Mengenal Gangguan Belanja Kompulsif dari Kacamata Islam Lewat Fenomena BTS Meal

Para penggemar BTS, ARMY, jangan emosi dulu ya. Hal ini hanya menjadi "reminder" untuk kita semua agar tidak impulsif dalam mengeluarkan uang. Juga, agar tidak melebihi cinta kita pada Allah dan Rasul hingga kita tidak menjadi manusia merugi.

Mengenal Gangguan Belanja Kompulsif  dari Kacamata Islam Lewat Fenomena BTS Meal
Kemasan BTS Meal keluaran produk makanan cepat saji dari McDonald's yang disambut antusias sedari peluncurannya sejak 9 Juni 2021. Sumber: instagram.com/mcdonaldsid dan tokopedia.com.

Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan berita kerja sama antara restoran cepat saji McDonald’s dan boygroup K-Pop asal Korea Selatan, BTS. Hal ini telah disambut antusias para penggemar grup K-Pop tersebut bernama ARMY, bahkan sebelum hari peluncuran makanannya. Tepat tanggal 9 Juni, McD meliris paket makanan bernama BTS Meal yang menawarkan paket makanan berisi sembilan nugget ayam, kentang goreng, dan minuman bersoda. Semua itu dikemas cantik dengan desain khusus berwarna ungu, tak lupa dengan logo BTS. Semakin terlihat menarik saat dilengkapi dua jenis saus spesial (dipping sauce) diantaranya saus pedas manis dan saus Cajun khas Korea Selatan.

Selain mengakibatkan antrean yang panjang di sejumlah gerai McD, ARMY juga memburu kemasan makanan bekas BTS Meal. Beberapa marketplace memanfaatkannya, dibandrol dengan harga fantastis mulai 1,5 juta hingga 599 juta rupiah. Kejadian semacam ini timbul akibat dari strategi McD yang menjual BTS Meal secara terbatas. Akibatnya konsumen merasa mendapatkan keistimewaan jika berhasil memilikinya.

Bungkus BTS Meal dijual seharga 599 juta di marketplace

Kemasan BTS Meal yang telah digunakan lalu dijual kembali dengan harga fantastis, yakni hampir menduduki angka 600 juta rupiah. Sumber: asset.kompas.com/ 

Hmmm, apakah tindakan penjualan dan perasaan fanatik terhadap barang semacam itu masih disebut wajar? Mari simak dari segi kesehatan dan pandangan islam!

Dikutip dari Donald W Black (2007) dalam artikelnya “A Review of Compulsive Buying Disorder” dalam jurnal kedokteran World Psychiatry, gangguan belanja kompulsif adalah keinginan belanja yang berlebihan dan perilaku membeli yang mengarah pada kesusahan atau gangguan. Ditemukan di seluruh dunia, persentase kasus ini sebesar 5,8% pada populasi semua golongan umur di Amerika Serikat. Sebagian besar subjek yang dipelajari secara klinis adalah wanita (kurang lebih 80%), meskipun perbedaan gender mungkin tidak bermakna. Khusus di Indonesia, kasus ini masih terbilang minim penelitian. Namun sikap kompulsif ini sama, yakni didominasi oleh kaum hawa.

Csilla Horvath (2018) dalam Journal of Business Research mengatakan bahwa gangguan belanja kompulsif merupakan gangguan kontrol impuls dan kecanduan perilaku. Salah satu cirinya adalah membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, rela membayar dengan harga tinggi, dan cemas bahkan merasa rendah diri jika tidak mendapatkan barangnya. 

Donald W Black menuturkan bahwa penyebab pasti gangguan belanja kompulsif masih tidak diketahui, meskipun banyak yang berspekulasi mengenai perkembangan, neurobiologis, dan budaya. Teori neurobiologis menganggap ada neurotransmisi yang terganggu, terutama yang melibatkan sistem serotonergik dan dopaminergik di otak.

Ada pula sebutan neurotransmitter ini adalah zat kimia yang berkomunikasi, memberi informasi dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain di dalam otak manusia. Neurotransmitter dapat diibaratkan sebagai seorang “kurir” atau “pembawa sinyal”. Serotonin memiliki peran meregulasi nafsu makan, pola tidur, dan hasrat. Sedangkan dopamine adalah neurotransmitter yang membuat seseorang menjadi “bersemangat”, memiliki motivasi, dan “interest” dalam kehidupan.

Letty Workman (2010) dalam The Essential Structure of Compulsive Buying mengatakan bahwa gangguan perilaku belanja kompulsif terjadi karena adanya error di otak. Yakni tidak berfungsinya rangkaian neuron dengan baik dan adanya perilaku berbasis imbalan, yaitu ketika seseorang berbelanja. Ia akan menerima perasaan yang lebih menyenangkan daripada sebelumnya. 

Dari berbagai istilah dan ilmu sebagaimana kacamata kesehatan di atas, sederhananya dapat disimpulkan bahwa gangguan belanja kompulsif adalah sebuah gangguan kognisi mengenai kendali diri dalam hal berbelanja. Besar kemungkinan disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter di otak.

Kalau begitu, bagaimana sebaiknya manusia bersikap menurut koridor Islam? Agama Allah telah memberikan sikap yang tegas untuk budaya konsumerisme, yaitu pelarangan terhadap sesuatu yang berlebih-lebihan, dan tidak mendatangkan manfaat. Isrof atau berlebih-lebihan termasuk sesuatu yang ditentang oleh Islam. Hal ini dikatakan berlebihan jika dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari di luar batas kewajaran. Mulai dari berlebih-lebihan dalam hal makanan, berpakaian, membangun rumah, dan pemenuhan hiburan. Jadi, jika seseorang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan hidupnya secara layak, maka ia tidak termasuk orang-orang yang boros.

Disebutkan dalam Al-Qur’an:

 وَآتِ ذَا الْقُرْبَى ۟ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۟ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا 

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (26) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 26-27) 

Sesungguhnya Islam tidak melarang umatnya untuk bersenang-senang dan menikmati kehidupan dunia. Namun ada baiknya agar tetap berada dalam koridor keseimbangan. Hal ini juga telah disebutkan dalam Al-Qu’ran.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۟ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۟ كَذَ ۟ لِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". (Al-Araf : 32)

Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang perkara-perkara yang akan ditanyakan pada hari kiamat, beliau bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiramat sampai ia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” (HR. Tirmidzi).

Sebenarnya perilaku konsumtif ini sudah terjadi sejak lama di kalangan masyarakat kita. Mulai dari pakaian atau sepatu branded dengan harga yang tidak wajar, artificial figure, gawai dan aksesorisnya, hingga gonta-ganti mobil keluaran terbaru. Maka fenomena BTS meal ini menjadi pengingat untuk kita semua, bahwa ada baiknya untuk lebih bijak dalam menggunakan uang dan berbelanja. Tidak sekadar mengikuti trend di masyarakat agar dianggap lebih gaul atau hits. Malahan, kini sedang ramai juga memperbincangkan trend hidup minimalis loh! Dimana kita hanya membeli dan menggunakan uang seperlunya saja, sesuai kebutuhan. Gaya hidup minimalis juga bisa kita terapkan, mengingat masih dalam keadaan pandemi yang serba sulit ini.

Sekadar jadi reminder, jika salah satu dari kita teramat menyukai sesuatu termasuk mencintai seseorang yang inspiratif layaknya boygroup BTS, alangkah indahnya untuk tidak berlebihan hingga melebihi cinta kita pada Allah dan Rasul. Maka, Insya Allah kita tidak menjadi manusia merugi.

Aamiin.

Redaktur: Prita K. Pribadi