Mengenal Rasa Malu Sejak Dini, Pondasi Awal dalam Edukasi Seksual

Kita sering menemui seguhan konten yang “aneh-aneh” di media ini. Entah itu joget-joget, memamerkan aurat dan kemesraan dari pasangan yang bukan mahram, dan lain sebagainya yang zaman kini sangat mudah untuk dikatakan viral. Yap! Hal viral itu tak terjadi pada sesuatu yang positif-positifnya saja. Banyak juga sesuatu yang remeh, bahkan dinilai tak bermanfaat menjadi viral. Fenomena tersebut, menurutku semakin mengkhawatirkan, sebab memperlihatkan rasa malu seseorang yang semakin menurun. Sehingga akar masalah inilah yang harus diperbaiki.

Mengenal Rasa Malu Sejak Dini, Pondasi Awal dalam Edukasi Seksual
Edukasi seksual untuk anak dari orang tua. Sumber: id.theasianparent.com

Media sosial dewasa ini telah dipenuhi ragam hal. Lewat medium tersebut bisa ditemukan sesuatu yang menginspirasi, menarik, atau menghibur. Bahkan diri kita sendiri bisa bebas membagikan apa saja dalam rangka mengekspresikan sesuatu. Namun perlu disadari, bahwa di dunia ini tentu tak lepas dari dua sisi antara dampak positif dan negatif. Sama halnya dengan media sosial yang punya sisi itu.

Media sosial terkadang menjadi tempat persaingan tidak sehat terutama kalangan pemuda. Lewat vice.com kami melihat kasus nyata mengenai dampak buruk kesehatan mental anak muda akibat Instagram, dari laporan Wall Street Journal dalam kajian internal Facebook, Maret 2020. “Perempuan muda cenderung membandingkan diri sendiri dengan apa yang mereka lihat di Instagram.” Dokumen itu menyatakan, 32 persen responden dari demografi remaja perempuan tidak percaya diri akibat keseringan melihat influencer dan iklan di Instagram.

Selain itu, kita juga sering menemui seguhan konten yang “aneh-aneh” di media ini. Entah itu joget-joget, memamerkan aurat dan kemesraan dari pasangan yang bukan mahram, dan lain sebagainya yang zaman kini sangat mudah untuk dikatakan viral. Yap! Hal viral itu tak terjadi pada sesuatu yang positif-positifnya saja. Banyak juga sesuatu yang remeh, bahkan dinilai tak bermanfaat menjadi viral. Fenomena tersebut, menurutku semakin mengkhawatirkan, sebab memperlihatkan rasa malu seseorang yang semakin menurun. Sehingga akar masalah inilah yang harus diperbaiki.

اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Malu itu sebagian dari iman.” (HR. Muttafaq alaih).

Willis Purwanti Nusantara, seorang praktisi pendidikan sekaligus Founder dan Head Program Kidzmotion Learning Center di Jakarta ini mengatakan, hal dasar yang perlu ditanamkan adalah mengenalkan anak pada rasa malu di usia dini. Sebab hal itu akan menjadi pondasi yang sangat kuat di masa mendatang. Orang tua bisa mengajarkan hal ini pada usia 1 sampai 5 tahun, dimana anak baru bisa diajak komunikasi dua arah. 

“Berawal dari rasa malu, kita nantinya akan mudah untuk mengajari untuk menutup aurat. Sebab otomastis mereka akan memahami alasan mengapa harus menutup aurat dan tidak berlarian tanpa pakai baju," tuturnya saat diwawancarai oleh tim INJO pada Rabu (22/09) via WhatsApp.

Setelah hal itu tertanam dengan baik, orang tua mulai bisa menanamkan batasan yang lebih spesifik tentang bagian mana saja yang boleh terlihat atau tidak. Serta siapa saja yang boleh dan tidak boleh melihat apalagi memegang bagian tersebut. Semua ini bertujuan untuk mengedukasi anak perihal seksualitas sedari dini. Yakni pada laki-laki, batasnya mulai dari pusar hingga kedua lutut. Sedangkan perempuan, auratnya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

“Tidak boleh ada orang yang menyentuh area dada, perut ke bawah selain dirinya dan orang tuanya,” kata Willis tentang cara beliau menerapkan batas sentuh anak.

Namun tak dipungkiri pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang dan butuh kesabaran.  Wajar bila anak tak langsung menerapkannya dalam keseharian. Tapi perlu dicatat nih! Anak adalah peniru yang ulung. Melalui penghilatan dari perilaku sang orang tua dan orang dewasa di sekitarnya, anak mampu mengolah informasi tersebut dalam kepalanya. Hingga ia akan menerapkan saat waktunya tiba. Maka dari itu, ketika kita melihat anak bisa menjaga untuk tidak membiarkan orang lain menyentuh tubuhnya tanpa izin, walaupun mungkin belum berhasil pakai jilbab, itu juga merupakan proses. Bahwa ia memahami apa yang selama ini dicontohkan oleh lingkungannya.

Selanjutnya, seiring perkembangan bahasa yang dimiliki anak, kita secara berulang mengingatkan dengan memberi tahu siapa saja yang boleh memeluknya dan siapa yang tidak. Sama halnya dengan siapa saja yang boleh diberi salam dengan mencium tangan orang tersebut. Meskipun demikian, kita juga jangan sampai memaksa anak jika dirasa mereka tak nyaman untuk mencium tangan, terlebih di masa pandemi ini. Menghormati orang lain bisa dilakukan dengan cara yang lain selain salaman, mungkin bisa dengan menganggukkan kepala disertai senyuman.

Selain itu,  kita juga bisa mengajarkan tentang apa dan siapa itu mahram.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Telah diharamkan bagi kalian laki-laki (untuk dinikahi), yaitu: Ibu kandungmu, beberapa anak perempuan kandungmu, beberapa saudara perempuanmu, beberapa bibimu (jalur bapak), beberapa bibimu (jalur ibu), anak perempuan saudara lelaki dan saaudara perempuanmu(keponakan), ibu susuan, saudara perempuan susuan,….” (Q.S Annisa : 23).

Dalam penerapannya, untuk penjagaan dari hal-hal yang tidak diinginkan, kita sebagai orang tua perlu membatasi antara keponakan perempuan dengan pamannya (kandung) dengan batasan sewajarnya. Hanya boleh mencium tangan, ataupun terlihat rambutnya, dan tidak lebih dari itu. Sebab dalam berbagai peristiwa, sempat terjadi kasus pelecehan seksual oleh orang-orang terdekat yang terkadang tidak kita duga. Maka peran orang tua sangat penting agar hati-hati dan memproteksi anak.

Bahkan diharapkan orang tua serta keluarga inti menghormati sang anak. Entah itu ketika ingin mencium atau membersihkan area genital anak ketika mandi, yakni dengan meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Hal ini perlu diterapkan secara berulang dan penuh konsisten. Sehingga tatanan itu sampai pada dia bisa memproteksi diri sendiri. Orang tua juga harus terbiasa membangun komunikasi yang nyaman dengan anak, misalnya mengajarkan anak menyampaikan perasaan saat merasa tidak nyaman dipegang oleh orang tertentu. Memberi tahu bahwa anak punya berhak untuk menolak saat orang yang tak dikehendakinya menyentuh. “Ketika kita lihat anak tidak nyaman, kita bilang untuk menolak dan berkata tidak pada om dan tantenya, sehingga anak mampu untuk berkata tidak,” imbuh Wilis.

“Makanya saya juga sering bilang ke orang tua murid, ketika anak tidak suka dan menunjukan respon untuk tidak mau di-“toel” (dicolek dengan jari⎯ red), maka jangan dilakukan. Dia merasa tidak nyaman, jangan paksa. Ajarkan batasan-batasan itu,” tambahnya memberi pesan.

Soal menyoal edukasi seksual sedari dini masih ditemukan penolakan di masyarakat kita. Perasaan tabu datang dari orang dewasa yang mengira harus memberikan penjelasan yang amat jauh. Padahal anak hanya membutuhkan jawaban yang singkat dan masuk akal. Sebab sebenanya edukasi seksual yang diberikan pada anak dalam masa ini hanya sebatas mengenal organ dan mengajari batas siapa yang boleh serta tidak boleh melihat apalagi menyentuh organ tersebut.

Selain itu, anak juga perlu mengetahui bagian-bagian vital yang akan berkembang seiring usianya bertambah. Biasanya anak akan penasaran dengan perbedaan yang ada pada laki-laki dan perempuan, maka orang tua bisa menjelaskan bahwa yang membuat berbeda adalah anatomi tubuh tersebut.

Kata Wilis yang juga mendalami ilmu pendidikan anak berkebutuhan khusus, menyarankan kepada para orang tua untuk tidak mengumpamakan atau mengganti nama organ vital dengan sebutan lain. “Yang masih menyebutkan organ vital dengan nama-nama lucu hendaknya berusaha untuk berhenti demikian. Belajar menyebut dengan sewajarnya, vagina dan penis.”

Kunci keberhasilan dari semua hal di atas adalah konsistensi serta kesabaran ekstra orang tua serta keluarga inti dalam menajalani ini semua. Mendidik anak memang bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih dalam mendidik mereka menjadi anak-anak yang ber-akhlakul karimah.

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).

Yuk semangat para orang tua di luar sana untuk memberikan pendidikan kepada anak semaksimal mungkin! Jadi, bagaimana nih menurutmu soal rasa malu yang harus ditanamkan sedari dini?

Redaktur: Prita K. Pribadi