Mengarungi Kesederhanaan Cinta melalui Romansa Rasulullah dan Aisyah

Selalu ada cara untuk membahagiakan seseorang yang kita sayangi, termasuk dengan cara yang sederhana. Karena, lebih baik melakukan hal positif yang kecil tetapi terus-menerus daripada melakukan sesuatu yang besar namun terputus.

Mengarungi Kesederhanaan Cinta melalui Romansa Rasulullah dan Aisyah
Ilustrasi bentuk cinta. Sumber: Canva

Berbicara tentang cinta memang tidak akan pernah ada habisnya. Cinta selalu memiliki makna yang luas dan beragam. Setiap orang pun memiliki teori dan caranya tersendiri dalam memaknai maupun ‘merayakan’ cinta. Sebab rasa sayang atau cinta merupakan anugerah dan nikmat yang telah Allah tanamkan kepada setiap hambanya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Ketika membicarakan cinta, tak afdal rasanya jika tidak menyertakan kisah cinta dari couple goals umat Islam yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Aisyah. Kalian keliru, jika membayangkan seorang nabi memiliki sifat romantis dengan memberikan harta atau perhiasan yang berlimpah kepada setiap istrinya karena nabi adalah orang yang lekat dengan kesederhanaan. Termasuk dalam hal cinta. Ada beberapa momen di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan kesederhaan cinta beliau kepada Aisyah. Check it out!

1. Meminum pada gelas dan bekas bibir yang sama

 Hal ini tertulis dalam suatu hadis, yang mana Aisyah radhiallahu 'anha berkata,

كُنْتُ أَكُونُ حَائِضًا، فَآخُذُ الْعَرْقَ فَأَتَعَرَّقُهُ، وَأَنَا حَائِضٌ فَأُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ، فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ، وَأَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ فَأُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

“Suatu ketika aku sedang dalam keadaan haid, maka aku mengambil sepotong daging dan memakannya, sedangkan aku dalam keadaan haid. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil sepotong daging tersebut dan beliau meletakkan bibirnya pada bekas tempat bibirku pada sepotong daging itu. Dan aku minum ketika dalam keadaan haid, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah meletakkan bibirnya di tempat bekas bibirku minum." (HR. Ahmad)

2. Berlari–lari dan bercanda bersama

Dalam hadis riwayat Ahmad, Aisyah bercerita, "Aku pernah ikut safar (bepergian) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada sebagian perjalanannya, dan ketika itu aku masih muda, badanku belum gemuk dan belum berlemak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada rombongan safar, “Silahkan kalian jalan duluan.” Maka rombongan itu jalan duluan.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Mari kita lomba lari”. Aku pun lomba lari dengan beliau dan aku bisa mengalahkan beliau. Dan beliau hanya diam saja. Hingga suatu ketika setelah aku sudah gemuk, berlemak dan sudah lupa dengan perlombaan yang dulu, aku pergi bersama beliau untuk melakukan perjalanan. Beliau berkata kepada rombongan, “Silahkan kalian jalan duluan.” Maka rombongan itu pun jalan duluan.

Kemudian beliau berkata, “Mari kita lomba lari”. Aku pun lomba lari dengan beliau dan beliau mengalahkanku. Beliau pun tertawa dan berkata kepadaku, ”Ini pembalasan atas kekalahanku yang dulu.”

3. Menenangkan Aisyah dengan cara yang baik

كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِذَا غَضِبَتْ عَرَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْفِهَا، ثُمَّ يَقُولُ: " يَا عُوَيِّشُ، قُولِي: اللَّهُمَّ رَبَّ مُحَمَّدٍ، اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي، وَأَجِرْنِي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ "

“Ketika Aisyah marah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, ‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.’” (HR. Ibnu Sunni)

Tentu saja masih sangat banyak bentuk keromantisan yang lain. Namun, dengan tiga contoh di atas, insyaallah sudah cukup untuk menggambarkan betapa romantisnya kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad dan Aisyah yang boleh dibilang, "Sederhana tapi ngena." Kisah di atas mungkin juga bisa membuat tersenyum siapapun yang mendengarnya. Romantis memang tidak selalu soal cinta-cintaan. Romantis juga bisa kita aplikasikan terhadap hal lain, layakanya ketika Nabi Muhammad menenangkan Aisyah yang sedang marah dengan cara yang anggun dan tidak menegurnya dengan amarah. 

Pada dasarnya, selalu ada cara untuk membahagiakan seseorang yang kita sayangi, termasuk dengan cara yang sederhana. Karena, lebih baik melakukan hal positif yang kecil tetapi terus-menerus daripada melakukan sesuatu yang besar namun terputus.

Namun di atas semua itu, setiap orang tentu memiliki cara mencintainya masing-masing. Selama hal itu tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, sah-sah saja untuk dilakukan. Satu hal yang saya rasa perlu kita pahami bersama, jika kita telah berusaha dengan maksimal, tidak perlu memaksakan diri untuk memberi sesuatu yang memang kita tidak mampu untuk mencapainya demi orang yang kita sayang. Bahkan hingga berpura-pura menjadi orang lain agar pasangan kita senang.

Cukup dengan apa adanya dan menjadi diri sendiri, kita tetap bisa membahagiakan orang yang kita cintai, karena masih ada banyak cara sederhana dalam mencintai. Tetapi bukan berarti dengan “apa adanya” kita tidak berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan kita dan malah bermalas-malasan. Kita tetap harus berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan kita dengan jalannya masing-masing.

Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi atau referensi buatmu. Dengan mengambil contoh dari kisah Nabi Muhammad dan Aisyah. Kamu bisa mempraktikkannya dengan pasanganmu. Sudah tentu dengan pasangan yang sah dan halal. Tidak pantas jika meneladani kisah romantis seorang nabi kepada pasangan ‘tak halal’.

Redaktur: Ubaid Nasrullah