Menjadi Kaya ala Robert Kiyosaki: Kenali Aset dan Liabilitas

Sudah terlalu banyak orang yang mengalami pergumulan finansial, sampai-sampai menghalalkan cara yang diharamkan agar terlepas dari masalah tersebut. Rendahnya keingintahuan agar terlepas dari pergumulan finansial itu kerap membuatnya semakin memburuk. Lantas, bagaimana caranya agar terlepas dari masalah tersebut?

Menjadi Kaya ala Robert Kiyosaki: Kenali Aset dan Liabilitas
Ilustrasi Pergumulan Finansial (Sumber: pojoksatu.id)

Penghasilan yang melulu terasa kurang menuntut sebagian orang untuk berutang. Mengandalkan gaji bulan depan yang (mungkin) lagi-lagi akan terasa kurang. Mengerikannya, apakah kamu bisa menjanjikan bahwa umur kamu masih ada sampai bulan depan? Sebagai umat islam, kita perlu sadar bahwa utang ini adalah masalah yang cukup berat. Berdasarkan dalil di bawah ini:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Artinya: Semua dosa orang mati syahid akan diampuni, kecuali utang. (HR. Muslim)

Ketika seseorang mati sekalipun dalam keadaan syahid, dosa utangnya yang belum dibayar tidak akan diampuni sampai ada seseorang yang melunasinya, dalam hal ini ahli waris orang tersebut.

Bahkan terkadang mendatangi layanan pinjaman dijadikan opsi utama. Padahal perlu diketahui, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa, bahwasanya layanan pinjaman, baik offline maupun online mengandung riba, meskipun dilakukan atas dasar kerelaan.

Bila kita lihat permasalahan pinjam meminjam uang ini, sepertinya ada yang salah dalam pengelolaan keuangan. Entah orang itu memang kondisi finansialnya memang lemah, yakni penghasilan pas-pasan dan tak bisa menyisihkan sedikit untuk ditabung, atau memang gaya hidup yang berstandar tinggi membuat orang itu susah payah untuk memenuhi “kebutuhannya”. Intinya, kedua alasan tersebut akan cenderung membawa orang itu kepada masalah, yaitu pergumulan finansial. Jadi, bagaimana solusinya agar tidak tersandung masalah tersebut?

 

(Sumber : https://twitter.com/theRealKiyosaki)

Robert T. Kiyosaki, seorang entrepreneur yang telah menulis buku bestselling-nya yang berjudul Rich Dad, Poor Dad. Secara garis besar, beliau menjelaskan cara-cara agar setiap orang bisa lolos dari pergumulan finansial. Bahkan dalam bukunya tersebut, ia memaparkan rahasia-rahasia yang bisa membuat semua orang menjadi kaya. Tentunya, bila ada kemauan untuk belajar.

Kiyosaki memiliki cara-cara untuk membuat kita bisa menjadi orang kaya. Di dalam bukunya itu tidak dibahas mengenai jumlah uang standar yang dimiliki orang kaya. Alih-alih membeberkan jumlah uang, Kiyosaki justru memberi nasihat kepada para pembacanya untuk meningkatkan inteligensi finansial mereka.

Bagaimana caranya? Sebelum beranjak lebih jauh, kita harus mampu membedakan antara aset dan liabilitas. Sederhananya, aset adalah uang yang masuk ke dalam saku kita, sementara liabilitas adalah uang yang keluar dari saku kita. Kiyosaki memberi perbandingan dalam bukunya yaitu, “Orang kaya membeli aset. Orang miskin hanya mempunyai pengeluaran. Orang menengah membeli liabilitas yang mereka pikir adalah aset.”

Mari kita telaah pelan-pelan agar lebih mudah membedakan. Sebut saja tentang “rumah”, apakah rumah adalah aset atau investasi? Tidak keduanya, rumah adalah liabilitas jika kita jadikan sebagai tempat tinggal. Karena seketika kita membeli rumah itu, pasti akan ada tagihan-tagihan, seperti listrik, penggunaan air, dan Pajak Bumi dan Bangunan. Banyak bukan uang yang harus kita keluarkan?

Meski begitu, bisakah menjadikan rumah sebagai aset? Tentu bisa! Salah satu opsinya adalah jika kita menyewakan rumah tersebut. Karena pasti kita akan mendapatkan pemasukan lewat sewa rumah tersebut, bukan?

Setelah membedakan aset dan liabilitas, selanjutnya adalah meningkatkan kecerdasan finansial. Beberapa cara dipaparkan oleh Kiyosaki di dalam bukunya, antara lain:

1. Mempelajari Dasar-Dasar Akuntansi

Dasar yang dimaksudkan disini adalah bisa membaca laporan keuangan dan angka-angka, termasuk detail yang ada dalam laporan keuangan tersebut. Jadi, penting untuk kamu memahami lajur keuangan agar tidak mudah “kecolongan”.

2. Mengerti Seluk-Beluk Investasi

Investasi adalah kegiatan menyimpan dana untuk memperoleh keuntungan. Tanpa kita hadir di perusahaan tempat kita menginvestasikan uang tersebut, keuntungan akan masuk ke dalam saku kita. Seperti perspektif dari Kiyosaki “Buatlah uang bekerja untuk anda, maka anda akan kaya raya”. Ini adalah langkah kedua untuk menjadi kaya.

Eits, Pastikan juga ya kita memilih investasi syariah, artinya investasi yang produk usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah (tidak mengandung riba, gharar, dharar, maisyir, ataupun produk usaha yang non halal). Maka sangat perlu kamu mempelajari seluk-beluk investasi agar tak terjebak dengan tawaran return yang tinggi, namun ternyata beresiko besar dan melanggar prinsip-prinsip syariah.

3. Mengerti Keadaan atau Tren Pasar

Apa sih yang dibutuhkan atau diinginkan oleh masyarakat sekarang? Kemudahan memahami trend saat ini dapat dirasakan oleh semua orang yang memiliki akun dan aktif di media sosial. Kamu juga dapat memanfaatkannya untuk mengetahui trend pasar. Sebagai contoh sebuah dessert box dengan cara pemasaran yang bagus dan rasa yang terkenal enak, akan menarik perhatian banyak orang. Jika permintaan meningkat, maka tren akan terbentuk. Setelahnya, mungkin akan ada beberapa orang yang mencoba membuat dessert box semisal itu dengan variasi yang berbeda, terutama biasanya soal harga yang lebih murah.

Meski tips di atas seakan mengarahkan kita untuk memiliki usaha sendiri, namun Kiyosaki sebenarnya tidak mendorong siapapun untuk mulai membuka usaha besar. Kecuali orang itu sungguh-sungguh ingin menjalankan usaha tersebut. Menjadi karyawan pun tak masalah. Bahkan ia mengatakan, "Teruskanlah kerja harian anda, tetapi mulailah membeli aset-aset riil, bukan liabilitas atau harta benda pribadi yang tidak mempunyai nilai riil ketika anda sudah memilikinya di rumah.” Aset riil yang dimaksud oleh Kiyosaki adalah sebagai berikut:

  1. Bisnis yang tidak menuntut kehadiran pemiliknya. Alih-alih pemiliknya, bisnis itu dijalankan oleh beberapa orang yang dipekerjakan.
  2. Saham (pastikan produk dari saham itu adalah produk yang halal, dan tidak bertentangan dengan prinsip syariah)
  3. Real estat atau kontrakan
  4. Royalti atas kekayaan intelektual, misalnya dari penjualan buku.
  5. Obligasi, dalam hal ini yang diperbolehkan dalam islam adalah sukuk, atau surat berharga berupa sertifikat hak milik atas aset yang bewujud benda, nilai manfaat, dan jasa.

Apapun aset yang kamu miliki, pastikan aset itu terhindar dari unsur keharaman seperti gharar (ketidakjelasan), maisyir (judi), dharar (merugikan orang lain), dan riba (penambahan nilai di luar kesepakatan awal).

Inti dari penjelasan di atas adalah dengan kita meningkatkan kecerdasan finansial dan menerapkannya, kita akan terlepas dari pergumulan finansial. Dengan menggunakan segenap keberanian dan manajemen risiko yang ada dalam diri kita, bukan tidak mungkin masing-masing diri kita menjadi orang yang kaya.

Perlu ditekankan juga, hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah semata, dan mencari nafkah di dunia ini hanyalah untuk memperlancar ibadah kita agar tidak dihambat oleh masalah duniawi. Jika sampai kebutuhan pokok tak terpenuhi, bahkan sampai terlilit hutang, akan mengganggu ibadah bukan? Pun jika kita menjadi kaya, kesempatan kita untuk bersedekah akan menjadi lebih besar.

Sepatah nasihat lagi di akhir pembelajaran Kiyosaki, “Untuk menjadi sungguh-sungguh kaya, kita harus mampu untuk memberi dan sekaligus menerima.” Ia juga mengatakan, “Memberi uang adalah rahasia bagi kebanyakan keluarga yang sangat kaya.”

Sesuai dengan firman Allah dalam hadis qudsi

أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Artinya: Berinfaklah, niscahya Aku berinfak padamu. [HR. Bukhori]

Sebagai muslim, sudah sepatutnya kita meyakini mengenai dalil Allah yang menyatakan bahwa sedekah yang kita keluarkan akan diganti oleh Allah. Jadi, ingin menjadi kaya jangan sampai menahanmu dalam berinfak dan bersedekah ya!

Redaktur : Dyah Ayu N. Aisyiah