngajak-ngajak orang ah!”. Seseorang mampu menentukan nasib dengan usaha sendiri tentunya atas izin Allah. Pengalaman orang lain bisa kita pelajari, tapi tak selalu menjadi patokannya. Allah telah mengingatkan kita bagaimana cara bersikap atas pengalaman buruk atau baik.

لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al Hadid: 23).

5. Berdamai dengan Ketetapan-Nya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ إلَّا مَا يُرْضِي الرَّبَّ

"Tetesan air mata dan sedihnya hati, dan tidaklah kukatakan selain yang Allah ridhoi."

Sebagian dari kita kadang terlena dengan dunia, seolah bumi yang sedang kita injak ini adalah tujuannya. Padahal umat muslim sendiri tahu, mencapai rida Allah adalah satu-satunya kebahagiaan dunia dan akhirat manusia. Ketika seseorang dijatuhkan nasib buruk. Tak lain adalah sebuah ujian baginya. Hal ini bisa membuat kita instrospeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Paham apabila segala sesuatu selalu diselipkan hikmah yang indah dan tak terduga.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286).

Maha Baik Allah dengan segala firman-Nya, Allah sudah sesayang ini terhadap hamba-Nya.

Jadi, jika kesedihan terlalu berat untukmu, ketahuilah Allah selalu berada dekat dengan kita selagi kamu mencari rida-Nya. Ketahuilah bahwa Allah adalah perencana sebaik-baiknya. Yuk! Siap buka lagi Al-Qur'an-mu! 

Redaktur: Prita K. Pribadi