Mengapa Bekerja Adalah Ibadah?

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56). Sejatinya, yang Allah ciptakan di dunia tak luput dari soal ibadah. “Tujuan penciptaan manusia adalah menjadikan seluruh aktivitasnya bermula dan berakhir dengan ibadah kepada Allah, maka seluruh penggunaan dayanya harus merupakan ibadah kepada-Nya.”

Mengapa Bekerja Adalah Ibadah?
Ilustrasi bekerja. Sumber: kubikleadership.com

Impian semua orang di dunia adalah merdeka finansial. Bukan utang yang menumpuk melainkan dana darurat yang terkumpul. Bisa ngatur keuangan untuk beli ini-itu atau loyal ke orang tua untuk kasih apa pun yang mereka mau. Selain itu, merdeka finansial juga bisa memperlancar ibadah kita. Tentunya hal ini disebut ibadah jika kita mencari maisyah niat karena Allah. Tak sekadar peran sebagai suami atau anak, tak sekadar asal hari ini bisa kenyang dan bebas nongkrong. Mewujudkan kondisi finansial yang kita inginkan perlu diusahakan dengan bekerja niat karena Allah. Oleh sebab itu, bekerja adalah sebuah keniscayaan. Tak hanya cita-cita dunia, namun sebuah amal saleh yang punya pahala besar.

Mengapa bekerja adalah ibadah?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56).

Sejatinya, yang Allah ciptakan di dunia tak luput dari soal ibadah. “Tujuan penciptaan manusia adalah menjadikan seluruh aktivitasnya bermula dan berakhir dengan ibadah kepada Allah, maka seluruh penggunaan dayanya harus merupakan ibadah kepada-Nya.” Begitulah kutipan dari quarishshihab.com yang didasarkan pada firman Allah di atas.

Bekerja juga merupakah sedekah. Allah menyamakan bekerja mencari maisyah dengan berjihad di medan perang. Sehingga jika seseorang yang wafat sedang bekerja maka matinya adalah mati syahid.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi).” (HR. Muslim no. 995).

Hal ini jelas bahwa bekerja harus diniatkan karena Allah agar diberi keberkahan. Bekerja juga tak lepas dari mengingat kepada Allah yang tak sekadar memenuhi urusan duniawinya saja, melainkan Allah memberi kita akal, kesehatan, dan pekerjaan yakni sebagai modal beribadah kepada-Nya. Sebagian hasil bekerja itu wajib disedekahkan, berinfak, dan membela agama Allah.

“Tapi kan kebutuhanku banyak, Njo!”

Hayo jangan dibalik, mendahulukan alokasi harta untuk urusan duniawi dari pada agama Allah. Cek kembali hal yang kamu prioritaskan. Tenang saja! Kalau materimu itu dikeluarkan untuk amal dan ibadah niat karena Allah, pasti Ia ganti dengan yang lebih besar nan membahagiakan. Yakin!

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.’ Yang lain mengatakan, ‘Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit’.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010).

Coba deh, bersedekah itu bakal bikin hati kamu nyaman dan hidupmu tentram loh! Sebab sudah jelas Allah akan menjamin surga bagi orang yang bersedekah. Bahkan hadis di atas menjelaskan, infak dan sedekah adalah bagian dari kewajiban yang harus kita penuhi secara rutin. Sebab hal ini menjadi amalan yang bisa menyelamatkanmu dari siksa di akhirat nanti.

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417).

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ...

“Sesungguhnya Allah menukar diri dan harta orang-orang iman dengan surga.” (QS. At-Taubah : 111).

Artinya, harta yang kita miliki dipakai untuk perjuangan agama Islam. Agar terus berkembang, menaikkan derajat agama Islam di mata dunia dan ada catatannya pula di akhirat. Ibarat tumbuhan dari biji perlu disemai, diberi pupuk, air, vitamin baru lah dia akan tumbuh dengan baik. Sama halnya dengan agama Islam yang harus dibela dan dipelihara.

اِذَا كَانَ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ يُقِيْمُ الرَّجُوْلُ بِهَا دِيْنَهُ وَدُنْيَاهُ.

“Ketika telah tiba keadaan akhir zaman, maka tidak bisa tidak, manusia memerlukan dinar dan dirham. Agar seseorang bisa menegakkan urusan agama dan dunianya.” (HR. Imam Tabrani).

Ya, rasanya makin sini hidup makin butuh uang. Memperlancar urusan agama juga termasuk yang harus kita bela dengan maksimal. Namun, Allah adalah Sang Perencana terbaik yang tak semata-mata memerintah makhluk bumi. Taat beribadah kepada-Nya menjadi syarat mutlak agar diberi rezeki dan dimudahkan segala aktivitas kita. Sebab segala sesuatu di dunia ini tentang beribadah. Kalau sudah dikasih rezeki, apalagi dikaruniai merdeka finansial, seharusnya dijadikan kesempatan untuk bersedekah, jangan sampai kita menyesal!

Sebab Allah Ta’ala, berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلٰىٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِينَ

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun : 10).

Wah, ternyata bekerja punya banyak keutamannya ya! Begitu pula hal-hal tentang mengapa bekerja adalah sebuah ibadah. Mulai dari menghidupi keluarga, beramal, hingga menyelematkanmu dari sebuah dosa lain. Bahkan surga pun menanti. Kuncinya hanya diniatkan karena Allah.

Optimis mencapai merdeka finansial demi kelancaran ibadah pun harus diikuti dengan keimanan terlebih dahulu ya! Selalu bersyukur, menomorsatukan ibadah, mempersungguh usahanya, dan berdoa. Ya, apa pun yang sedang diperjuangkan jangan sampai lupa ibadahnya diikuti doa. Sama seperti istilah yang sering kita dengar, “Usaha tanpa doa itu sombong, doa tanpa usaha itu bohong!”

Semangat bekerjanya teman INJO.ID! Insya Allah, akan selalu ada kemudahan bagi orang-orang yang berada di jalan Allah. Aamiin.

Redaktur: Prita K. Pribadi